Disbudpar Gelar Lomba Mendongeng Bahasa Jawa

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman akan menggelar Lomba Mendongeng Bahasa Jawa yang diperuntukkan bagi guru PAUD/TK/SD/MI dan siswa SD/MI pada hari Sabtu-Minggu 29-30 Oktober 2016 di Museum Gunungapi Merapi (MGM) Jl. Boyong Pakem Sleman. Demikian disampaikan Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Jumat (7/10).

Ayu menambahkan bahwa Lomba Mendongeng Bahasa Jawa tersebut dimaksudkan sebagai salah satu wahana untuk melestarikan dan menumbuhkembangkan kembali Bahasa dan Sastra Jawa yang pada saat ini dirasa kurang diminati dan kurang diperhatikan. Padahal Bahasa dan Sastra Jawa memiliki peran yang penting untuk menginternalisasikan pola sikap, pola perilaku dan nilai-nilai budaya “ketimuran” yang mengedepankan pada sikap sopan santun dan unggah ungguh yang bermartabat.

“Diharapkan melalui Lomba Mendongeng Bahasa Jawa ini kedepan masyarakat khususnya dikalangan pendidikan dasar dapat lebih memiliki sikap “handarbeni” terhadap kekayaan yang tak ternilai harganya, untuk kemudian meningkatkan kesadaran dalam melestarikan dan memanfaatkan Bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari,” kata Ayu.

Diharapkan pula mendongeng bahasa Jawa tidak hanya sebatas dilaksanakan untuk mengikuti lomba semata akan tetapi budaya mendongeng lebih dapat menjadi kebiasaan dalam tataran keluarga untuk memberikan keteladanan kepada anak-anak.

Bahkan diera sekarang ini pembelajaran bahasa dan budaya Jawa dapat dikembangkan melalui sarana tehnologi informasi sehingga lebih mudah untuk mendekatkan kepada komunitas anak dan siswa khususnya siswa SD/MI. Sehingga hal-hal tersebut akan turut memberikan kontribusi nyata untuk merealisasikan dan memperkuat keistimewaan DIY.

Pendaftaran peserta dibuka hingga 21 Oktober 2016 di kantor Disbudpar  Sleman. Lomba akan dilaksanakan pada Sabtu 29 Oktober 2016 pukul WIB untuk kategori siswa SD/MI dan Minggu 30 Oktober 2016 pukul  WIB untuk kategori Guru PAUD/TK/SD/MI di Jogja Bay Waterpark Depok Sleman.

Adapun ketentuan lomba kategori siswa SD/MI adalah  peserta merupakan pelajar SD/MI se-KabupatenSleman, setiap sekolah hanya mengirimkan maksimal 2 orang peserta dengan 1  guru pendamping, materi dongeng bebas dengan tema binatang (fabel), naskah dikumpulkan saat mendaftar atau dapat dikirim via email ke disbudparsleman@, durasi mendongeng selama 10 menit.

Sedangkan untuk kategori guru PAUD/TK/SD/MI dengan ketentuan berasal dari guru  PAUD/TK/SD/MI di Kabupaten Sleman, setiap sekolah hanya boleh mengirimkan 1 orang peserta, tiap peserta menyerahkan 1  karya dongeng dengan tema “Upacara Adat dan Tradisi Budaya di Kabupaten Sleman”, naskah merupakan karya sendiri (asli) yang belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.

Dan, naskah tidak mengandung unsur SARA, naskah diserahkan kepada panitia saat pendaftaran atau dikirim via email ke disbudparsleman@, naskah yang dilombakan menjadi milik panitia dan panitia berhak mempublikasikan kedalam bentuk apapun sesuai dengan program pendidikan dan kebudayaan, alokasi waktu mendongeng 10 menit.

Aspek yang dinilai untuk kedua kategori tersebut meliputi penampilan, kesesuaian tema, ide/ gagasan, teknik mendongeng dan kreativitas. Hadiah diberikan kepada 5 pemenang dimasing-masing kategori berupa tropy, sertifikat dan uang pembinaan.




Disbudpar Apresiasi Masyarakat Yang Pertahankan Tradisi

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat Sleman yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat masyarakat setempat.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat masyarakat setempat. Hal ini tentunya menggambarkan kontribusi positif dan partisipasi aktif masyarakat dalam upaya melestarikan seni budaya lokal serta turut memperkuat jati diri masyarakat dalam konteks keistimewaan DIY,” kata Sekretaris Disbudpar Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA dikantornya, Jumat (2/9).

Menurut Endah, masyarakat di Sleman banyak memiliki tradisi yang sangat menarik untuk terus dilestarikan. Beberapa tradisi itu antara lain selain pentas seni juga ada tradisi Merti Dusun atau Merti Desa. Beberapa Dusun di Sleman sudah memiliki agenda Merti Dusun sehingga agenda tersebut bisa menarik wisatawan.

Seperti yang sedang berlangsung sekarang ini di Dusun  Tlacap – Grojogan Pandowoharjo Sleman yaitu  Merti Dusun selama sepekan lebih mulai 1 – 10 September 2016 di dusun setempat.

Dalam acara merti dusun ini segenap potensi yang ada ditampilkan, mulai dari kesenian rakyat, kesenian tradisional, aneka lomba, karawitan, pentas dolanan anak, upacara adat “Tedun”, upacara adat “Wiwit”, bahkan ada juga pemilihan Dimas Diajeng Desa Pandowoharjo serta pagelaran wayang kulit oleh dalang Bayu Sugati.

Demikian seperti diungkapkan oleh Ketua Panitia Merti Dusun Tlacap – Grojogan, Aditya Nur Salandri dikantor Disbudpar Sleman. Aditya menambahkan bahwa rangkaian kegiatan acara tersebut sudah dimulai sejak Kamis, 1 September 2016  berupa doa bersama dan tabur bunga sebagai kegiatan pembuka.

Sedangkan mulai Sabtu 3 September 2016 pukul WIB berupa Kirab Merti Dusun dan pembukaan acara serta pertunjukan kesenian rakyat Topeng Ireng Cahaya Rimba, Minggu 4 September 2016 pukul WIB Lomba Mewarnai Tingkat Anak di SDN Tlacap.

Kemudian pukul  WIB di Persawahan Timur Dusun berupa Upacara Adat “Tedun” dilanjutkan pada pukul WIB dengan pertunjukan jathilan Sureng Logo Toino.

Hari Selasa 6 September 2016 pukul WIB pertunjukan jathilan – reog Turonggo Seto Manding, Rabu 7 September 2016 pukul WIB penanaman pohon penghijauan, Kamis 8 September 2016 pukul WIB penyuluhan pertanian, Jumat 9 September 2016 pukul WIB di panggung utama berupa Konser Karawitan Sanggar Sasi Kirana dan Pemilihan Dimas Diajeng Desa Pandowoharjo

Sedangkan Sabtu 10 September 2016 pukul WIB merupakan malam puncak kesenian dengan berbagai atraksi yaitu pentas dolanan anak, pertunjukan tari Sanggar Putri Budaya Asri, pertunjukan kesenian Bregada Mego Ngampak, pementasan Ogoh-ogoh Sureng Logo, pentas kolaborasi antara wayang kulit, tarian api, kethoprak, bregada, ogoh-ogoh, dolanan anak yang dikemas oleh Dalang Ki Bayu Sugati dengan tajuk “Tlacap Sumunar”.




Satu Abad Kabupaten Sleman, Disbudpar Gelar Seni Ogoh – Ogoh

DSC_5491BernasSleman – Dalam rangka untuk menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke 100 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman akan menghelat gelar seni ogoh-ogoh dengan tema “Fantasi Flora Fauna Hutan Salimar”, Selasa (8/3). 

Kirab ogoh-ogoh ini akan diikuti oleh 20 komunitas dan akan dimulai pada pukul WIB dari kompleks Pasar Kutu Tegal Sinduadi Mlati menuju Jl. AM Sangaji di sekitar RS Sakina Idaman sepanjang 1,5 kilometer. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Selasa (1/3).

Dijelaskan Ayu  bahwa penyelenggaraan gelar seni ogoh-ogoh yang kedua kalinya tersebut selain untuk menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke 100 juga dimaksudkan untuk memberikan suguhan event budaya kepada wisatawan yang berkunjung ke DIY khususnya Sleman.

Diharapkan event ini dapat menjadi daya tarik yang bisa ditawarkan kepada para tamu hotel oleh pihak travel agent yang membawa tamu ke DIY maupun masyarakat umum.

“Selain melakukan kirab di jalur selokan Mataram dan Jl. AM Sangaji antara kompleks Pasar Kutu Tegal dan RS Sakina Idaman, semua peserta kirab juga melakukan display di perempatan Jalan Baru UGM,” katanya.

Adapun penampilan kirab ogoh ogoh tersebut diikuti oleh 20 komunitas yang terdiri atas 15 komunitas masyarakat dan 5 komunitas tematik. Ke 15 komunitas masyarakat tersebut yaitu dari Margoagung Seyegan, Sumbersari Moyudan, Sanggar Sakura Mlati, Glagaharjo Cangkringan, Umbulmartani Ngemplak, Wonokerto Turi, Hargobinangun Pakem, Purwobinangun Pakem, Ambarketawang Gamping, Donokerto Turi, Blendangan Berbah, serta 5 ogoh – ogoh ritual bertemakan “Sedulur papat limo pancer”.

Diantara ogoh-ogoh flora fauna yang ditampilkan diantaranya meliputi Hutan Bambu, Salak, Rusa, Ganesha, Kuda, Lembu, Raksasa, Kera, Lembu Sura, Sapi, dan lainnya.




Disbudpar Lirik Wisata Minapadi di Seyegan

Pengunjung Memberi MakanSleman – Meski baru saja dikembangkan di Sleman, sektor pertanian minapadi mulai dilirik oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman untuk dijadikan destinasi wisata baru di Sleman.

“Metode pertanian minapadi di wilayah Seyegan ini memiliki potensi untuk dikembangkan dalam bidang pariwisata,” kata Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Senin (4/1).

Ada unsur rekreatif dan dikembangkan potensi wisata terapi dari keberadaan pertanian mina padi itu. Namun perlu pendukung lain seperti penyediaan fasilitas gazebo dan olahan kuliner ikan yang‬ dibudidayakan.‬

Ayu juga mengatakan metode pertanian yang menggabungkan cocok tanam padi dengan budidaya ikan itu belum banyak ditemui di daerah lain. Dengan demikian, minapadi dinilai dapat menarik minat wisata di Kabupaten Sleman.

“Potensi minapadi sebagai lokasi wisata sangat besar. Sebab budidaya ikan serta padi cukup jarang ditemui, sehingga masyarakat cukup antusias melihat sistem bercocoktanam ini,” tutur Ayu.

Menurut Ayu  ketika masyarakat mengunjungi minapadi, akan mendapatkan pemandangan hamparan sawah dan gerombolan ikan yang berenang di antara tanaman padi. Dengan demikian, wisata ini dinilai ampuh untuk dijadikan rujukan untuk melepas stres setelah disibukkan dengan rutinitas kerja setiap hari.

Selain itu, minapadi juga dapat menjadi wisata edukasi bagi anak-anak sekolah  agar lebih dekat dengan profesi petani.

“Melihat sawah dan memberikan makan ikan ini bisa jadi penghilang stres. Tanpa menganggu lahan budidaya, perlu juga ada pelibatan petani yang berinteraksi dengan pengunjung untuk edukasi,” papar Ayu.

Sementara menurut Ketua Kelompok Tani Murakabi Cibuk Kidul yang menerapkan minapadi, Sigit, hasil panen meningkat dengan sistem minapadi. Pada pertanian padi biasa, ia mampu menghasilkan gabah kering sebanyak 7 kuintal/hektar. Namun dengan minapadi,  panen padi mencapai 9,3 kuintal/hektar. Untuk ikan sekali panen 5,4 kuintal nila/1000 meter persegi.‬

‪”Panen padi meningkat. Ada panen ikan juga yang bisa dijual,” kata Sigit yang telah menerapkan minapadi sejak 2011 itu.‬

‪Dia menuturkan penebaran ikan harus dilakukan pada waktu yang benar-benar ideal yakni setelah tangkai padi cukup kuat dan besar pada usia 17 sampai 20 hari. Jika lahannya diberi air dan ikan saat usia padi masih sangat muda, padi bisa terserang hama. Dicontohkan saat dikejar waktu proyek ujicoba dari FAO, penebaran ikan saat padi usia 10 hari, akibatnya ada serangan hama keong. Namun kini sudah dapat diatasi.‬




Disbudpar Ajak 160 Siswa SMA-SMK Kunjungi Museum

Kunjungan ke Museum GempaSleman – Dalam rangka untuk mengimplementasikan program nasional “Gerakan Nasional Cinta Museum 2010-2015”, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mengajak 160 siswa dan 40 guru pendamping dari 40 sekolah SMA dan SMK se Kabupaten Sleman mengunjungi beberapa museum.

“Kunjungan tersebut dibagi dalam 2  kunjungan, yakni Selasa dan Rabu, 29-30 September 2015 kemarin,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM dikantornya, Kamis (1/10).

Adapun museum yang dikunjungi adalah Museum UGM, Museum Pendidikan Indonesia (MPI), Museum Dirgantara Mandala, Museum Gempa Prof Dr Sarwidi dan Museum Gunungapi Merapi (MGM).

Dikatakan Ayu bahwa program tersebut untuk mengimplementasikan “Gerakan Nasional Cinta Museum 2010-2015” yang telah dicanangkan pada tahun 2010 di Kabupaten Gianyar Bali.

Melalui kunjungan tersebut diharapkan para siswa akan dapat mengambil manfaat secara optimal fungsi museum. Bahwa museum bukan hanya sekedar koleksi benda semata, namun untuk memberikan penyadaran bahwa museum memiliki nilai-nilai keutamaan yang patut diserap oleh para siswa sebagai generasi muda bangsa.

Selain itu diharapkan akan dapat menanamkan mindset bahwa museum sebagai wahana belajar sekaligus berwisata. Bahwa setelah mengunjungi museum para siswa akan terhibur sekaligus dapat memetik khikmah pelajaran yang terkandung didalamnya.

“Yang diharapkan akan menumbuhkan proses internalisasi nilai-nilai keutamaan yang diperoleh dari kunjungan ke museum, para siswa juga diwajibkan untuk menulis karya tulisan dalam bentuk essay. Karya tersebut nantinya akan dinilai dan diambil para pemenangnya,” tambah Ayu.