Disbudpar Bangun Spot Ikonik Untuk Dongkrak Popularitas Desa Wisata
Sleman – Minat kunjungan ke desa wisata saat ini mulai meningkat. Melihat hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman berupaya mendongkrak popularitas desa wisata di Sleman dengan membangun spot ikonik untuk swafoto atau “selfie” secara khusus.
”Saat ini trend swafoto di lokasi wisata banyak dilakukan masyarakat atau wisatawan, karena itu kami manfaatkan dengan membuat spot swafoto ikonik di desa wisata,” kata Dra Endah Sri Widiastuti MPA, Sekretaris Disbudpar Kabupaten Sleman, Senin (21/11).
Menurut Endah, ada tiga lokasi desa wisata yang dibangun untuk permulaan spot ikonik yaitu di Desa Wisata Gamplong, Kecamatan Moyudan, Desa Wisata Pentingsari di Cangkringan, dan Desa Wisata Kelor di Turi bersama pengelola.
”Fasilitas `photo booth` untuk penggemar swafoto ini dibuat dengan menonjolkan karakter desa wisata setempat sehingga bisa mewakili potensi wisata yang ditawarkan. Nantinya, semua desa wisata juga bisa memunculkan langkah serupa sehingga lebih banyak daya tarik untuk wisatawan,” kata Endah.
Upaya ini lanjut Endah juga menjadi bagian cara untuk meningkatkan angka kunjungan ke desa wisata yang selama ini terhitung masih kecil dibandingkan dengan objek wisata lain.
Pada 2015, total kunjungan wisatawan ke 30 desa wisata di Sleman tercatat sekitar pengunjung yang terdiri dari wisatawan nusantara sebanyak orang dan wisatawan mancanegara tercatat orang.
”Namun kami tetap optimistis, karena jumlah tersebut mengalami trend peningkatan tiap tahun. Pada 2011, pengunjung hanya sekitar 145 ribu orang lalu meningkat jadi 149 ribu pada 2013. Pada 2014, jumlahnya kembali meningkat jadi orang wisatawan,” katanya.
Endah mengatakan desa wisata paling ramai kunjungan selama 2015 adalah Pulesari sebanyak wisatawan, Blue Lagoon wisatawan, Pentingsari wisatawan, Rumah Dome wisatawan, dan Srowulan wisatawan.
”Desa wisata lain angka kunjungannya masih tertahan di angka sekitar hingga wisatawan. Secara umum, sebagian desa wisata di Sleman sudah dikunjungi wisatawan asing meski masih minim. Wisatawan mancanegara memang belum jadi target utama desa wisata,” tutur Endah.
Selain pembuatan spot ikonik, Disbudpar juga berupaya mendorong pengelola desa wisata untuk membuat paket-paket wisata dan atraksi yang menarik sesuai minat wisatawan.
”Kami juga terus memotivasi pengelola desa untuk melakukan promosi `online` dan bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk industri perhotelan,” katanya.
Hasil inventarisasi dari Disbudpar Kabupaten Sleman, pada 2016 ini tercatat ada 39 desa wisata. Sebanyak 14 desa di antaranya terklasifikasi tumbuh, delapan desa klasifikasi berkembang, dan sembilan desa klasifikasi mandiri. Delapan desa wisata lain tercatat mati suri.