Model Pertanian “Jajar Legowo” Mampu Tingkatkan Produksi Padi

Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan bahwa model pertanian jajar legowo yang diterapkan petani di Sleman seperti kelompok tani Ngudi Makmur ternyata mampu meningkatkan produksi padi, dan itu perlu dikuti oleh kelompok tani yang lain.

“Selama ini  sektor pertanian di Sleman masih menjadi andalan Kabupaten Sleman dan pada tahun 2014 di Kabupaten Sleman sudah surplus beras hampir 108 ton,” kata Gatot menerima tim evaluasi kelompok tani berpresrtasi bidang tanaman pangan tingkat Nasional di Madurejo Prambanan Sleman, Jumat (18/9).

Kelompok tani Ngudi Makmur Gangsiran Madurejo Prambanan Sleman mampu menyisihkan empat kelompok lainnya yang ada di Jogja, dan berhak maju ke tingkat nasional dalam lomba kelompok tani berpresrtasi bidang tanaman pangan mewakili DIY.

Majunya kelompok tani Ngudi Makmur berkat partisipasi anggota dan masyarakat dalam mewujutkan kelompok tani yang maju daan mandiri. Selain  itu juga adanya berbagai kegiatan dalam menunjang kemajuan pertanian, yang bertujuan mengentaskan kemiskinan menuju masyarakat yang sejahtera. Selanjutnya menurut Gatot,  sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja 13 persen dari jumlah penduduk Kabupaten Sleman.

Sementara itu ketua kelompok tani Ngudi Makmur, Sutiyono mengatakan bahwa kegiatan di kelompok tani Ngudi Makmur antara lain membeli gabah hasil panen petani di sawah dengan harga yang wajar bahkan diatas harga tengkulak, dan apabila dalam timbangan ada kelebihan berat maka akan dibayar sesuai berat gabah, tetapi seandainya dalam timbangan ternyata kurang maka kelompok tetap akan membayar sesuai harga kesepakatan.

Dikatakan Sutiyono, bahwa kelompok berusaha agar para tengkulak masuk di petani. Sedang luasan lahan di kelompok Ngudi Makmur untuk tanaman padi seluas 42 ha dan polowijo 25 ha. Warga pedukuhan Gangsiran yang jumlahnya 98 KK tersebut 52 KK merupakan petani dan 68 buruh tani. Yang jelas kelompok Ngudi Makmur saat ini sudah memproduksi benih padi dan dimanfaatkan oleh petani sekitar Prambanan bahkan sudah sampai di Boyolali.




Petani Wajib Terapkan Pola Jajar Legowo

TanamSleman – Guna mendukung Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT), Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman mewajibkan semua petani menerapkan pola tanam padi ‘Jajar Legowo’. Hal ini sebagai upaya mendukung swasembada pangan nasional yang tengah digalakkan pemerintah pusat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura DPPK Sleman, Eddy Sri Harmanta mengatakan pola tanam itu hanya untuk petani yang menerima bantuan sosial (bansos) sarana produksi dan biaya tanam GPPTT padi seluas hektar di Kecamatan Kalasan, Prambanan dan Berbah.

Dijelaskan, jajar legowo ialah pola tanam dengan jarak tanam 2-1 atau 3-1 atau bisa juga 4-1. Jika pola 2-1, jarak bibit padi satu dengan satunya 20 cm dan selanjutnya ada jeda 40 cm.

“Jarak 40 cm itulah yang dinamakan legowo atau diperlebar. Keunggulannya antara lain populasi tanaman, ruang sirkulasi udara dan pencahayaan jadi lebih banyak sehingga tanaman menjadi lebih baik. Tak hanya itu, hama penyakit juga dapat mudah terkendali,” jelas Eddy.