DPPK Sleman Sebar Buku Panduan Penyembelihan Kurban‬

Sleman – Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat umum, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam hal ini Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman  membagikan buku tentang cara penyembelihan hewan kurban.‬

‪Buku itu dibagikan ke seluruh kecamatan, dan takmir masjid. Di dalamnya dijelaskan mengenai tata cara pemotongan hewan kurban sesuai ketentuan syar’i.‬

‪“Dalam setiap materi sosialisasi, kami selalu tekankan bahwa penyembelihan kurban bukan sekedar pemotongan biasa. Hewan kurban memiliki nilai yang lebih dan utama karena terkait dengan ibadah keagamaan,” kata Kepala DP2K Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, Jumat (9/9).‬

‪Selain cara penyembelihan yang baik dan benar, pihaknya juga memberikan sosialisasi tentang penanganan limbah. Misalnya himbauan agar tidak membuang isi rumen atau jerohan langsung di sungai atau selokan karena bisa mencemari lingkungan.‬

‪Widi menegaskan, ketersediaan pangan hewani harus memenuhi prinsip aman, sehat, utuh, dan halal. Upaya itu merupakan manifestasi dari salah satu sasaran pembangunan di bidang keamanan pangan.‬

‪Untuk mewujudkan prinsip keamanan pangan tersebut, pada perayaan Idul Adha 2016 ini dinas menerjunkan 250 petugas monitoring pemotongan hewan. Tim terdiri dari pegawai DPPK, THL, kader kesehatan hewan, dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM.‬

‪Sasaran lokasi pemantauan pemotongan hewan kurban tersebar di sejumlah lingkungan masjid atau mushala, dan tempat lain yang digunakan untuk pemotongan hewan kurban.

“Kami juga melayani permohonan dari panitia kurban yang menginginkan pemantauan saat pemotongan kurban. Bisa langsung menghubungi petugas kami,” kata Widi.‬

‪Widi mengungkapkan, dari hasil monitoring selama ini masih dijumpai beberapa masalah terkait higienitas. Contohnya menangani daging sambil merokok, belum mengenakan masker, menggunakan daun untuk alas, dan memakai tas kresek untuk membagikan daging.

Lewat pembagian buku dan sosialisasi diharapkan masyarakat bisa melakukan penanganan daging kurban secara aman dan higienis.‬ Sementara ketersediaan ternak di Kabupaten Sleman tahun 2016, sapi sebanyak ekor, kambing ekor dan domba ekor.




DPPK Sleman Akan Remajakan Kopi Lereng Merapi

Sleman – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman  akan meremajakan tanaman kopi di lereng Gunung Merapi yang sudah tidak produktif.

“Peremajaan ini untuk meningkatkan jumlah produksi maupun kualitas biji kopi, terutama di kawasan lereng Merapi,” kata Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan DPPK Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto di Sleman, Kamis (21/5).

Menurut dia, pihaknya akan membantu petani kopi di lereng Merapi untuk menambah populasi tanamannya, dengan melakukan regenerasi tanaman yang sudah tua.

“Regenerasi akan dilakukan pada November mendatang, menyesuaikan kondisi cuaca, agar tanaman yang baru bisa hidup dengan baik. November awal atau mendekati musim hujan. Jadi akan lebih mudah tumbuh,” katanya.

Ia mengatakan regenerasi tanaman kopi yang akan dilakukan nantinya tersebar di lahan lereng Merapi, di antaranya di Dusun Tritis dan Ngandong, Desa Girikerto, Kecamatan Turi.

“Kemudian Kaliurang timur, Hargobinangun, Kecamatan Pakem. Dusun Pentingsari dan Kedungsriti di Desa Umbulharjo, Cangkringan. Serta di Dusun Glagah, Ngancar, Besalen di Desa Glagaharjo, Cangkringan,” katanya.

Rofiq mengatakan secara keseluruhan lahan tanaman kopi yang sudah tidak produktif dan akan diregenerasi tersebut seluas 50 hektare.

“Nantinya akan disediakan sebanyak 50 ribu stek tanaman baru. Budi daya menggunakan stek, setiap satu hektarenya disediakan seribu stek tanaman baru,” katanya.

Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur yang menjadi wadah petani kopi di Sleman, Sumijo mengatakan tanaman kopi di lereng Merapi berjenis arabika dan robusta.

“Kondisi tanaman kopi di lereng Merapi saat ini memang banyak yang perlu diperbarui,” katanya.

Menurut dia, untuk kopi arabika produktif bisa sampai antara 10 hingga 25 tahun. Sementara, robusta sampai 50 tahun.

“Yang tidak terkena erupsi Merapi memang ada yang mulai harus diregenerasi. Sementara yang terkena erupsi pada 2010, usianya malah lebih dari itu. Sudah diregenerasi dengan tanaman baru sejak 2012,” katanya.

Ia mengatakan penambahan populasi tanaman kopi di lahan bekas terkena awan panas Merapi juga terus dilakukan. Rencananya pada akhir 2015 hingga awal 2016 kembali menanam sebanyak 10 ribu bibit baru.

“Nantinya disebar di lahan di Kecamatan Cangkringan, untuk lahan sekitar sepuluh hektare,” katanya.***




DPPK Sleman Siapkan Rp1 Miliar Untuk Atasi Kekeringan

Sleman – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman siap menyalurkan bantuan senilai Rp1 miliar bagi kelompok tani untuk perbaikan saluran irigasi dan antisipasi kekeringan pada musim kemarau mendatang.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman Edy Sriharmanto, di kantornya, Jumat (20/6), mengatakan, musim kemarau tahun ini pihaknya mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk disalurkan ke kelompok tani, total sebesar Rp1 miliar.

“Bantuan ini khusus untuk perbaikan irigasi dan ancaman kekeringan lahan pertanian. Kami akan salurkan kepada 40 kelompok tani, dan setiap kelompoknya menerima Rp25 juta,” kata Edy.

Menurut Edy, pihaknya juga memberikan bantuan sebanyak seratus unit pompa air untuk membantu mengairi sawah dengan mengambil air dari sumber terdekat.

Diharapkan dengan adanya bantuan itu, bisa meminimalkan gagal panen tanaman petani pada musim kemarau ini. Tahun lalu sekitar 60 hektare mengalami gagal panen, namun tahun ini semoga bisa diminimalkan.