Merti Desa Prosesi Membersihkan Diri Lahir dan Batin

Turi – Untuk menandai puncak acara Wonokerto Expo 2017, dilaksanakanlah Upacara Adat Merti Desa Wonokerto, Minggu (12/11). Acara ini dihadiri oleh jajaran Muspika Kecamatan Turi dan Camat Turi, Siti Anggraeni Susilaprapti.

Upacara Adat Merti Desa Wonokerto diawali dengan arak-arakan gunungan dari masing masing padukuhan di wilayah Wonokerto. Gunungan ini diarak mengelilingi Desa Wonokerto.

Para peserta arak-arakan memakai berbagai macam kostum, seperti kostum daerah dan kostum rakyat untuk memikat masyarakat umum. Hal ini menambah semarak dan menarik prosesi arak-arakan.

Arak-arakan dimulai dari Lapangan Puntuk melewati beberapa dusun di wilayah Desa Wonokerto dan berakhir di halaman Desa Wonokerto yang merupakan tempat prosesi upacara adat. Tumpeng dan gunungan yang diarak mengelilingi dusun di wilayah Desa Wonokerto diserahkan oleh perwakilan peserta arak-arakan kepada Kepala Desa Wonokerto.

Dalam sambutannya Kepala Desa Wonokerto, Tomon Haryowirosobo memaparkan bahwa dengan kegiatan merti desa dalam rangkaian acara Wonokerto Expo ini, seluruh masyarakat diharapkan bisa membersihkan diri secara lahir dan batin.

Wonokerto Expo 2017 yang mengambil tema “Semangat Bela Negara Meningkatkan Potensi Desa” ini diawali dari tanggal 4 hingga 12 November 2017, dengan menampilkan beberapa produk UMKM dan pentas kesenian. (Ari Herliyanto)




Berbagai Kisah dan Legenda Ditampilkan Dalam Festival Adat

IMG-20150905-WA003Sleman – Berbagai kisah dan legenda dibalik pelaksanaan sejumlah upacara adat ditampilkan dalam Festival upacara adat dan tradisi budaya yang berlangsung di halaman parkir Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Desa Hargobinangun Pakem Sleman, Sabtu-Minggu (5-6/9). Festival digelar sebagai upaya untuk lebih mengangkat dan mengenalkan upacara adat dan tradisi budaya masyarakat Sleman.

Festival upacara adat dan tradisi budaya Sleman tahun 2015 di MGM tersebut dibuka dengan penampilan legenda di balik munculnya upacara adat atau Merti sendang Tohino dari Pandowohajo Sleman. Penampilan legenda Merti sendang Tohino mampu memikat ratusan pengunjung festival karena disajikan dengan sendratari yang
Sangat tertata rapi dan menarik.

Legenda berawal dari kisah masa lampau yang menggambarkan banyaknya perempuan di Pandowoharjo, sulit mendapatkan jodoh akibat mempunyai toh atau tompel di pipinya. Karenanya tempat itu disebut Tohino yang artinya terhina akibat toh atau tompel. Saat mereka sedang mandi di sendang diwilayah setempat tiba-tiba muncul seekor belut putih yang sebenarnya adalah seorang putri cantik yang sedang bertapa di sendang tersebut.

Ia sengata menampakkan wujudnya untuk memberitahukan pada warga bahwa disekitar sendang terdapat bambu usodo sehingga bisa dijadikan lokasi menyembuhkan penyakit. Karenanya jika ingin cantik dan cepat mendapatkan jodoh para wanita diminta mandi di sendang tersebut selama 7 hari berturut-turut diwaktu yang sama. Hasilnya sangat mengejutkan karena para perempuan berubah menjadi cantik dan cepat mendapatkan jodoh seperti yang diminta.

Berkah ini disyukuri warga setempat sehingga kini dengan menggelar upacara adat Merti sendang Tohino setahun sekali setiap bulan Ruwah. Tidak hanya Merti sendang Tohino saja yang ditampilkan tetapi 17 kisah dan legenda upacara adat lain dari 17 kecamatan di Sleman ditampilkan dalam festival yang berlangsung dua hari tersebut.

Sementara menurut Kepala Disbudpar Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM  festival ini merupakan sebuah gelar kolosal tradisi unggulan yang bertujuan menjaga eksistensi budaya lokal.

“Kegiatan semacam ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk penguatan sekaligus mewariskan nilai tradisi kepada generasi muda,” kata Ayu, Minggu (6/9).

Sedang bagi pelaku ritual upacara adat dan tradisi, festival ini bisa menjadi wahana apresiasi yang memiliki banyak makna. Ayu menambahkan, penyelenggaraan upacara adat dan tradisi budaya secara esensi menggambarkan keluhuran budi sekaligus rasa syukur kepada Tuhan. Hal ini penting untuk dilestarikan karena akan membentuk lingkungan masyarakat yang memiliki toleransi.

Melalui ajang ini diharapkan tumbuh kompetisi positif sehingga ke depan akan meningkatkan kualitas SDM pelaku ritual upacara adat di wilayah Sleman.

“Pada gilirannya melalui event ini wisatawan akan semakin tertarik berkunjung ke Sleman,” kata Ayu.