Usaha Jamu Tradisional Instan Tak Takut Bersaing Dengan Jamu Olahan Pabrik

jamu ngemplak (1024 x 683)Sleman – Usaha jamu tradisional instan berskala produksi rumah tangga di Dusun Kalisoro, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak Sleman, tidak takut bersaing dengan jamu hasil olahan pabrik. Rumah milik Sri  Indiarti Mukinah di Dusun Kalisoro Desa Umbulmartani Ngemplak sudah menjadi rumah produksi jamu tradisional instan sejak 1997.

Dijelaskan Sri waktu itu, ibu-ibu di Dusun Kalisoro diajari cara membuat jamu. “Saya lalu coba-coba latihan di rumah dan berhasil,” kata Sri .

Pemasarannya, pada awalnya dicoba  di warung. Produk jamu instan ini  juga dibawa waktu ada pertemuan ibu-ibu PKK. Ternyata banyak yang bilang cocok dan bisa menyembuhkan penyakit. Saat ini, dalam satu hari, rata-rata Sri dan anggota kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Citrasari bisa membuat tiga resep jamu sebanyak tiga kilogram.

Setiap satu kilogram jamu bisa dibagi menjadi 150 bungkus. “Bahan bakunya saya menanam sendiri di rumah, tapi ada juga yang beli di pasar,” papar ibu dari enam orang anak itu.

Satu kemasan berisi lima bungkus jamu tradisional instan dijual seharga Rp hingga Rp .  Perempuan yang menjabat sebagai Ketua UPPKS Citrasari tersebut mengaku, laba yang didapat dari penjualan jamu instan memang tidak banyak, hanya sekitar Rp per bulan.

Meski demikian, Sri yakin usahanya bisa tetap bertahan. Dia bahkan tidak takut dengan produk jamu tradisional instan serupa maupun jamu pabrik. “Tidak apa-apa banyak saingannya. Semua punya rezeki sendiri,” tutur Sri.

Ada beberapa jenis jamu tradisional instan produksinya diantaranya  jamu temulawak, kunir putih, jahe, jahe merah, kunir asam, kencur, hingga jamu peluntur lemak dan minuman secang instan.

“Ini pemasarannya sudah sampai swalayan dan supermarket. Yang paling laku itu jamu peluntur lemak, kunir asam, dan jahe. Returnya paling sedikit,” ungkap Sri.