Kesehatan Jamaah Haji Sleman Terus Dipantau Kemenag

Sleman – Kesehatan jamaah haji dari Kabupaten Sleman hingga kepulangan mereka ke tanah air setelah menjalankan salah satu Rukun Islam di Tanah Suci Mekah terus mendapat pemantauan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten.

‪”Jamaah haji dari Kabupaten Sleman dijadwalkan mulai tiba di tanah air pada 27 September mendatang. Dan faktor kesehatan jamaah haji akan terus dipantau hingga mereka tiba di Sleman,” kata Silvia Eosetti, Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Selasa (20/9).

‪Menurut Silvia, meski sudah selesai menjalankan ibadah haji di tanah suci, diharapkan para jamaah haji tetap menjaga kesehatan selama perjalanan pulang.‬

“Kami akan memantau terus kesehatan tiap jamaah haji melalui petugas medis yang mendampingi. Tiap kloter didampingi satu dokter dan dua paramedis,” katanya.‬

‪Dikatakan Silvia jamaah haji asal Sleman tahun ini sebanyak 992 orang. Mereka terbagi dalam enam kloter, yakni Kloter 23 SOC, 24 SOC, 25 SOC, 26 SOC, 27 SOC, dan 29 SOC. ‬

“Jamaah haji Sleman bersama jamaah dari Kabupaten/Kota lainnya di DIY masuk dalam jadwal terbang pulang dari Arab Saudi mulai 26 September, meliputi kloter 23 SOC (Sleman dan Kota Yogyakarta), 24 SOC (Sleman dan Bantul), dan 25 SOC (Sleman). Mereka akan tiba di Embarkasi Donohudan pada 27 September,” tutur Silvia.‬

‪Kemudian pada hari berikutnya yakni jadwal terbang untuk Kloter 26 SOC (Sleman dan Bantul) serta Kloter 27 SOC (Sleman dan Gunung Kidul) pada 27 Septermber dari Arab Saudi dan tiba 28 Sptember.‬

“Terakhir, jamaah haji Sleman Kloter 29 SOC dijadwalkan tiba di Solo pada 29 September,” katanya.‬

‪Diungkapkan Silvia hampir 80 persen jamaah haji asal Sleman berusia lanjut atau di atas usia 50 tahun. Bahkan, beberapa orang jamaah juga terindikasi menderita penyakit seperti kelainan fungsi ginjal dan jantung.‬

‪”Usia yang lanjut tersebut cukup rentan terhadap penyakit maupun penurunan kondisi fisik,” katanya.‬

‪Silvia mengatakan satu jamaah asal Sinduadi, Mlati, Djumirah (81), meninggal dunia setelah menginjakkan kaki di Padang Arafah.‬

“Kemungkinan karena kelelahan dan kondisi fisik menurun karena usianya sudah cukup lanjut,” pungkas Silvia.‬




Jamaah Haji Sleman Kloter 25 SOC Tiba di Sleman

DSC_0701Sleman – Pada musim haji kali ini sedikit berbeda dengan musim haji sebelumnya. Beberapa kejadian yang terjadi selama musim haji ini menorehkan memori yang begitu membekas bagi jamaah haji. Dari mulai cuaca yang extrem, jatuhnya crane di Masjidil Haram serta kejadian di Mina.

“Dimana salah satu saudara kita menjadi korban dalam kejadian tersebut. Begitu berat dan banyaknya kejadian selama menjalani ibadah haji yang lalu menjadi moment penempaan spriritual bagi para jamaah haji,” kata Sekretaris Daerah Sleman, dr Sunartono MKes ketika menerima kepulangan jamaah haji Sleman kloter 25 S00C di serambi Masjid Agung, Kamis (8/10).

Lebih lanjut disampaikan Sunartono bahwa setiap kejadian dapat diambil hikmah agar diri ini semakin tunduk dan taat, karena sesungguhnya  tiada daya upaya melainkan atas kehendakNya. Serta dapat berbagi hikmah dan ilmu yang diperoleh selama menjalani ibadah haji kepada sanak saudara, kerabat dan lingkungan sehingga dapat menularkan nilai-nilai positif guna peningkatan keimanan.

“Begitu banyak hikmah ibadah haji yang diperoleh, baik meningkatkan kedisiplinan, meningkatkan ibadah dan rasa solidaritas juga memunculkan kesabaran,” tambah Sunartono.

Pada kesempatan tersebut Sunartono mengucapkan terimakasih atas kesabaran dan keikhlasan  jamaah haji Sleman dalam menerima pelayanan dari para pembimbing dan petugas haji. Semoga kesabaran dan keikhlasan tersebut mendapatkan pahala yang setimpal dari Allah SWT.

Jamaah Haji kloter 25 SOC yang kembali di Sleman sesuai keberangkatan sebanyak 119 jamaah, namun dua diantaranya tidak sampai di Masjid Agung Sleman, tetapi dari Asrama Haji Donohudan langsung dijemput keluarganya dengan ambulance karena dalam kondisi sakit. Dua jamaah haji tersebut  Boedi Santosa dan Noer Dody Irmawati keduanya beralamat di Kembang Maguwoharjo Depok Sleman.




Meninggal, Jamaah Haji Sleman Jadi Korban Crane di Mekkah

1409 SLEMAN KORBAN CRANE MEKKAHSleman –  Setelah dinyatakan hilang selama 3 hari, seorang jamaah haji asal Kabupaten Sleman akhirnya ditemukan menjadi korban tewas dalam musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram Mekkah Arac Saudim, Jumat (11/9). 
Setelah mendapat kabar duka tersebut  pihak keluarga menangis histeris, karena  mengetahui ayah 3 anak tersebut tidak bisa kembali lagi ke rumah. Korban jamaah haji yang meninggal tersebut adalah jamaah haji kloter 27 SOC atas nama  Sriyana warjo Sihono bin Warjo Sihono warga Rewulu Kulon RT 3 RW 22 Desa Sidokarto Kecamatan Godean Sleman.
Tangisan histeris istri dan anak-anak tidak tertahankan lagi setelah mendengar kabar bahwa suami dan ayah mereka yang sedang menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah dikabarkan meninggal dunia akibat misibahg jatuhnya crane di Masjidil Haram.
Putri pertama Sriyono, Khusnul Latifah (21) terlihat lemas dengan mata yang sembab. Ia bebebarap kali sempat pingsan dan sejumlah sanak saudara mencoba menenangkannya. Sementara sang istri, Suryatiningsih terlihat tegar saat menerima tamu yang datang meski sisa air mata masih terlihat di kelopak mata.
Sejumlah tamu perempuan yang mengenalnya mengucapkan belasungkawa sembari memberikan pelukan untuk menenangkannya. Di rumah duka juga tampak putri kedua almarhum, Alfiah Nur Hidayah (18) dan putri ketiga, Zakia Nur Afifah (11) Beberapa rekan kerja dan guru sekolah datang melayat. Rombongan siswa SMK N 2 Depok juga mendatangi rumah duka.
“Beliau merupakan salah satu guru di SMK N 2 Depok,” kata Muhammad Fauzan, kakak sepupu Sriyono
Pasca kejadian tersebut mereka memang sempat kehilangan kontak dengan korban Sriyana. Namun karena tidak tercantuim dalam daftar korban mereka masih berharap Sriyana bisa ditemukan dalam kondisi selamat.
Namun setelah 3 hari dinyatakan hilang, karapan untuk bertemu kembali dengan Sriyana akhirnya harus sirna karena pria berusia 48 tahun itu dilaporkan turut menjadi korban meninggal dalam musibah jatuhnya crane tersebut. Kontak terakhir dilakukan pihak keluarga pada hari Jumat lalu sesaat sebelum pergi ke Masjidil Haram untuk melakukan sholat ashar.
Sementara menurut Kepala Kantor Kementrian Agama Sleman, Lutfi Hamidm dikalangan pengelola haji di  Sleman, Sriyana yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar di SMK Depok ini dikenal aktif memposting info-info dari tanah suci. Terutama jika ada jamaah haji yang hilang. Tak hanya itu , Sriyana juga sempat mengunggah sebuah puisi dalam postongannya di grup medi a sosial.
Sriyana mendaftar haji sejak tahun 2000, dan korban berangkat ke tanah suci tanggal 30 Agustus lalu dan bergabung di kloter 27 SOC. Pihak keluarga sebenarnya berharap jenazah korban bisa dibawa pulang ke tanah air untuk dimakamkan, Namun karena terkendala aturan dari Pemerintah Arab Saudi , mereka mengaku pasrah dan mengiklaskan jenazah Sriyana dimakamkan di tanah suci.



Jamaah Haji Sleman Terbagi 4 Kloter

Sleman – Jumlah jamaah haji dari Kabupaten Sleman pada tahun 2015 ini  tercatat sebanyak 925 orang, dengan perincian 424 laki-laki, dan 501 perempuan.

“Mereka terbagi dalam 4 kelompok terbang (kloter) yang akan berangkat dari embarkasi Bandara Adisoemarmo di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama, Kabupaten Sleman, Lutfi Hamid, Minggu (23/8).

Menurut Lutfi,  kloter pertama yaitu Kloter 25 SOC dengan jumlah jamaah 118 orang pemberangkatan pada 28 Agustus 2015 pukul WIB dan pemulangan 8 Oktober 2015 pukul WIB tiba di Sleman.

Setelah itu diberangkatkan Kloter 27 SOC jumlah jamaah 352 orang pemberangkatan 30 Agustus 2015 pukul WIB dan pemulangan 9 Oktober 2015 pukul tiba di Sleman, Kloter 28 SOC jumlah jamaah 105 orang pemberangkatan 30 Agustus 2015 jam WIB. Dan tiba di Sleman 9 Oktober 2015 jam dan Kloter 29 SOC jumlah jamaah 350 orang pemberangkatan 30 Agustus 2015 pukul dan tiba di Sleman 9 Oktober 2015 jam WIB.

“Seluruh kloter berangkat dari Sleman menuju Donohudan tiga jam sebelum jam keberangkatan,” katanya.

Ditambahkan, calon jamaah haji tertua untuk laki-laki atas nama Mujiharjo Abdul Rajak yang baerusia 82 tahun dari Dusun Sumber Kulon 06/31 Kalitirto Berbah Sleman, calon jamaah haji tertua wanita atas nama Parinem Darmo Suwito berusia 89 tahun berasal dari Gamplong 03/02 Sumberahayu Moyudan.

Sedangkan calon jamaah haji termuda laki-laki atas nama Muhammad Fandi Asnan baerusia 20 tahun berasal dari Taegalsari, Dawukan, Sendangtirto, Berbah dan calon jamaah haji wanita termuda atas nama Mia Intan Anisa baerusia 21 tahun berasal dari Tegalsari, Dawukan, Sendangtirto, Berbah. Luyfi juga menghimbau  kepada calon jamaah haji Kabupaten Sleman untuk mempersiapkaan kondisi fisik mengingat kondisi di Arab Saudi sangat berbeda dengan kondisi di tanah air.

Terlebih lagi menurut informasi dari Kementrian Kesehatan RI, cuaca musim haji tahun ini diprediksi cukup ekstrem, hal itu terkait dengan gelombang udara panas yang melanda Arab Saudi, khususnya Makkah, selama pelaksanaan ibadah haji nanti. Jamaah dihimbau memperbanyak minum air untuk mencegah dehidrasi, karena saat musim haji nanti suhu di Makkah bisa mencapai 50 derajat Celsius. Selain iklim dan kondisi pemondokan, aktifitas ibadah haji juga membutuhkan kondisi fisik yang prima.




Jamaah Haji Sleman Pamitan Bupati

2608 SLEMAN PAMITAN HAJISleman – Menunaikan ibadah haji bukan hal yang mudah karena membutuhkan niat dan bekal yang cukup. Niat saja, tanpa diimbangi dengan bekal yang cukup tentu kita akan kesulitan mewujudkan niat itu.

Sebaliknya, bekal atau rejeki dari Allah SWT sudah ada, tetapi niat belum mantap dan teguh maka ibadah haji tidak akan berjalan dengan lancar. Mengingat beratnya ibadah haji yang akan dijalani, bekal yang harus dipersiapkan pun tidak cukup hanya materi, namun juga kesiapan fisik dan mental.

“Oleh karena itu kami berharap Bapak/Ibu mampu melaksanakan ibadah yang memerlukan biaya yang cukup besar dan kondisi fisik yang baik ini dengan seoptimal mungkin,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI ketika menerima pamitan jamaah haji di Pendopo rumah Dinas Bupati, Selasa (26/8).

Dikatakan Sri Purnomo pelaksanaan haji merupakan ibadah puncak atau kesempurnaan dari Rukun Islam, yang harus dilandasi dengan niat yang ikhlas dan usaha/ikhtiar sesuai dengan peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Disamping itu lanjutnya, dalam perjalanan menunaikan ibadah haji ada banyak cobaan, hambatan dan ujian. Namun demikian jika Allah SWT menghendaki bagaimana pun juga hambatan dan rintangan yang dihadapi, Allah SWT akan memudahkan dan semuanya dapat diatasi dengan baik. Oleh karena itu, jamaah haji harus senantiasa berdoa mohon petunjuk dan kemudahan dari-Nya.

Sri Purnomo juga berpesan agar semua calon jemaah haji tetap sabar, khusuk, menjaga kesehatan, serta mematuhi semua petunjuk petugas haji baik sebelum berangkat maupun setelah berada di tanah suci.  Disampaikan pula  berdasarkan data yang ada saat ini di Tanah Suci, khususnya di Mekkah dan Madinah pada bulan Juli-September adalah bulan paling panas. Rata-rata suhu minimum antara 38C sampai 39C, dan rata-rata suhu maksimum mencapai 42C – 44C. Tetapi curah hujan masih sering terjadi meskipun sedikit jumlahnya.

Rata-rata 2 sampai 3 hari ada hujan dengan banyaknya curah hujan antara 2 dan 7 mm per bulan. .Keberangkatan jamaah haji ke tanah suci selain menjalankan ibadah juga merupakan Duta Bangsa. Untuk itu, sebagai bangsa yang berbudaya, bermartabat, serta menjunjung tinggi tata krama, para calon jamaah haji dapat menunjukkan sikap luhur tersebut di mata masyarakat dunia.

Disamping itu, dengan keteguhan iman, niat yang tulus dan mendalam serta dibarengi dengan tindakan-tindakan yang mulia dan terpuji, maka dapat menunaikan ibadah haji dengan khusyu dan pulang dapat membawa haji yang mabrur. Sedangkan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sleman Drs HM Lutfi Hamid MAg  menyampaikan bahwa biaya penyelenggaraan Ibadah haji tahun 1435 H/ 2014 M untuk embarkasi solo sebesar USD . Jumlah jamaah haji Kabupaten Sleman yang sudah melunasi dan memenuhi persyaratan untuk diberangkatkan 918 jamaah.

Sementara untuk pemberangkatan dan pengkloteran jamaah haji Kabupaten Sleman tahun 2014  diberangkatkan melalui embarkasi Donohudan solo dan tergabung dalam gelombang I yang terbagi dalam 4 kloter. Dalam keadaan 1 kloter utuh jamaah haji kabupaten sleman  dan 3 kloter campuran dengan jamaah haji kabupaten/kota lainnya, dengan rincian Kloter 23 SOC jumalah jamaah 366 orang akan berangkat dari Kabupaten Sleman tanggal 9 September 2014 pukul WIB dan akan kembali di Kabupaten Sleman tanggal 19 Oktober 2014 pukul WIB.

Kloter 24 SOC jumlah jamaah 154 orang akan berangkat dari Sleman tanggal 9 September 2014 pukul WIB dan kembali di Sleman tanggal 19 Oktober 2014 pukul WIB.
Berikutnya kloter 26 SOC jumlah jamaah 186 orang berangkat dari Sleman tanggal 10 September 2014 pukul WIB dan akan tiba kembali di Sleman tanggal 20 Oktober 2014 pukul WIB.

Kloter 27 SOC dengan jumlah jamaah 157 orang akan berangkat dari Sleman tanggal 11 September 2014 pukul WIB dan kembali lagi di Sleman tanggal 21 Oktober 2014 pukul WIB dan kloter 29 SOC dengan 53 jamaah haji akan berangkat dari Sleman tanggal 11 September 2014 pukul WIB dan kembali lagi di Sleman tanggal 21 Oktober 2014 pukul WIB.

Jumlah jamaah haji tersebut terdiri pria 438 orang dan wanita 480 orang. Sedang calon jamaah haji tertua Muhammad Hasanudin Bin Iman Karso yang berusia 91 tahun dari Pencar Sindumartani Ngemplak Sleman dan calon jamaah haji termuda usia 19 tahun atas nama Laila Kurnia Putri Binti Ikhsan dari PRM Sukoharjo Indah Sukoharjo Ngaglik Sleman.