Menanamkan Keterbukaan Informasi Publik untuk Generasi Milenial

“Jangan tertutup, berat. Kamu nggak akan kuat. Biar terbuka aja. By Dilan. ” Kalimat itu tercetak di punggung kaus putih yang dikenakan puluhan siswa SMA di Universitas Aisyah, Gamping, Sleman, Sabtu (21/4). 

Kalimat modifikasi dari kalimat populer dalam film Dilan itu digunakan Komisi Informasi Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (KID DIY) untuk mengenalkan keterbukaan informasi publik kepada generasi muda. KID DIY mencoba mengambil momentum fenomena Dilan itu dalam peringatan hari keterbukaan informasi publik tahun ini.

Sedikitnya 100 siswa SMA sederajat dari 5 kabupaten/kota di DIY mengikuti berbagai lomba yang diadakan KID DIY bekerjasama dengan Universitas Aisyah Yogyakarta. Lomba essay dan lomba cerdas cermat bertema keterbukaan informasi publik jadi medium untuk menanamkan kesadaran akan hak informasi di kalangan generasi muda atau yang kini acap disebut sebagai generasi milenial.

Warsono, Wakil Ketua KID DIY mengungkapkan bahwa KID DIY menginginkan keterbukaan informasi bisa menjadi budaya yang ada di masyarakat. “Kita ingin ada agen-agen muda muda yang begitu aware kepada keterbukaan informasi publik. Ke depannya mereka ini akan menjadi agen perubahan, bagaimana mereka bisa mengakses informasi dengan baik dan sebagainya,” jelasnya.

Sejak dua tahun terakhir KID DIY fokus mensosialisasikan keterbukaan informasi publik kepada pemerintah daerah di kabupaten/kota, termasuk hingga ke pemerintahan desa. Sejak tahun ini sepertinya generasi muda turut menjadi fokus sosialisasi.

Zumrotul, siswi MA Sunan Pandanaran Sleman memaknai keterbukaan informasi publik sebagai sesuatu yang harus dilakukan secara bertanggungjawab. “Sekarang mudah mencari informasi apa saja dengan teknologi. Bisa berdampak positif atau negatif tergantung bagaimana penggunaannya, semisal digunakan untuk pendidikan atau pembelajaran pasti hasilnya baik,” ungkapnya seusai lomba cerdas cermat.

“Sebelumnya ya tidak tahu keterbukaan informasi itu yang seperti bagaimana, setelah belajar sedikit-sedikit baru tahu. Memang itu hak kita, pemerintah wajib mewadahi juga,” simpulnya.

Hari Keterbukaan Informasi Nasional diperingati setiap 30 April. Sasaran yang ingin dicapai dari peringatan hari besar ini adalah memunculkan kesadaran kolektif terkait hak individu dalam mengakses informasi publik, mengkampanyekan bahwa akses terhadap informasi adalah hak asasi manusia, sekaligus mendorong badan publik untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip transparansi.




Karang Taruna Wonokerto Ikuti Evaluasi Karang Taruna Berprestasi Tingkat Kabupaten Sleman

Turi – Karang Taruna Wahana Taruna Bakti Desa Wonokerto Turi mengikuti Evaluasi Karang Taruna Berprestasi Tingkat Kabupaten Sleman, Rabu (7/3) pukul WIB di Pendopo Pertemuan Desa Wonokerto. Evaluasi dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars karang taruna.

Dipilihnya Karang Taruna Wonokerto untuk mewakili Kecamatan Turi dalam Lomba Karang Taruna Berprestasi tingkat Kabupaten Sleman ini karena Karang Taruna Desa Wonokerto memiliki berbagai macam kegiatan yang nyata dan masih berjalan hingga sekarang, di antaranya usaha ekonomi produktif (perikanan, bimbingan belajar, dan usaha sablon) dan usaha sosial, seperti membantu difabel mencarikan bantuan kursi roda.

Acara evaluasi dihadiri oleh semua pengurus Karang Taruna Desa Wonokerto, Kepala Desa Wonokerto, Tomon, Ketua Karang Taruna Kecamatan Turi Suharman, tim evaluasi terdiri dari Karang Taruna Kabupaten Sleman dan Dinas Sosial Kabupaten Sleman yang diwakili oleh Kasi Kelembagaan Sosial, Elviana Lasso.

Dalam sambutannya, Elvi berharap Karang Taruna Desa Wonokerto dapat lebih bersemangat dalam kegiatannya dan tertib dalam administrasinya. Elvi juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu untuk berkembangnya Karang Taruna Desa Wonokerto. “Di mana karang taruna merupakan ujung tombak bagi generasi muda yang ada mulai dari padukuhan hingga ke tingkat nasional,” tutur Elvi.

Evaluasi atau penilaian ini meliputi pemaparan kegiatan dan administrasi dan berakhir pada pukul WIB. (Harman)




Kemah Budaya Dekatkan Generasi Muda Dengan Budaya Lokal

Sleman – Bupati Sleman menyambut baik penyelenggaraan kegiatan kemah budaya yang diselenggarakan di Desa Wisata Pulesari Kecamatan Turi Sleman, disamping untuk lebih mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda, kegiatan tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk menambah wawasan tentang potensi yang dimiliki oleh daerahnya.

Bupati Sleman menyampaikan hal tersebut dalam sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes ketika membuka Kemah Budaya di desa Wisata Pulesari Turi, Jumat (2/9). Disampaikan Bupati bahwa  menumbuhkan rasa cinta dan handarbeni terhadap budaya dan potensi lokal yang kita dimiliki merupakan tanggungjawab kita bersama.

Dan kegiatan Kemah Budaya ini merupakan salah satu wujud nyata dari langkah strategis yang ditempuh membentuk generasi muda Sleman yang tau, mengerti, mencintai dan merasa handarbeni atas asset-asset budaya yang adiluhur maupun potensi yang dimiliki Kabupaten Sleman.

“Yang jelas pada era global saat  ini, kehidupan sebagian warga masyarakat khususnya generasi muda mulai jauh dari nilai-nilai budaya kita sendiri,” kata Sri Muslimatun yang membacakan sambutan Bupati.

Pola hidup gotong royong dan tepo seliro yang dulu merupakan pola hidup nenek moyang, pada saat ini cenderung berpola hidup individualistis. Pola hidup gotong royong tidak hanya diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat dalam pembangunan fisik semata. Semangat gotong royong juga dapat diaplikasikan dalam setiap peristiwa sosial kemasyarakatan yang membutuhkan penyelesaian secara bersama-sama.

Dan kearifan lokal tepo seliro tidak hanya diartikan sebagai tenggang rasa saja, tetapi lebih dimaknai sebagai  rasa empati yang mampu membangun konektifitas satu dengan yang lain hingga menumbuhkan rasa kebersamaan yang universal. Dengan demikian dinamisnya sosok jiwa muda akan lebih terarah pada perilaku-perilaku yang positif dan konstruktif.

Pada kesempatan tersebut Sri Muslimatun juga mengajak peserta kemah budaya untuk memanfaatkan kemah budaya tersebut de­ngan sebaik-baiknya, untuk kembali mengaplikasikan nilai-nilai budaya lokal da­lam kehi­dupan sehari-hari, serta mengenal potensi-potensi yang dimiliki.

Sedangkan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Dra  Endah Sri Widiastuti menyampaikan bahwa kemah budaya tersebut bertujuan sebagai ajang silaturahmi generasi muda khususnya siswaa SMA/SMK di Kabupaten Sleman, serta untuk menimbulkan sikap saling asih, asah dan asuh dan semangat persatuan dan kesatuan bagi para siswa, juga saebagaai pemahaaman nilai budaya.