Jelang Lebaran, Keripik Belut Kebanjiran Order

Sleman – Momentum lebaran mendatangkan keuntungan tersendiri bagi produsen oleh-oleh dan camilan. Salah satu yang ikut menikmati berkah hari raya ini adalah pelaku usaha keripik belut.
Menjelang Idul Fitri, pesanan di tempat mereka bisa melonjak hingga tiga kali lipat. Wartiyem (47), salah satu produsen keripik belut di Dusun Klaci II, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Sleman menuturkan, pada hari biasa produksi sebulan berkisar 500 kg-1 ton. Namun memasuki lebaran ini, order yang sudah masuk sekitar 2-3 ton.
“Alhamdulillah banyak pesanan. Hanya saja kendala ada di bahan baku,” ungkap Warti, Kamis (23/6).
Selama ini, Warti mengambil bahan baku dari wilayah Jawa Timur. Pada hari pasaran biasa, usahanya mendapat jatah 1 hingga 1,5 ton belut segar tapi menjelang lebaran ini hanya dipasok 8 kuintal. Untuk menambah stok bahan baku, Warti mengambil dari luar daerah seperti Jawa Barat dan Cilacap.
Tapi itu pun tetap belum bisa menutupi kebutuhan. Ditambah lagi harga bahan baku belut yang terus merangkak naik dari semula Rp menjadi Rp Akhirnya, produsen terpaksa menaikkan harga.
Produk keripik belut kualitas 1 kini dijual seharga Rp , kualitas 2 Rp , dan kualitas 3 Rp Sebelumnya, harga hanya di kisaran Rp
“Terpaksa dinaikkan karena harga bahan baku dan minyak goreng juga terus naik. Untung saja konsumen bisa paham,” ujar ibu dua anak yang sudah membuka usaha sejak tahun 2002 ini.
Dia mengaku sudah berusaha menekan harga agar bisa terjangkau di konsumen semua segmen. Salah satu caranya dengan membuat tepung sendiri dicampur dengan tepung pabrik.
Tapi tepung campuran ini hanya digunakan untuk produk nomer dua dan tiga, sedangkan keripik belut kualitas pertama tetap memakai tepung pabrikan.
