Dusun Ngawen Godean Menyimpan Potensi Kerajinan Kuningan

IMG_9868Sleman – Ngawen Desa Sidokarto Kecamatan Godean Sleman  ternyata banyak menyimpan potensi  di bidang kerajinan. Jika ditelusuri lebih jauh Dusun Ngawen  yang berlokasi di sebelah barat Kota Yogjakarta ini  ternyata  sebagian warganya berkecimpung di dunia kerajinan logam khsususnya kuningan.

Memasuki Dusun Ngawen  banyak dijumpai warga yang melakukan aktivitas dalam mengolah bahan kuningan  untuk dijadikan produk kerajinan mulai dari  klinting, klontong hingga asesoris kuda sekaligus asesoris andongnya.

Produk kerajinan kuningan ini sudah berlangsung sejak lama dan kebanyakan dari perajin memiliki keahlian membuat barang dari kuningan karena proses turun temurun.

Salah satu perajin kuningan yang meneruskan usaha kakek dan orangtuanya adalah Trisno Santosa. Ya sekarang ini Trisno meneruskan usaha membuat berbagai macam asesoris kuda dan asesoris andong.

“Ada banyak jenis asesoris untuk kuda dan andong. Mulai dari hiasan penutup kepala, penutup mata, kalung kuda, sepatu kuda dan lainnya. Sedang untuk asesoris andong mulai dari as roda sampai pernak-pernik nya kami buat sesuai pesanan,” kata Trisno ketika dijumpai dirumahnya yang juga menjadi tempat usahanya, Rabu (28/9).

Menurut Trisno, dari masa kakeknya kerajinan kuningan yang dibuat spesial asesoris kuda. Sehingga satu-satunya perajin asesoris kuda di Sleman adalah Trisno.

Diungkapkan Trisno, proses produksi kerajinan kuningan ini menjadi lebih lengkap menggunakan sejumlah alat bantu yang beragam pula sesuai barang apa yang akan diproduksinya.

Sementara rangkaian proses pembuatan kerajinan berbahan baku kuningan  juga menggunakan sistem yang pada dasarnya sama mulai dari pembuatan mal yang berbahan dasar lilin atau malam. Mal kemudian dibungkus dengan tanah liat untuk dibuat sebagai lubang pengecoran kuningan  sampai proses finishing yang digarap secara rapi pula.

“Setelah membuat mal atau bentuk asesoris yang diinginkan  menggunakan malam atau lilin kemudian dibungkus tanah liat

Hingga kering baru kemudian dibakar. Sementara bahan timah atau kuningan dibakar hingga mencair dan lama pembaran sekitar 4 jam. Kemudiar timah yang sudah mencair dicetak dalam cetakan tanah yang sudah dibakar,” jelas Trisno.

Setelah terbentuk, untuk membuka cor logam tersebut diguyur air dan tanah liat yang membungkus cor logam dihancurkan. Diungkapkan Trisno, untuk penjualan produk kerajinan kuningan buatannya selama ini tidak mengalami kesulitan karena selain membuat berdasarkan pesanan, para pedagang sudah datang ke rumahnya.

“Untuk bahan baku kuningan kami tidak kesulitan karena sudah ada yang menyetor dari pasar Beringharjo. Ada juga orang yang menjual rongsokan kuningan ke rumah,” kata Trisno.

Sementara untuk permodalan, Trisno mengaku tidak masalah karena mendapat pinjaman yang mudah dari Bank Sleman. Ketika ditanya dari mana saja pemesannya, Trisno mengaku ada dari Kraton Solo yang memesan roda batik untuk andong.

“Beberapa waktu lalu Gusti Yudhaningrat dari Kraton Yogya juga datang memesan asesoris untuk kalung kuda,” tutur Trisno.

Soal harga Trisno mengatakan dia hanya mengambil keuntungan sedikit sebab modal produksi lebih banyak di bahan baku.

“Meski bahan baku naik, saya tidak menaikkan harga produk karena kalau dinaikkan malah ga laku. Yang penting bagi saya produk laku meski untung sedikit sehingga bisa rutin berproduksi,” katanya.

Sebulan rata-rata Trisno mengolah kuningan sekitar 25 kilogram. Namun kalau pas sepi order hanya mengolah kuningan sekitar 15 kg sebulan. Adapun jenis produk yang di buat ada puluhan item produk maulai dari pelik kembangan, pelik bintang, sliwer, klinting, timang, streng dan lainnya.




Kecamatan Godean Kabupaten Sleman Terima Gamelan

Kecamatan Godean telah menerima seperangkat gamelan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman. Penyerahan gamelan tersebut sudah dilakukan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI kepada Camat Godean Drs Ahmad Yuno Nurkayadi, Sabtu (17/5) malam.

Penyerahan gamelan ini, menurut Sri Purnomo, sebagai wujud tanggung jawab Pemerintah untuk melestarikan budaya dan memberikan fasilitasi kepada masyarakat yang ingin berlatih maupun berkesenian sehingga dapat meningkatkan olah seni potensi masyarakat Godean khususnya.

Karena, nanti masyarakat dapat ikut memanfaatkan gamelan ini semaksimal mungkin dan tentu dengan ikut serta merawat agar dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lama.

Hadir pula dalam kesempatan ini, Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu SS MHum, Ketua Tim Penggerak PKK Sleman, Ketua DPRD Sleman, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman dan Muspika Godean.

Acara penyerahan gamelan ditandai dengan penyerahan secara simbolis Rebab oleh Bupati Sleman kepada Camat Godean dan penyerahan tokoh wayang Nakulo Sadewo kepada dalang Ki Purnomo, dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Purnomo mengambil lakon Nakulo Sadewo Waris.




Pasar Kuliner Belut Godean Sleman Siap Jadi Tujuan Wisata Kuliner

Sleman – Pasar kuliner belut Godean Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap menjadi tujuan wisata kuliner, menyusul diresmikannya penggunaan pasar kuliner tersebut oleh Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSI, Selasa (11/3).

Dalam kesempatan ini hadir Ketua DPRD Sleman, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Pasar, Camat Gamping.

Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman Dra. Tri Endah Yitnani, Msi mengatakan pasar kuliner belut ini merupakan upaya penataan pedagang kripik belut di lingkungan pasar Godean yang dirasakan sudah mendesak untuk dipindah, karena lokasi dipinggir jalan yang padat lalu lintasnya sehingga rawan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Pasar kuliner ini berdiri di atas tanah kas desa Sidoagung bekas Kantor Kecamatan Godean seluas m2 dengan luas bangunan   m2 .

Saat ini sudah ditempati 30 pedagang yang tergabung dalam paguyuban pedagang kripik belut wilayah Sleman Barat, Godean, Seyegan, Minggir dan Moyudan.  Nantinya jjuga akan dibangun sentral pasar klitikan dan sentral pasar hewan di lingkungan pasar Godean.

Bupati Sleman dalam sambutannya mengatakan Pusat Kuliner Belut Godean ini diharap memberi kemudahan, baik bagi para pedagang dan konsumen bertransaksi hasil olahan kripik belut secara nyaman dan aman., dan menjadi icon pusat oleh oleh khas Godean.

Lebih dari itu dengan tersentralnya penjualan hasil olahan keripik belut ini tentunya memberikan nilai estetika yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Sentralisasi penjualan hasil olahan kripik belut ini  mengembalikan fungsi areal halaman pasar Godean yang  selama ini digunakan untuk lapak para penjual kripik belut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Bahkan akan memperlancar arus lalu lintas yang sudah cukup padat di area Pasar Godean dan mengurangi kemacetan di area pasar, sehingga akan lebih menertibkan dan memberikan kenyamanan pengunjung Pasar Godean.

Kepada seluruh pedagang pasar  belut di pusat kuliner belut ini, yang menggunakan model pasar tradisional ini untuk konsisten berjualan disini  dan ikut memelihara sarana Pusat Kuliner Belut ini dengan menjaga kebersihan serta keamanannya.

Endah menyatakan keinginannya untuk menggemakan kembali tentang slogan Pasare Resik Rejekine Apik. Jika para pedagang dan pembeli sama-sama menerapkan prinsip ini. “Maka saya yakin keberadaan pasar belut ini akan memberikan keuntungan lebih bagi penggunanya,” katanya.

Untuk menjadikan pusat kuliner ini ramai pengunjung, pengelola dan para pedagang dapat bersinergi, melaksanakan beberapa kegiatan yang menarik pengunjung.

Selain itu  Kepala Dinas Pasar untuk bersinergi dengan Kepala Dinas Pariwisata di dalam mempromosikan keberdaan pusat kuliner ini, sehingga pusat kuliner ini menjadi jujugan para wisatawan.

Salah satu tujuan pembangunan Pasar Kuliner Belut Godean ini dilakukan untuk menunjang penataan kawasan Kecamatan Godean. Dengan dibangunnya Sentra Kuliner Belut ini tentunya semakin menguatkan citra belut sebagai komoditas unggulan Sleman yang bahkan banyak diminati para wisatawan sebagai oleh-oleh khas Sleman.

Sentralisasi pemasaran komoditas ini diharapkan dapat meningkatkan promosi aneka produk olahan belut sebagai komoditas unggulan Kecamatan Godean, yang akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah.

Pada kesempatan tersebut, Endah juga berharap agar inovasi dapat terus dilakukan untuk memberikan beragam pilihan bagi konsumen. Tidak hanya terbatas pada keripik, belut juga menarik untuk disajikan dalam bentuk lain seperti di antaranya dendeng belut, abon belut, sambel belut kemasan dan lain sebagainya.

“Penganekaragaman pangan ini menggarisbawahi upaya kita untuk meningkatkan porsi produk olahan buatan dalam negeri,” katanya.

Pemkab Sleman terus berupaya mempertahankan dan mengembangkan keberadaan pasar tradisional. Pada saat ini jumlah pasar di Kabupaten Sleman mencapai 39 pasar kabupaten tersebar di 17 kecamatan, serta 36 pasar desa.

Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para konsumen, dan menciptakan kondisi pasar yang bersih dan nyaman, Pemkab Sleman juga telah merehabilitasi dan merevitalisasi 9 pasar tradisional, pembinaan bagi pedagang pasar untuk penataan pasar desa.

Selain itu, fasilitasi pembentukan dan pembinaan pengurus paguyuban pasar, penataan tempat dagangan dan jenis mata dagangan di 7 UPT Pelayanan Pasar dan peningkatan pelayanan pedagang pasar di 40 pasar dan Taman Kuliner.

Acara peresmian ditandai dengan pemukulan gong oleh  Bupati Sleman dan pemotongan tumpeng yang diserahkan kepada perwakilan pedagang. Dan untuk memeriahkan acara dihibur dengan Grup Hadroh Gayuh Swargo serta bintang tamu Mbokde Beruk dan Dalijo.