Dusun Ngawen Godean Menyimpan Potensi Kerajinan Kuningan

Sleman – Ngawen Desa Sidokarto Kecamatan Godean Sleman ternyata banyak menyimpan potensi di bidang kerajinan. Jika ditelusuri lebih jauh Dusun Ngawen yang berlokasi di sebelah barat Kota Yogjakarta ini ternyata sebagian warganya berkecimpung di dunia kerajinan logam khsususnya kuningan.
Memasuki Dusun Ngawen banyak dijumpai warga yang melakukan aktivitas dalam mengolah bahan kuningan untuk dijadikan produk kerajinan mulai dari klinting, klontong hingga asesoris kuda sekaligus asesoris andongnya.
Produk kerajinan kuningan ini sudah berlangsung sejak lama dan kebanyakan dari perajin memiliki keahlian membuat barang dari kuningan karena proses turun temurun.
Salah satu perajin kuningan yang meneruskan usaha kakek dan orangtuanya adalah Trisno Santosa. Ya sekarang ini Trisno meneruskan usaha membuat berbagai macam asesoris kuda dan asesoris andong.
“Ada banyak jenis asesoris untuk kuda dan andong. Mulai dari hiasan penutup kepala, penutup mata, kalung kuda, sepatu kuda dan lainnya. Sedang untuk asesoris andong mulai dari as roda sampai pernak-pernik nya kami buat sesuai pesanan,” kata Trisno ketika dijumpai dirumahnya yang juga menjadi tempat usahanya, Rabu (28/9).
Menurut Trisno, dari masa kakeknya kerajinan kuningan yang dibuat spesial asesoris kuda. Sehingga satu-satunya perajin asesoris kuda di Sleman adalah Trisno.
Diungkapkan Trisno, proses produksi kerajinan kuningan ini menjadi lebih lengkap menggunakan sejumlah alat bantu yang beragam pula sesuai barang apa yang akan diproduksinya.
Sementara rangkaian proses pembuatan kerajinan berbahan baku kuningan juga menggunakan sistem yang pada dasarnya sama mulai dari pembuatan mal yang berbahan dasar lilin atau malam. Mal kemudian dibungkus dengan tanah liat untuk dibuat sebagai lubang pengecoran kuningan sampai proses finishing yang digarap secara rapi pula.
“Setelah membuat mal atau bentuk asesoris yang diinginkan menggunakan malam atau lilin kemudian dibungkus tanah liat
Hingga kering baru kemudian dibakar. Sementara bahan timah atau kuningan dibakar hingga mencair dan lama pembaran sekitar 4 jam. Kemudiar timah yang sudah mencair dicetak dalam cetakan tanah yang sudah dibakar,” jelas Trisno.
Setelah terbentuk, untuk membuka cor logam tersebut diguyur air dan tanah liat yang membungkus cor logam dihancurkan. Diungkapkan Trisno, untuk penjualan produk kerajinan kuningan buatannya selama ini tidak mengalami kesulitan karena selain membuat berdasarkan pesanan, para pedagang sudah datang ke rumahnya.
“Untuk bahan baku kuningan kami tidak kesulitan karena sudah ada yang menyetor dari pasar Beringharjo. Ada juga orang yang menjual rongsokan kuningan ke rumah,” kata Trisno.
Sementara untuk permodalan, Trisno mengaku tidak masalah karena mendapat pinjaman yang mudah dari Bank Sleman. Ketika ditanya dari mana saja pemesannya, Trisno mengaku ada dari Kraton Solo yang memesan roda batik untuk andong.
“Beberapa waktu lalu Gusti Yudhaningrat dari Kraton Yogya juga datang memesan asesoris untuk kalung kuda,” tutur Trisno.
Soal harga Trisno mengatakan dia hanya mengambil keuntungan sedikit sebab modal produksi lebih banyak di bahan baku.
“Meski bahan baku naik, saya tidak menaikkan harga produk karena kalau dinaikkan malah ga laku. Yang penting bagi saya produk laku meski untung sedikit sehingga bisa rutin berproduksi,” katanya.
Sebulan rata-rata Trisno mengolah kuningan sekitar 25 kilogram. Namun kalau pas sepi order hanya mengolah kuningan sekitar 15 kg sebulan. Adapun jenis produk yang di buat ada puluhan item produk maulai dari pelik kembangan, pelik bintang, sliwer, klinting, timang, streng dan lainnya.