Jelang Puncak Hujan, Bencana Petir Mengintai

Sleman – Menjelang puncak musim hujan, gejala alam petir menjadi ancaman yang dapat menimbulkan bencana. Dilaporkan beberapa minggu lalu, satu ekor sapi milik warga di Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, mati akibat tersambar petir. Kendati belum ada pemetaan daerah rawan petir, namun BPBD mengimbau masyarakat khususnya yang tinggal di lereng Merapi agar meningkatkan kewaspadaan.

“Di wilayah Sleman utara seperti Kecamatan Turi, Pakem, dan Cangkringan sering dijumpai awan cumulonimbus. Pembentukan awan ini berpengaruh terhadap adanya petir,” kata Kepala BPBD Sleman Julisetiono Dwi Wasito, Rabu (27/1).

Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi kepada pengelola gedung berukuran tinggi agar melengkapi bangunan dengan fasilitas penangkal petir. Selain itu, masyarakat juga diminta membenahi peralatan elektronik rumah tangga yang beresiko menjadi media penghantar aliran listri dari petir. Peralatan itu seperti antena televisi, dan radio komunikasi.

Terpisah, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Jogja, Tony Agus Wijaya menyarankan warga agar menghindari aktivitas di area terbuka seperti persawahan atau lapangan, saat terjadi hujan disertai petir.

“Selain itu, jangan berlindung di bawah pohon tinggi karena rawan tersambar petir. Saran lain, sebaiknya hentikan sementara pemakaian ponsel saat hujan petir,” kata Tony.

Sementara itu dalam rilisnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap bencana. Dari prediksi BMKG, puncak musim hujan berlangsung pada akhir Januari dan Februari 2016.

“Biasanya Januari merupakan puncak curah hujan, dan sering terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan puting beliung. Tapi tahun ini ada pengaruh El-Nino yang mengakibatkan musim hujan datang terlambat dibanding kondisi normal,” katanya.

Meski saat ini El Nino masih berada dalam intensitas kuat, tapi cenderung terus meluruh. Kondisi diperkirakan memasuki fase netral sekitar bulan Maret atau April mendatang. Karenanya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.




Hujan, Kasus DBD di Sleman Dikhawatirkan Meningkat

Sleman – Hujan yang turun ditengah musim kemarau akhir – akhir ini diperkirakan dapat mengakibatkan munculnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sleman meningkat. Untuk itu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman kembali mengingatkan masyarakat Sleman untuk rutin memberantas sarang nyamuk dengan memutus siklus hidup nyamuk sejak dari jentik dan telur.

“Untuk memutus siklus hidup nyamuk tidak sekedar menguras dan menutup tandon air saja dan itu tidak cukup,” kata Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes kepada wartawan di Sleman, kemarin.

Menurut Linda bak air jangan hanya dikuras, tapi harus disikat untuk membersihkan telur nyamuk. Kalau cuma dikuras, telurnya masih bisa berkembang setelah diisi air lagi dan dalam dua hari telur sudah menetas menjadi nyamuk. Dikatakan Linda partisipasi masyarakat menjadi penentu utama pemberantasan nyamuk penyebab DBD. Jika mengalami gejala, masyarakat juga diminta aktif segera memeriksakan diri.

“Jika badan kena panas mendadak selama dua hari, warga harus periksa dan darahnya dicek di laboratorium. Jadi kita langsung tahu DBD atau bukan,” kata Linda.

Beberapa kecamatan di Sleman memang diketahui menjadi daerah rawan DBD karena kondisi wilayahnya yang padat penduduk. Perangkat desa dan kecamatan sudah diminta aktif. Linda juga mengingatkan warga sekitar demi efektivitas gerakan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).  Imbauan yang kembali disampaikan Dinkes Sleman tersebut terkait adanya peningkatan kewaspadaan DBD akibat cuaca yang tidak menentu beberapa pekan terakhir.

“Kami terus terang khawatir dengan penyakit endemis DBD karena adanya hujan dan cerah beberapa hari. Keadaan ini kondusif untuk perkembangbiakan nyamuk,” tutur Linda.

Berdasarkan catatan yang ada di Dinas Kesehatan tahun 2014 ini sampai tanggal 17 Juli tercatat sudah ada 324 kasus DBD. Dari kasus tersebut 3 korban diantaranya meninggal dunia. “Ketiga korban meninggal karena DBD itu berasal dari Kecamatan Godean dan Berbah,” kata Linda.

Adanya korban meninggal dunia ini lanjut LInda karena pasien tidak melakukan kontrol ke layanan kesehatan setelah diperiksa. Hal itu membuat petugas kesehatan tak bisa berbuat banyak. Tahun sebelumnya, Sleman mencatat 736 kasus DBD dengan 4 korban meninggal dunia.

Hingga kini, 5 kecamatan yang dianggap paling rawan tetap yaitu Kecamatan Gamping, Depok, Godean, Mlati, dan Kalasan. Kasus DBD di Sleman terjadi sepanjang tahun. Puncak kasus biasanya akhir hingga awal tahun.




5.000 Warga Sindumartani Berada Di Daerah Ancaman Lahar Hujan

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan perlu disadari bahwa dalam setiap mitigasi bencana, dukungan dari masyarakat dan dukungan tim relawan mutlak diperlukan.

Masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

“Saat ini terdapat kurang lebih jiwa penduduk Sindumartani yang berada di daerah ancaman lahar hujan,” kata Sri Purnomo, Senin (19/5), saat berlangsungnya gladi lapang penanggulangan bencana .

Menurut Sri Purnomo, gladi lapang penanggulangan bencana menggambarkan bagaimana hiruk pikuknya masyarakat dalam menghadapi bencana lahar dingin dari Gunung Merapi. Dengan melibatkan puluhan relawan dan ratusan masyarakat  melakukan simulasi layaknya terjadi bencana sungguhan.

Suasana simulasi seakan seperti terjadi bencana sungguhan, karena banyak warga yang mengikuti gladi menangis. Beberapa dari mereka saat dijumpai usai simulasi menyampaikan bahwa mereka teringat akan kejadian bencana tahun 2010 yang lalu.

Sebagian dari peserta simulasi mengalami kejadian tersebut secara langsung, bahkan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan anggota keluarganya.

Dalam simulasi tersebut, banyak kejadian yang menggambarkan kepanikan dan sibuknya masyarakat untuk menyelamatkan diri, bahkan juga menyelamatkan harta benda yang bisa dibawa, termasuk hewan peliharaan.

Ditambahkan Sri Purnomo, gladi lapang memang sudah seharusnya dilaksanakan secara periodik mengingat Gunung Merapi mengalami perubahan perilaku, sehingga kesiapan dan kewaspadaan menjadi hal yang utama dalam menghadapi bencana.

Peran masyarakat dalam mitigasi bencana menjadi sangat penting, karena masyarakat merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha
pengurangan resiko bencana.

Agar memberikan manfaat yang optimal, rencana mitigasi harus mengadopsi dan memperhatikan kearifan lokal (local wisdom) dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge) yang ada dan berkembang dalam masyarakat. Hal ini karena kedua aspek tersebut merupakan faktor penentu dalam keberhasilan upaya pengurangan resiko bencana.

Lebih lanjut disampaikan Sri Purnomo bahwa untuk pembangunan jalur evakuasi, BNPB mengalokasikan dana total Rp20,75 miliar untuk Pemkab Sleman yang diperuntukan bagi 4 ruas jalan jalur evakuasi,    dan Sri Purnomo berharap pembangunan ruas jalan tersebut dapat dimulai pengerjaannya pada bulan Juni 2014 dan selesai secepatnya