Rapat Koordinasi Prosesi Upacara Adat Bekakak Gamping

Gamping – Selasa, (31/10) berlangsung rapat koordinasi (rakor) pelaksanaan Upacara Adat Saparan Bekakak Gunung Gamping. Rakor yang bertempat di Balai Desa Ambarketawang ini dihadiri oleh seluruh panitia dan Muspika Gamping terdiri dari Camat Gamping Abu Bakar, Kapolsek Gamping, Kompil Herwinedi, Danramil 17/Gamping Mayor Inf, Sri Wiyanto.

Rapat yang dipimpin oleh Kepala Desa Ambarketawang Sumaryanto membahas tentang proses pelaksanaan upacara adat bekakak serta pengalihan lalu lintas.

Upacara adat saparan bekakak dimulai pada Kamis (2/11) pukul WIB dengan pembuatan bekakak, kenduri penyembelihan bekakak, dan pengambilan Tirto Dono Jati oleh Ki Lurah Magersari dari Umbul Tlogosari Gunung Gamping untuk pelengkap sesaji bekakak, yang selanjutnya akan dibawa dan disemayamkan di Kademangan (Balai Desa Ambarketawang-red).

Puncak acara upacara adat penyembelihan bekakak akan dilangsungkan pada Jumat, (3/11) pukul WIB. Acara dimulai dengan penyampaian laporan panitia pelaksana dilanjutkan sambutan Bupati Sleman, Sri Purnomo dan kirab budaya menuju lokasi penyembelihan bekakak di Gunung Gamping. (Adnan Nurtjahjo)




17 Kecamatan Tampil Dalam Festival Upacara Adat

IMG-20150905-WA004Sleman – Sebanyak 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman ikut berpartisipasi menampilkan berbagai atraksi kesenian dari masing-masing Kecamatan dalam Festival upacara adat dan tradisi budaya 2015 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman selama dua hari, Sabtu dan Minggu (5-6/9).

Event ini diadakan di taman parkir Museum Gunungapi Merapi (MGM) Hargobinangun Pakem dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Dari  17 Kecamatan tersebut masing-masing wilayah mengirimkan satu kontingen minimal berjumlah 50 orang. Menurut Kepala Disbudpar Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM  festival ini merupakan sebuah gelar kolosal tradisi unggulan yang bertujuan menjaga eksistensi budaya lokal.

“Kegiatan semacam ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk penguatan sekaligus mewariskan nilai tradisi kepada generasi muda,” kata Ayu, Minggu (6/9).

Sementara bagi pelaku ritual upacara adat dan tradisi, festival ini bisa menjadi wahana apresiasi yang memiliki banyak makna. Ayu menambahkan, penyelenggaraan upacara adat dan tradisi budaya secara esensi menggambarkan keluhuran budi sekaligus rasa syukur kepada Tuhan. Hal ini penting untuk dilestarikan karena akan membentuk lingkungan masyarakat yang memiliki toleransi.

Melalui ajang ini diharapkan tumbuh kompetisi positif sehingga ke depan akan meningkatkan kualitas SDM pelaku ritual upacara adat di wilayah Sleman.

“Pada gilirannya melalui event ini wisatawan akan semakin tertarik berkunjung ke Sleman,” kata Ayu.

Karena itu pula dipilih destinasi Museum Gunungapi Merapi (MGM) sebagai lokasi penyelenggaraan agar bisa lebih mengenalkan museum kepada masyarakat.

Dalam festival upacara adat ini  diambil lima penyaji terbaik. Hadiah yang diperebutkan berupa trofi dan uang pembinaan.




Sabtu dan Minggu Besok, Sleman Gelar Festival Upacara Adat

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman akan menggelar Festival Upacara Adat dan Tradisi Budaya Tahun 2015 selama dua pada hari Sabtu dan Minggu 5 – 6 September 2015 pukul WIB di taman parkir Meseum Gunungapi Merapi (MGM) Hargobinangun Pakem Sleman. Festival upacara adat ini diikuti oleh 17 kecamatan se Kabupaten Sleman masing-masing mengirimkan satu kontingen. 

Ketujuhbelas kontingen perwakilan kecamatan se Kabupaten Sleman tersebut masing-masing terdiri atas minimal 50  orang. Demikian disampaikan Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM,  di kantornya, Kamis (3/9) .

Ayu menambahkan bahwa Festival Upacara Adat dan Tradisi Budaya merupakan sebuah gelar kolosal tradisi unggulan yang dilaksanakan sebagai upaya untuk menjaga eksistensi budaya lokal yang adiluhung. Selain itu juga dimaksudkan untuk penguatan nilai-nilai tradisi dan mewariskan nilai-nilai kearifan lokal kepada masyarakat khususnya generasi muda serta sebagai wahana apresiasi yang bermakna bagi para pelaku ritual upacara adat dan tradisi budaya serta masyarakat umum.

“Upacara adat dan tradisi budaya secara esensi menggambarkan keluhuran budi bagi masyarakat yang mengajarkan ketulusan, keikhlasan dan rasa syukur terhadap anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini penting untuk dilestarikan dan dikembangkan karena akan membentuk lingkungan masyarakat yang memiliki toleransi, kegotongroyongan dan rasa kebersamaan yang tinggi, kata Ayu.

Melalui ajang ini diharapkan tumbuh kompetisi positif sehingga kedepan akan meningkatkan kualitas SDM pelaku ritual upacara adat dan tradisi budaya di wilayah Kabupaten Sleman. Diharapkan event ini juga sekaligus menjadi bentuk sajian pertunjukan atraksi budaya yang dapat mendukung dan menjadikan daya tarik tersendiri terhadap kepariwisataan di Kabupaten Sleman. Pada gilirannya melalui event ini akan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke wilayah Kabupaten Sleman.

Pemilihan destinasi Museum Gunungapi Merapi (MGM) sebagai lokasi penyelenggaraan festival upacara adat dan tradisi budaya ini dimaksudkan untuk lebih mengenalkan museum khususnya MGM kepada warga masyarakat sebagai sebuah wahana pendidikan keilmuan kegunungapian serta mitigasi bencana yang didalamnya juga terkandung kearifan lokal menghadapi fenomena alam Gunung Merapi.

Dalam festival upacara adat ini akan diambil 5  penyaji terbaik yang akan mendapatkan tropy dan uang pembinaan masing-masing Rp.6 juta, Rp.5 juta, Rp.4 juta, Rp.3 juta dan Rp.2 juta.