Ekowisata Lereng Merapi Ditata

Sleman – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) melanjutkan penataan ekowisata di area lereng Merapi. Tahun ini, penataan difokuskan di lereng sisi barat yang menyimpan beragam potensi. Diantaranya ternak kambing etawa, hutan pinus, serta budidaya aneka jenis tanaman seperti anggrek, bambu, teh, dan kopi.

“Master plan penataan sebenarnya sudah ada sejak lama. Tapi baru bisa dilakukan mulai tahun kemarin karena ada kejadian erupsi tahun 2010,” kata Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGM, Widya Kridaningsih, Selasa (5/4).

Pasca erupsi, pihaknya fokus menata destinasi yang sering dikunjungi wisatawan. Semisal Telaga Muncar, Telaga Nirmala, dan jalur pendakian Selo di Boyolali. Setelah semua selesai baru dilanjutkan pembenahan lereng sisi barat.

“Kawasan ini menyimpan banyak potensi yang menarik jika digali. Setelah penataan selesai diharapkan bisa menjadi ekowisata sekaligus media edukasi bagi masyarakat,” kata Widya.

Hanya saja, lanjut dia, masih ada kendala menyangkut kebutuhan air. Jika nantinya kawasan itu dibuka menjadi destinasi dan banyak dikunjungi wisatawan, pasokan air yang ada diperhitungkan belum memadai. Upaya penataan ekowisata itu disambut baik oleh warga. Salah satunya Suwaji (57), penduduk asal Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman.

“Daerah kami memiliki potensi budidaya teh. Adanya ekowisata bisa menjadi promosi sekaligus membantu pemasaran produk kami,” ujarnya.

Selama ini, pemasaran teh asli Turgo hanya sebatas di pasar-pasar tradisional, atau memenuhi permintaan yang masuk. Dia merasa siap jika daerahnya dijadikan destinasi ekowisata. Selain teh, kini juga dikembangkan budidaya tanaman kopi yang dapat menjadi alternatif bagi pengunjung.




Desa Wonokerto Kembangkan Ekowisata Untuk Konservasi Sumber Daya Air

MuslimatunSleman – Dalam rangka mempertahankan kawasan resapan air dan penyelamatan sumber daya air serta memperingati Hari Air Dunia, Pemerintah Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman melaksanakan Program Penyelamatan Mata Air, Daerah Aliran Sungai (DAS) serta lahan Kritis di wilayah Desa Wonokerto yang diresmikan oleh Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes, Selasa (22/3).

Menurut Djoko Soeprijadi SHut, MCs, selaku dosen Geometrika Fakultas Kehutanan UGM bahwa Desa Wonokerto menjadi Desa Konservasi Mandiri dalam penanganan sumber daya airnya. Kesimpulan yang didapatkan dari hasil pemetaan air yang dilakukan Djoko bersama timnya menunjukkan bahwa semakin tinggi suatu kawasan maka kecenderungan intensitas air semakin langka.

Hal ini juga dialami kawasan Desa Wonokerto yang berada di dataran tinggi karena Turi masuk dalam wilayah lereng Gunung Merapi.

“Daerah dataran tinggi sebagai  kawasan tangkapan air sedangkan daerah bawah seperti Kota Yogyakarta sebagai tandonnya, karena air dari atas mengalir ke daerah yang lebih rendah,” ungkap dosen yang sekaligus menjadi tim ahli yang mendampingi penanganan sumber daya air Desa Wonokerto.

Djoko menambahkan bahwa skema penyelamatan mata air di Desa Wonokerto rencananya akan dilakukan penanaman berbagai jenis bambu disekitar daerah aliran sungai di Desa Wonokerto sebagai kebun botani atau arboretum, langkah tersebut diambil karena selain sebagai upaya konvservasi juga dapat dimanfaatkan untuk edukasi.

“Kami memilih bambu karena pertumbuhannya 30% lebih cepat dari kayu, berbagai jenis bambu di Indonesia akan kami datangkan dan rencananya akan kami buat arboretum dengan pengelompokan dan penamaan masing-masing bambu yang harapannya nanti kawasan ini mampu menjadi kawasan ekowisata, ” tambah Djoko.

Sementara Sri Muslimatun mengungkapkan bahwa Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak, sehingga perlu dikelola untuk dimanfaatkan secara efisien, adil dan berkelanjutan.

Secara kuantitas, air hujan yang tersimpan dalam tanah cenderung semakin berkurang dan sebagian besar menjadi aliran permukaan yang akan beresiko terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Kondisi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya semakin banyaknya permukaan tanah yang ditutup dan perubahan fungsi daerah tangkapan air.

Sedangkan secara kualitatif, air yang tersedia juga telah mengalami pencemaran, sehingga semakin menurunkan tingkat ketersediaan air bagi masyarakat.

“Penurunan kualitas air ini diantaranya disebabkan perilaku tidak bertanggung jawab dari masyarakat seperti membuang sampah dan limbah rumah,” kata Sri Musimatun.

Dalam kesempatan tersebut Sri Muslimatun juga  melakukan penanaman pohon bersama Kapolsek, Camat, Kades setempat serta komunitas warga Tionghoa.***