Gladi Lapang, Antisipasi Bencana Erupsi Merapi

Cangkringan –  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY melaksanakan Gladi Lapang Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunung Merapi pada Rabu (18/10) di Lapangan Jangkang Widodomartani Ngemplak.

Gladi ini dihadiri oleh Wakil Gubernur DIY Paku Alam X, Sekda Pemda DIY, Gatot Saptadi, Kepala BPBD DIY, Krido Suprayitno, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, anggota Search and Rescue (SAR) DIY, Taruna Siaga Bencana (TAGANA), TNI, POLRI, dan masyarakat sekitar Kecamatan Cangkringan dan Ngemplak.

Kegiatan ini melibatkan lima klaster yaitu SAR, Kesehatan, Logistik, Komunikasi, dan Keamanan.

Gladi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam penanganan dan penanggulangan bencana di Kabupaten Sleman, khususnya dalam menghadapi ancaman bencana erupsi Merapi. Harapannya, melalui gladi lapang ini para relawan dan warga setempat sudah dapat mengetahui apa yang harus dilakukan ketika erupsi Gunung Merapi terjadi serta mengurangi risiko bencananya. (Bavit M U)




Gladi lapang Paseduluran Sekolah ”Sister School”

DSC_0980Sleman – Beberapa siswa SD Tarakanita Ngrembesan  Kecamatan Turi Sleman mengalami luka, ada yang patah tulang dan yang paling banyak mengalami luka ringan serta memar-memar karena berebut menyelamatkan diri saat terjadi bencana erupsi Merapi, Senin (7/11).

Masih untung karena para guru SD tersebut menenangkan siswa untuk tidak panik dan teratur untuk menyelamatkan diri dengan dievakuasi menggunakan beberapa mobil bak terbuka. Hingga akibat yang lebih parah tidak terjadi.

Hal tersebut sebagai gambaran saat gladi lapang penanggulangan  bencana /paseduluran Sekolah di  Sister School di SMP Santo Asloysius Turi Sleman.

Sementara Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes disela-sela gladi lapang  menyampaikan bahwa gladi lapang menjadi momen strategis bagi sekolah terdampak bencana SD Tarakanita Ngrembesan dan sekolah penyangga bencana SMP Santo Aloysius Turi untuk meningkatkan  kesiapsiagaan dan kewaspadaan segenap elemen sekolah terkait bencana erupsi Gunung Merapi.

Segenap elemen sekolah harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam kondisi kedaruratan.

Disampaikan Sri Muslimatun bahwa Kabupaten Sleman dianugerahi karakteristik wilayah yang beragam, setiap wilayah memiliki potensi bencana yang berbeda.

“Namun demikian hal tersebut bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri keistimewaan wilayah yang kita miliki. Kita semua tidak mengharapkan terjadinya bencana namun kita harus siap menghadapinya bila hal itu terjadi. Kata kuncinya adalah kita harus memiliki kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi resiko bencana yang mungkin terjadi,” kata Sri Muslimatun.

Menyadari kondisi tersebut Pemkab Sleman berupaya melakukan langkah mitigasi bencana. Tidak hanya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar anak didik tidak terhambat akibat terjadinya bencana.

“Berlatarbelakang hal tersebut, Pemkab Sleman melaksanakan kegiatan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dengan mengembangkan sister school atau paseduluran sekolah,” tambahnya.

Melalui kegiatan tersebut sekolah terdampak dipersaudarakan melalui pembuatan MOU paseduluran sekolah dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah yang relatif aman.

Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat dimana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar maka untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan belajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.

Usai gladi lapang dilakukan penandatangan MOU antara Kepala Sekolah  SD Tarakanita Turi dan Kepala Sekolah SMP Aolysius  Donokerto Turi terkait Sekolah yang berdampak erupsi Merapi dan SMP Aloysius Turi sebagai sekolah penyangga.




Gladi Lapang Penanggulangan Bencana di Wukirharjo Prambanan

Tinjau Dapur UmumSleman – Satu orang mengalami luka berat patah tulang kaki dan harus dirujuk ke RSUD Prambanan, dan lainnya mengalami luka ringan akibat bencana tanah longsor yang terjadi di Wukirharjo Prambanan Rabu (3/8). 

Kejadian tersebut akibat hujan yang terus menerus mengguyur wilayah Prambanan. Wilayah yang paling parah akibat tanah longsor tersebut sebagian wilayah Wukirharjo, terutama daerah perbukitan dan berada disekitar Balai desa setempat.

Disamping beberapa orang mengalami luka ringan, ada beberapa ternak sapi yang harusnya ikut diungsikan di balai desa, tetapi karena terbatasnya armada hanya tiga ekor sapi yang sempat diungsikan lainnya masih ditinggal pemiliknya mengungsi di balai desa. Disamping beberapa orang yang mengalami luka ringan ada beberapa orang ibu hamil yang harus diungsikan  karena tingkat kehamilannya sudah mendekati melahirkan.

Dan ditengah hiruk pikuknya masyarakat yang menyelamatkan diri masih saja dijumpai  penjahat yang memanfaatkan situasi untuk mencuri, namun berkat kesigapan aparat dan masyarakat pencuri tersebut berhasil ditangkap dan dibawa ke Polsek Prambanan untuk diproses lebih lanjut. Hal tersebut tergambar saat simulasi bencana tanah longsor di balai desa Wukirharjo Prambanan.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala pelaksana BPBD DIY Drs Krido Suprayitno SE MSi, Asekda bidang Pembangunan Dra Suyamsih,  Plt Pelaksana BPBD Sleman Ir Kunto Riyadi, Muspika Kecamatan Prambanan dan masyarakat setempat.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan Pengurus forum pengurangan resiko bencana dan pengurus unit pelaksana desa penanggulangan bencana oleh Bupati Sleman yang diwakili Asekda Bidang Pembangunan. Juga pengukuhan pengurus unit pelaksana oleh Plt. BPBD Sleman.

Sedangkan Krido menyampaikan bahwa dalam upaya mewujutkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, pemerintah memiliki perhatian serius dalam upaya peningkatan kapasitas untuk masyarakat desa. Karena desa  yang langsung  mengalami dampak bila terjadi bencana. Oleh karena itu penguatan kapasitas masyarakat adalah upaya  strategis untuk menjadikan bangsa yang tangguh dalam menghadapi bencana.

Lebih lanjut disampaikan bahwa berdasar pemetaan yang telah dilaksanakan pada tahun 2012 DIY terdapat 12 potensi ancaman bencana, dari 438 desa yang ada di DIY 301 desa merupakan desa rawan bencana diantaranya terdapat di Kabupaten Sleman.

Sementara Suyamsih menyampaikan gladi lapang menjadi momen startegis bagi masyarakat Sleman khususnya masyarakat di desa Wukirharjo Prambanan untuk meningkatkan kesiap-siagaan dan kewaspadaan masyarakat, terkait bencana longsor.

Masyarakat harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiap-siagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan  langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

Dikatakan Suyamsih bahwa pelaksanaan gladi lapang tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiap-siagaan dan ketrampilan warga masyarakat dalam menghadapi bencana longsor, khususnya di desa Wukirharjo Prambanan.

Diharapkan dengan adanya  gladi lapang  tersebut jatuhnya korban jiwa akibat longsor dapat diantisipasi, karena masyarakat telah maengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat. Ketepatan bertindak tentunya harus didukung oleh pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi sistuasi darurat terkait bencana.

Gladi lapang tersebut menjadi sarana yang efektif untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan ketrampilan dalam mensikapi kondisi darurat. Dengan bekal tersebut diharapkan  seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi bencana.




Gladi Lapang dan Penandatangan MOU Sister Village

DSC_0288 BernasSleman – Penandatangan MOU Sister Vilage  antara Desa Umbulharjo Cangkringan dengan Desa Umbulmartani Ngemplak telah dilakukan di Barak Pengungsian Brayut Wukirsari Cangkringan Selasa (31/5).

Dan Desa Kepuharjo Cangkringan dengan Desa Bimomartani Ngemplak, Desa Wukirsari Cangkringan dengan Desa Bimomartani Ngemplak, dan Desa Argomulyo Cangkringan dengan Desa Tirtomartani Klasan telah dilakukan di Barak Pengungsian Kiyaran Wukirsari Cangkringan, dengan disaksikan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, dan sebagai saksi Kepala BPBD Kabupaten Sleman Drs Julistiono Dwi Wasito SH MM dan Camat Cangkringan Edy Harmana SH.

Perjanjian kerjasama tersebut tentang penampungan bila terjadi bencana erupsi merapi, sebagai desa yang berdampak erupsi Merapi baik Desa Umbulharjo, Kepuharjo, Wukirsari dan Argomulyo Cangkringan, maka sebagai desa penyangga/penampung pengungsi bila terjadi bencana erupsi merapi adalah Desa Umbulmartani, Bimomartani dan Tirtomatani.

Disamping penandatangan MOU antara desa tersebut juga dilakukan gladi lapang penanggulangan bencana baik yang ditampung di barak pengungsian Brayut maupun Kiyaran.

Sri Purnomo menyampaikan bahwa  mengingat upaya mitigasi bencana tidak bisa berhasil tanpa kesatuan langkah semua unsur yang terlibat.

“Karenanya saya ingin mengajak seluruh jajaran untuk dapat terus menjaga semangat dan komitmen dalam mengoptimalkan peran dan fungsinya dalam upaya mitigasi bencana di Kabupaten Sleman,” kata Sri Purnomo.

Memastikan semua unsur memiliki kesiapan dan kesiapsiagaan dalam menjalankan peran dan fungsinya saat mengahadapi bencana menjadi tujuan yang harus diwujudkan.

Sehingga dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan kerugian oleh bencana. Gladi lapang menjadi media yang sangat strategis dalam mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman dalam mitigasi bencana.

Kegiatan tersebut juga menjadi moment dalam menggali secara lebih dalam apa saja yang harus dipersiapkan baik oleh masyarakat, relawan maupun Unit Operasional Penanggulangan Bencana Kecamatan dan Unit Pelaksana Penanggulangan Bencana Desa ketika dihadapkan pada kondisi nyata.

Disamping itu, kegiatan tersebut juga menjadi media koordinasi bagi seluruh unsur yang terlibat, sehingga dapat semakin solid sebagai satu kesatuan dalam upaya mitigasi bencana.

Oleh karena itu, Sri Purnomo berharap seluruh jajaran yang terlibat pada Gladi Lapangan ini dapat benar-benar memanfaatkan moment ini untuk meningkatkan dan memantapkan kesiapsiagaan masing-masing sesuai peran dan fungsinya. Sehingga tujuan dalam pelaksanaan Gladi Lapang ini dapat benar-benar terwujud.

Lebih lanjut disampaikan bahwa  jajaran Unit Operasional Penanggulangan Bencana Kecamatan dan Unit Pelaksana Penanggulangan Bencana Desa untuk dapat mengoptimalkan peran dan fungsinya.

Mengingat kedua unit ini yang akan membantu ketugasan BPBD Sleman dalam penanggulangan bencana saya berharap keberadaannya mampu  memperkuat jajaran aparatur dalam pengurangan resiko bencana di Kabupaten Sleman, khususnya di wilayah Kecamatan Cangkringan.

Agar mitigasi dapat memberi manfaat secara optimal, maka mitigasi harus mengadopsi dan mem­per­hatikan nilai-nilai kea­rifan lokal yang terproyeksi dalam semangat gotong royong dan kebersamaan.

Karenanya pada kesempatan yang berbahagia ini, kita bersama juga akan menyaksikan penandatanganan MOU antara Desa Umbulharjo Cangkringan dengan Desa Umbulmartani Ngemplak, dilanjutkan penandatanganan MOU antara Desa Kepuharjo Cangkringan dengan Desa Bimomartani Ngemplak, Desa Wukisari Cangkringan dengan Desa Bimomartani Ngemplak serta Desa Argolumyo Cangkringan dengan Desa Tirtomartani Kalasan.

“Semoga melalui penandatangan MOU ini dapat semakin memperkuat jajaran, dalam upaya mitigasi bencana di Kabupaten Sleman,” tambah Sri Purnomo.




Gladi Lapang Penanggulangan Bencana Tanah Longsor di Prambanan

Menolong Korban BencanaSleman – Tujuh orang mengalami luka berat, tiga orang patah tangan dan empat orang mengalami luka berat patah kaki dan dua orang mengalami luka ringan saat terjadi bencana alam tanah longsor di padukuhan Cepet Bokoharjo Prambanan Sleman, Jumat (15/4).

Sedangkan tiga rumah mengalami rusak berat, empat rumah mengalami rusak sedang dan lima rumah mengalami rusak ringan. Bencana tanah longsor tersebut akibat hujan yang terus menerus yang mengguyur wilayah Prambanan.

Saat terjadi  hujan tersebut  sebetulnya masyarakat padukuhan Cepet yang terdiri 180 KK dengan 682 jiwa tersebut sudah bersiap siap dengan segala kemungkinan.

Tetapi bencana datang tiba-tiba yang membuat gundukan dan tebing yang ada di padukuhan mengalami keretakan dan akhirnya longsor menimpa beberapa rumah dan warga yang posisi rumahnya ada di bawah. Demikian antara lain yang tergambar dalam gladi lapang penanggulangan bencana tanah longsor di Cepet Bokoharjo Prambanan.

Dalam gladi lapang tersebut ikut hadir Bupati sleman Drs H Sri Purnomo MSI,  Kepala Bidang pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD DIY  Ir Hari Siswanto, Kepala BPBD Kabupaten Sleman Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM, Camat Prambanan Abu Bakar. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan Forum pengurangan resiko bencana Desa Bokoharjo Prambanan oleh Bupati Sleman.

Sri Purnomo menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, di balik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Kabupaten Sleman menyimpan potensi bencana baik akibat faktor alam maupun non alam.

Untuk itu, formulasi yang tepat dalam menghadapi kondisi wilayah tersebut adalah dengan memastikan bahwa masyarakat yang merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha pengurangan resiko bencana memiliki kesiapsiagaan.

Disampaikan pula bahwa dalam setiap mitigasi bencana, Pemerintah tidak dapat sukses mewujudkan upaya tersebut jika tidak didukung oleh masyarakat dan tim relawan. Untuk itu Sri Purnomo  menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Sleman dan seluruh pihak yang telah turut serta berkontribusi dalam upaya mitigasi bencana yang selama ini digalakkan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Dikatakan Sri Purnomo  bahwa pelaksanaan gladi lapang tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiapsiagaan dan keterampilan warga masyarakat dalam menghadapi bencana longsor, khususnya di Desa Bokoharjo Prambanan.

Diharapkan dengan adanya gladi lapang ini, jatuhnya korban jiwa akibat longsor dapat diantisipasi, karena masyarakat telah mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat.

Gladi lapang tersebut menjadi sarana yang efektif untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mensikapi kondisi darurat. Dengan bekal tersebut, diharapkan seluruh warga masyarakat menjadi paham langkah.

Sementara  Hari Siswanto mewakili Kepala BPBD DIY menyampaikan bahwa masyarakat adalah penerima dampak langsung dari bencana dan sekaligus pelaku langsung yang akan merespon bencana disekitarnya.

Sedang berdasarkan pemetaan yang telah dilaksanakan pada tahun  2012 DIY terdapat 12 potensi ancaman bencana, dari 438 desa yang ada di DIY 301 desa merupakan desa raawan bencana, diantaranya terdapat di Kabupaten Sleman.