Sardonoharjo Sedang Bangun Sarana dan Prasarana Transportasi

Ngaglik – Meskipun pembangunan di segala bidang sudah dijalankan secara bertahap, karena terbatasnya anggaran, maka dalam pelaksanaan pembangunan juga memakai skala prioritas karena luasnya wilayah garapan dalam membangun desa.

Kepala Desa Sardonoharjo Herjuno Wiwoho, SE menyampaikan bahwa pembangunan bidang kesejahteraan yang dilaksanakan Seksi Kesejahteraan antara lain sedang membangun bidang sarana dan prasarana transportasi khususnya pembangunan jalan, membuat talut jalan, drainase, sebagian pengerasan jalan, cor blok dan pembuatan konblok jalan.

Pembangunan ini dilaksanakan pada Minggu (22/10) di wilayah Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik. Pelaksanaanya melibatkan masyarakat dusun-dusun setempat dengan harapan masyarakat merasa memiliki atau handarbeni sehingga ikut serta memelihara sarana dan prasarana yang telah dibangun.

Pembangunan ini juga merupakan hasil kesepakatan wilayah setempat, untuk itu Kepala Dusun dan seluruh tokoh masyarakat ikut berpartisipasi dalam pembangunan ini sehingga masyarakat akan menikmati hasil pembangunan yang diperjuangkan. (Suripto)




Sleman Akan Tertibkan Penutupan Drainase Oleh Warga

Sleman – Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Sleman akan menertibkan penutupan drainase atau saluran air hujan yang dilakukan warga.

“Penutupan drainase yang banyak dilakukan warga menghambat kelancaran pembuangan air saat turun hujan sehingga banyak yang mengakibatkan terjadinya genangan,” kata Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman, Ir Jenu Santosa, Senin (26/10).

Menurut Jenu, penutupan drainase juga menyulitkan dalam pemeliharaan, khususnya jika terjadi pendangkalan atau tersumbat akan sulit untuk membersihkannya. Sebenarnya lanjut Jenu, masyarakat yang hendak melakukan penutupan drainase maupun saluran irigasi harus mengajukan izin terlebih dahulu ke DPUP.

“Kalau mengajukan izin lebih dulu maka kami bisa mengarahkan, bagaimana menutup drainase yang benar. Misalnya untuk jarak berapa meter harus diberi pintu kontrol untuk memudahkan pemeliharaan drainase,” katanya.

Ia menambahkan, saat ini banyak warga yang menutup total saluran drainasi tanpa ada pintu kontrol, bahkan ada yang tidak memberi lubang akses masuknya air dari limpahan hujan.

“Ada yang menutup sampai panjangnya puluhan meter, baik yang kemudian dimanfaatkan untuk dasaran berjualan atau yang hanya sekadar untuk akses kendaraan,” tutur Jenu.

Jenu mengatakan, ke depan pihaknya akan melakukan penertiban terhadap pentupan drainase ini agar dapat berguna sesuai fungsinya.

“Jika penutupan sudah berdampak menjadikan genangan air dan banjir, maka kemungkinan besar akan kami bongkar agar air bisa kembali lancar,” tambahnya.

Diakui Jenu, pihaknya juga telah mengidentifikasi sejumlah titik yang rawan genangan pada musim hujan. Diantaranya ruas Jalan Jambon, dan Seturan.

“Upaya penanganannya, tim telah melakukan perbaikan. Di wilayah Jambon, drainase sepanjang 125 meter telah selesai ditangani hingga menembus Sungai Winongo. Diharapkan, pekerjaan ini bisa selesai pada tahun 2016 dengan target 800 meter,” katanya.

Sedang Kepala Seksi Drainase Bidang Permukiman, DPUP Sleman Zaini Anwar mengimbau masyarakat ikut membersihkan saluran air di lingkungannya secara berkala. Jika tidak diantisipasi, luapan air dapat mengganggu aktivitas warga.

“Jika ada saluran yang tersumbat gulma, warga bisa melapor ke DPUP. Nantinya, petugas akan terjun untuk melakukan pembersihan,” katanya.




BPBD Sleman Menghimbau Masyarakat Bersihkan Drainase

Sleman – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono SH menghimbau masyarakat untuk bergotong royong membersihkan saluran air hujan dan drainase di wilayah sekitarnya guna mengantisipasi terjadinya luapan air dan banjir saat datangnya musim hujan.

“Masyarakat dapat bersama-sama melakukan pembersihan Saluran Air Hujan (SAH) di sekitarnya, semisal sudah terjadi pendangkalan dilakukan pengerukan dan pembersihan kotoran-kotoran yang menyumbat agar nanti saat datang musim hujan aliran air lancar dan mampu menampung air hujan sehingga tidak menggenang serta menimbulkan banjir,” kata Julisetiono, Jumat (9/10).

Menurut Julisetiono, pada saat musim kemarau SAH memang tidak berfungsi dan kering sehingga kurang mendapat perhatian dan perawatan sehingga penuh dengan kotoran berbagai sampah dan terjadi pendangkalan.

“Ada juga perilaku oknum masyarakat yang membuang sampah di SAH dan drainase di perumahan atau perkampungan. Ini mengakibatkan SAH penuh, sehingga saat musim hujan aliran tersumbat dan meluap di permukiman,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya juga menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terjadinya tanah longsor khususnya di daerah perbukitan dan kawasan bantaran sungai.

“Tanah longsor rawan terjadi di perbukitan di wilayah Kecamatan Prambanan, khususnya di Desa Wukirharjo dan Bokoharjo. Selain itu tebing-tebing sungai juga rawan longsor, terutama di daerah padat pemukiman,” tutur Julisetiono.

Julisetiono menambahkan, kemarau panjang tahun ini mengakibatkan tanah-tanah di kawasan perbukitan Prambanan menjadi kering dan merekah sehingga terjadi beberapa retakan tanah, kondisi ini dapat memicu terjadinya tanah longsor saat musim hujan.

“Jika turun hujan deras, retakan-retakan tanah tersebut kemudian terisi air akan mudah memicu terjadinya tanah longsor. Kami himbau masyarakat di daerah-daerah rawan untuk mulai meningkatkan kewaspadaan,” tambah Julisetiono.

Ia mengatakan, pihaknya juga telah beberapa kali melakukan simulasi penanggulangan bencana tanah longsor di perbukitan Prambanan, sehingga diharapkan masyarakat lebih peka dan tanggap bencanna saat hujan deras turun.

“Kami juga telah membentuk beberapa desa siaga bencana di Prambanan sehingga masyarakat diharapkan lebih siap saat hujan turun yang berpotensi terjadi tanah longsor. Saat ini untuk logistik kedaruratan bencana juga masih sangat mencukupi,” ungkap Julisetiono.

Sementara Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja, Tony Agus Wijaya mengatakan, diperkirakan musim hujan di DIY akan terjadi pada pertengahan November, dan datangnya musim hujan memang dapat memicu terjadinya bencana alam.

“Musim hujan memang kadang dapat menjadi pemicu bencana, seperti banjir, tanah longsor maupun bencana angin kencang atau puting beliung. Selain itu yang juga patut diwaspadai adalah terjadinya petir,” katanya.




Antisipasi Musim Hujan Sleman Perbaiki Drainase dan Gorong – Gorong

Sleman – Musim hujan diperkirakan tidak lama lagi dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman sudah mulai melakukan antisipasi dengan melakukan pembangunan dan perbaikan drainase maupun gorong-gorong, Rabu (16/9).

“Sudah ada 10 titik gorong-gorong yang dibangun dan diperbaiki. Kesepuluh titik tersebut berada diberbagai wilayah di Kabupaten Sleman diantaranya di wilayah Kecamatan Depok, Turi, Kalasan dan lainnya,” kata Kabid Bina Marga, Mirza Anfasury kepada Bernas di Sleman.

Menurut Mirza, pembangunan gorong-gorong tersebut sudah berjalan sekitar 2 bulan dan diperkirakan selesai satu bulan lagi atau bulan Oktober mendatang. Dikatakan Mirza, gorong-gorong yang dibangun dengan APBD Sleman ini hanya berskala kecil dengan anggaran dibawah Rp 200 juta.

“Gorong-gorong yang dibangun memang skalanya kecil dengan anggaran antara Rp 50 juta, Rp 60 juta hingga Rp 100 juta. Sedang panjang lini gorong-gorong yang dibangun antara 5 sampai 7 meter dengan lebar 1 meter,” kata Mirza seraya menambahkan ada satu proyek gorong-gorong di Kalasan yanh lebarnya 1,5 meter.

Sementara menurut Kasi Drainase Bidang Permukiman DPUP Sleman, Zaini Anwar mengakui saat musim hujan, beberapa titik ruas jalan di Sleman rawan genangan air karena itu perbaikan saluran drainase sudah dilakukan di 13 kecamatan yang pembangunannya dibagi per paket.

Untuk saluran drainase paket A dibangun diwilayah Kecamatan Gamping dengan 4 lokasi dan anggarannya sekitar Rp 661,941 juta, paket B meliputi Kecamatan Kalasan, Ngemplak dan Berbah di 3 lokasi dengan anggaran Rp 654,311 juta, paket C meliputi Kecamatan Sleman, Ngaglik dan Tempel di 5 lokasi anggarannya Rp 1,535 miliar.

Sedang paket D Kecamatan Mlati di 4 lokasi anggarannya Rp 1,138 miliar, paket E Cangkringan di 2 lokasi dengan anggaran Rp 611,685 juta, paket F Seyegan.

Di 2 lokasi dengan dana Rp 454,332 juta, paket G Depok dengan 6 lokasi pembangunan dan dananya Rp 1,68 miliar, paket H di Godean dengan 1 lokasi anggarannya Rp 350,13 juta dan paket I di Prambanan dengan 1 lokasi dananya Rp 521,60 juta.

Dan titik-titik saluran drainase yang dibangun antara lain ada di Jalan Jombor, kawasan Ambarukmo Plaza, kawasan pasar Godean, kawasan Pasar Prambanan, kawasan jalan Condongcatur dan lainnya.

Sebenarnya, sistem drainase di tempat tersebut cukup baik. Hanya saat hujan deras membutuhkan waktu agar air masuk ke dalam saluran. Akibatnya, air meluap dan menimbulkan genangan di sekitarnya.