Gubernur Serahkan Sertifikat Hak Milik Huntap Korban Erupsi Merapi

Gubernur Serahkan SertifikatSleman – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan sertifikat hak milik hunian tetap (huntap) serta Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kepada korban erupsi Merapi tahun 2010  di Kantor Kecamatan Cangkringan Sleman, Rabu (18/1).

Sertifikat huntap dan IMB yang diserahkan Gubernur berjumlah 76 sertifikat hunian tetap dan 58 IMB. Penyerahan sertifikat serta IMB merupakan bentuk bantuan pemerintah DIY dalam membantu rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana erupsi Merapi pada tahun 2010 silam.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Drs Krido Suprayitno SE MSi menyampaikan bahwa rencana huntap tersebar di 18 lokasi di Sleman,  dengan toal luas tanah meter persegi dengan rencana alokasi KK.

Hingga akhir tahun 2015 sudah terlaksana meter persegi lahan untuk huntap serta sertifikat tanah hak milik yang diberikan. Namun masih terdapat 607 KK belum lengkap berkas dan belum dapat diproses sehingga masih menetap di Area Terdampak Langsung (ATL).

Hal tersebut menurut Krido, mengacu pada Keputusan Bupati Sleman terkait lokasi rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana erupsi merapi 2010 sehingga masyarakat yang terdampak dapat dipindahkan ke lokasi yang aman dari erupsi Merapi dengan rumah yang telah distandarisasi.

Sementara  Sri Sultan HB X menyampaikan bahwa pada tahun 2016 hingga sekarang Pemda DIY terus berkomitmen untuk melanjutkan rehabilitasi dan merekontruksi wilayah yang terkena dampak erupsi Merapi dengan menerbitkan sertifikat tanah hak milik sebanyak 76 buah dan 758 buah IMB.

Dimana 76 sertifikat hak milik dan 58 IMB diserahkan pada kesempatan ini dan 700 IMB telah diterbitkan pada tahun 2016 lalu guna masyarakat dihunian tetap yang ingin memperbesar rumah yang telah diberikan.

Sultan berharap seluruh masyarakat yang terdampak erupsi Merapi khususnya di Kecamatan Cangkringan dapat bangkit dari keterpurukan pada saat terdampak erupsi Merapi 2010 silam.

“Dengan adanya bantuan dari pemerintah DIY berupa huntap dapat membantu masyarakat yang terdampak erupsi Merapi agar mendapat kehidupan kedepan yang lebih baik,” kata Sultan.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI juga mengucapkan terima kasih kepada  Gubernur dan Pemerintah DIY, yang telah memfasilitasi kepemilikan sertifikat huntap korban erupsi Merapi.

Sri Purnomo berharap, melalui kegiatan tersebut masyarakat Cangkringan dapat menjalani kehidupan dengan lebih tentram karena telah memiliki kepastian hukum dengan diserahterimakannya sertifikat tanah dan IMB atas hunian yang ada.




Tiga Calon Sekda Sleman Sedang Dikonsultasikan ke Gubernur

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan proses pemilihan Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman terus berjalan. Bahkan setelah dilakukan seleksi telah dipilih tiga orang.

“Setelah dilakukaj seleksi calon Sekda sudah dipilih tiga orang dan ketiganya sudah diumumkan. Selanjutnya dari tiga calon tersebut akan dipilih satu orang.

Saat ini nama ketiga calon Sekda sedang dalam proses dikonsultasikan dengan Gubernur,” kata Sri Purnomo, Rabu (14/12).

Diharapkan akhir tahun 2016 sudah terpilih dan awal tahun 2017 Sekda baru sudah dilantik.

“Harapannya terhadap Sekda baru nantinya Sekda merupakan jajaran birokrasi administrasi di Kabupaten harus punya prinsip atau filter yang kuat untuk mengendalikan   birokrasi di Sleman. Hal ini karena Sekda merupakan birokrasi tertinggi yang mengetahui seluk beluk ASN di Sleman,” kata Sri Purnomo.

Disinggung tentang ketiga calon Sekda Sleman, Sri Purnomo mengaku, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam usulan yang diterimanya itu, pansel juga memberikan penilaian terhadap ketiga calon Sekda tersebut.

“Nilai-nilai selama proses seleksi itu nanti akan jadi pertimbangan kami dalam memilih Sekda. Soalnya mereka memiliki plus dan minus,” tuturnya.

Adapun Panitia seleksi (Pansel) hanya memilih tiga nama untuk diusulkan ke Bupati Sleman, yakni Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Nakersos) Kabupaten Sleman Drs Untoro Budiharjo, Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sleman Purwatno Widodo SH dan Kepala Inspektorat Pemda DIY Sumadi SH.




Gubernur Resmikan­ Lava Bantal

DSC_1662 (1)Sleman – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan obyek wisata Lava Bantal yang berada di Dusun Watuadeg Desa Jogotirto Berbah Sleman, Senin (30/5).

Penjabat Sekda Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno  menjelaskan bahwa Lava Bantal merupakan destinasi wisata baru di Sleman yang dikembangkan dari bantuan Pemerintah Provinsi DIY dan telah ditetapkan sebagai Geoheritage. Menurutnya objek wisata Lava Bantal nantinya akan menjadi menjadi kawasan wisata ilmu pengetahuan, wisata alam, dan wisata budaya.

”Kami berharap, kehadiran Gubernur, dapat memotivasi masyarakat Sleman, khususnya masyarakat Berbah untuk senantiasa memelihara, dan menjaga dengan baik, kawasan lava bantal sebagai warisan budaya, warisan geologi, warisan ilmu pengetahuan, yang telah ditetapkan menjadi geoheritage ini,” jelas Iswoyo.

Sementara  Sri Sultan HB X mengungkapkan bahwa untuk meningkatkan wisatawan yang berkunjung ke Lava Bantal rencananya tahun ini pihak pemerintah akan mengupayakan akses jalan langsung yang menghubungkan Gunungkidul melalui Kecamatan Pathuk dari Obyek Wisata Nglanggeran langsung menuju Lava Bantal.

”Tujuan akses langsung menghubungkan antar obyek wisata ini agar mobilitas wisatawan di Jogja lebih lama sehingga pariwisata di Jogja dapat merata yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat,” ungkap Sri Sultan.

Sri Sultan juga menghimbau pada masyarakat agar tidak merusak endapan lava yang sudah membatu baik mencungkil maupun melakukan corat-coret karena obyek wisata ini menurutnya memiliki nilai sejarah geologis yang tinggi.

Sementara Iswoyo menambahkan bahwa untuk pengembangan destinasi obyek wisata Sleman antara lain telah dilakukan melalui festival seni di berbagai obyek wisata, pemberdayaan dan pembinaan pelaku wisata, sosialisasi sadar wisata pada masyarakat sekitar obyek wisata, termasuk salah satunya masyarakat di sekitar kawasan Lava Bantal  serta pelatihan manajemen desa wisata.

”Berbagai program dan kegiatan yang telah kami laksanakan tersebut, telah berhasil meningkatkan jumlah wisatawan di Kabupaten Sleman sebesar 20,65% dari orang lebih, pada tahun 2014 menjadi orang lebih, pada tahun 2015,” tambah Iswoyo.




Gubernur Canangkan BBGRM DIY di Kalasan

Gubernur DIY Pukul GongSleman – Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke 13 dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 44 tingkat DIY  dicanangkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Balai Desa Tamanmartani Kalasan, Selasa (3/5).

Hadir padaa kesempatan tersebut antara lain  GKR Hemas, Bupati Sleman Sri Purnomo, Wakajati Danlanal, Wakil ketua DPRD Sleman, Ketua TP PKK Kabupaten Sleman Hj Kustini Sri Purnomo.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis untuk kegiatan TMMD Sengkuyung senilai Rp 75 juta  untuk Desa Margoagung Seyegan.

Bantuan kegiatan sertifikat wakaf untuk lembaga kesejahteraan sosial penyantun Yatim Piatu Mitra Amanah untuk Desa Girimulyo Panggang Gunung Kidul, dan pemberian Beasiswa Kartu Cerdas untuk siswa SMA se DIY senilai Rp 21,093 miliar untuk siswa masing-masing Rp 1,5 juta.

Disamping itu juga  penyerahan tropy lomba tim penggerak PKK DIY  dengan kategori lomba tertib aadministrasi PKK dengan juara Kelurahan Wirogunan, Mergangsang Jogja.

Lomba PKDRT dengan juara Desa Caturtunggal Depok Sleman, usaha peningkatan pendapatan keluarga PKK dengan juara Desa Jatimulyo Dlingo Bantul, hatinya PKK dengan juara Desa Hargobinangun Pakem Sleman dan pemanfaatan hasil Toga dengan juara Desa Wukirharjo Prambanan Sleman.

Selain itu juga diserahkan bantuan  biaya pendidikan mahasiswa (beasiswa reguler) senilai Rp 1,2 miliar, pemberian bantuan biaya pendidikan mahasiswa (beasiswa mahasiswa baru) senilai Rp 150 juta, bantuan untuk rintisan PKBM unggulan tahun 2016 senilai Rp 78 juta.

Serta bantuan fasilitasi pembentukan model pemberdayaan Gizi, pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular untuk kelompok  masyarakat dan bantuan pencegahan daan pengendalian penyakit tidak menular untuk kelompok bimbingaan Haji.

Sultan menyampaikan bahwa Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong selama satu bulan penuh pada Bulan Mei ini, diharapkan menjadi titik ungkit bagi seluruh desa maupun kelurahan seluruh wilayah DIY, untuk menemukan kembali semangat gotong royong sebagai aktifitas yang nyata sekaligus menyatu.

Dengan dukungan semua elemen masyarakat desa, termasuk lembaga kemasyarakatan desa dalam “hanyengkuyung luhuring tatacara-pranatan” kehidupan yang selaras dengan alam semesta dan keharmonisan sesama manusia.

Saat ini, pemerintah sedang mencari identitas baru atas pilihan pembangunan ekonomi, yang diinspirasi dari tiga poin penting nawacita, yakni membangun dari pinggiran, peningkatan produktifitas rakyat, dan kemandirian ekonomi.

Istilah “pinggiran” merupakan frasa populer untuk membenturkan dengan wilayah pusat dengan wilayah perdesaan. Desa diposisikan sebagai pusat arena pembangunan, bukan lagi semata lokus keberadaan sumberdaya yang dengan mudah dieksplotasi oleh wilayah lain, seperti kota untuk beragam kepentingan.

Perhatian ke wilayah desa menjadi semakin luar biasa, begitu terbitnya Undang-undang nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. “Desa digelontor dana desa, untuk digunakan membangun wilayahnya secara berkelanjutan, diatas tiga pilar,” kata Sultan.

Ketiga pilar itu antara lain pertama, mengarusutamakan penguatan kapabilitas manusia sebagai inti pembangunan sehingga mereka menjadi subyek-berdaulat atas pilihan-pilihan yang diambil. Kedua, mendorong geliat ekonomi yang menempatkan rakyat sebagai pemilik dan partisipan gerakan.

Ketiga, mempromosikan pembangunan yang meletakkan partisipasi warga dan komunitas sebagai akar gerakan sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

Sementara Sri Purnomo menyampaikan bahwa pemanfaatan dana desa tentu saja akan menjadi lebih optimal bila melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Untuk itu Sri Purnomo mengajak masyarakat, lembaga kemasyarakatan serta seluruh elemen masyarakat untuk dapat menjadi mitra pemerintah desa dalam melaksanakan pembangunan didesa. Lebih lanjut disampaikan bahwa gotong royong merupakan salah satu jati diri dan merupakan kearifan lokal masyarakat kita.

Gotong royong menjadi modal sosial yang sudah sejak dahulu memberikan kontribusi dalam kehidupan masyarakat. “Masyarakat secara bahu-membahu menyelesaikan berbagai hal dengan bergotong royong sehingga gotong royong menjadi kekuatan pembangunan,” kata Sri Purnomo.

Gotong royong tidak hanya sebatas sebagai slogan namun harus kita wujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk mempertahankan semangat gotong royong memang tidak mudah ditengah kehidupan masyarakat yang semakin kompetitif dan cenderung semakin individualistis.




Gubernur Lakukan Penebaran Perdana Iptekmas Ugadi

Bantuan IptekmasSleman – Penebaran bibit udang galah di KPI Mino Ngelo Sembada Ngelo Harjobinangun  Pakem Sleman sebagai penebaran perdana Iptekmas Ugadi telah dilakukan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kepala Badan Litbang Kelautan dan Perikanan RI dan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, Kamis (12/3). Benih Udang Galah tersebut jenis GI Macro II.

Sultan pada kesempatan tersebut menyampaikan dengan metode Ugadi ternyata mampu meningkatkan pendapatan petani, karena disamping hasil padi lebih besar dibanding dengan sistem penanaman yang biasa, tetapi juga mampu menghasilkan komoditi jenis lain yaitu udang galah.

Sultan juga meminta agar sistem Ugadi dikembangkan di Kecamatan Minggir, bahkan kalau mungkin 50 hektar. Mengingat Kecamatan Minggir potensi airnya cukup besar dan lahan pertaniannya masih cukup luas. Sementara itu Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dr  Ir Achmad Purnomo menyampaikan bahwa penelitian Ugadi mulai tahun 2011, sebagai contoh dengan lahan yang 1000 meter persegi mampu menghasilkan udang galah 1 kwintal dan apabila ditebari ikan nila mampu menghasilkan 3 kwintal.

Sementara padi yang dihasilkan mencapai 6-7 kwintal, yang jelas hasil padi lebih banyak satu kwintal dibanding dengan sistim yanam biasa. Sedang udang galah itu sendiri telah direlease tahun 2014, yang merupakan bibit unggul. Sedang Sri Purnomo  pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa penebaran tersebut diharapkan akan semakin memajukan sektor perikanan, khususnya budidaya udang galah guna mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan berdaya saing, khusunya di Kabupaten Sleman.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa budidaya udang galah bersama padi (ugadi) menjadi salah satu kegiatan sebagai usaha alternatif yang dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pembudidaya.

Model pengembangan budidaya udang galah di Sleman dengan cara ugadi telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Model ugadi  tersebut, diharapkan dapat menjawab persoalan yang selama ini dihadapi petani. Perikanan dan pertanian tanaman pangan, bagaikan dua sisi mata uang. Jika perikanan yang dikembangkan, akan mempengaruhi produktifitas sektor pertanian tanaman pangan.

Namun demikian lanjutnya, model pola budidaya ugadi ini, dapat menjawab persoalan tersebut. Dengan model ini, diharapkan antara perikanan ikan dan budidaya tanaman pangan menjadi sinergi. Petani dapat bersama-sama membudidayakan udang sekaligus menanam padi.

“Jika ini berhasil tentunya dapat semakin memantapkan upaya kita dalam menguatakan ketahanan pangan di Kabupaten Sleman,” tambah Sri Purnomo.

Hal tersebut dikatakan Sri Purnomo dapat dilihat dari gambaran produksi udang galah dan padi yang meningkat dibandingkan sebelumnya pada kelompok tani Mina Jaya, Berbah dan Kelompok Mina Muda di Pakem. Produksi padi 6,2 ton setelah di mina udang galah, produksinya menjadi 6,6 ton per ha. Sedangkan produksi udang galah per ha mencapai 1,2 ton.

Dijadikannya KPI Mina Ngelo Sembada sebagai tempat penebaran perdana Iptekmas Ugadi dengan bibit udang galah GI Macro II ini, tentunya akan semakin meningkatkan semangat para petani untuk melakukan budidaya ugadi. Selain itu juga dapat meningkatkan kapasitas produksi perikanan serta semakin menjadikan produk perikanan Sleman semakin beragam. Jika selama ini, produksi perikanan Sleman didominasi oleh komoditas nila, lele dan gurami.

“Kedepan saya berharap udang galah dapat melengkapi keanekaragaman produk perikanan Sleman,” tutur Sri Purnomo.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan secara simbolis bantuan Iptekmas (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat) dalam Bidang Perikanan Budidaya dari Kepala Badan kepada Gubernur DIY, selanjutkan oleh Gubernur diberikan kepada kelompok pembudidaya ikan Mina Muda Sembada Samberembe Pakem, kelompok pembudidaya ikan Mina Ulam Sari Kumendung, Candibinangun Pakem dan kelompok pembudidaya ikan Mino Ngelo Sembada, Ngelo Harjobinangun Pakem.

Disamping itu juga dilakukan penebaran perdana Iptekmas Ugadi dengan benih udang galah G Makro II oleh Kepala Badan Litbang, Gubernur DIY, Bupati Sleman, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman.