Tindak Lanjuti Gerakan Menuju 100 Smart City, Sleman Bentuk Dewan Smart City

Sleman – Kabupaten Sleman sebagai wilayah penyangga Kota Yogyakarta beberapa wilayahnya kini tumbuh menjadi perkotaan dan turut mengalami banyak tantangan dalam pembangunan. Kesenjangan antar wilayah desa-kota, pemenuhan standar pelayanan, kemiskinan, masalah sosial dan keamanan, kualitas dan produktivitas SDM, dan pengelolaan lingkungan adalah sebagian dari permasalahan yang umum menimpa daerah yang sedang berkembang menjadi perkotaan. Oleh Pemkab Sleman, permasalahan dan tantangan tersebut coba dijawab dengan memanfaatkan teknologi yang dipadukan dengan strategi pemerintah dan partisipasi warga.

Kabupaten Sleman pada 22 Mei lalu telah menandatangani nota kesepahaman dengan Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo nomor 41/ tentang Implementasi Gerakan Menuju 100 Smart City. Tindak lanjut dari nota kesepahaman tersebut Kabupaten Sleman kemudian menunjuk Dewan Smart City dan Tim Pelaksana Pengembangan Smart City untuk menyusun masterplan smart city.

“Penyusunan masterplan itu tidak bisa hanya dilakukan oleh Dinas Kominfo saja, namun harus bersinergi dengan berbagai perangkat daerah di Sleman. Masterplan ini nanti haruslah efektif, efisien, sinergis, komprehensif, dan berkesinambungan,” terang Intriati Yudatiningsih, Kepala Dinas Kominfo Sleman di Ruang Rapat A Lantai 3 Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman, Selasa (18/7) dalam acara bimbingan teknis Penyusunan Master Plan Smart City dan Quick Win Smart City. Bimbingan teknis diikuti oleh dewan smart city dan tim pelaksana pengembangan smart city dan menghadirkan Robertus Theodore, Deputi Bidang Pengelolaan dan Pengendalian Program Prioritas Kantor Staf Presiden sebagai narasumber.

Sleman sendiri sebelum menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Kominfo telah menjadikan smart city sebagai tujuan pembangunan yang di Sleman diadaptasi menjadi smart regency dan sudah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Visi Kabupaten Sleman 2015-2021 yaitu terwujudnya masyarakat Sleman yang lebih sejahtera mandiri, berbudaya dan terintegrasikannya Sistem e-Goverment menuju smart regency (Kabupaten Cerdas) pada tahun 2021.

Tentu saja, mengembangkan  smart  city/regency  bukan  dengan menjadikan IT dan solusi teknologi sebagai tujuan akhir–misalnya dengan membuat command center yang  mewah  namun  miskin  fungsi.  Tetapi  lebih  fokus  kepada  inovasi  dan  terobosan  untuk menyelesaikan masalah prioritas dan atau mengembangkan  sektor unggulan daerah, berbasis data yang  terintegrasi,  dan  kolaboratif  antar  sektor.  Lebih dari itu, pembangunan  berbasis  smart  city secara simultan harus bisa menghasilkan smart people dan smart society.




Gelar Potensi Seni dan Budaya di Embung Serut

Desa Banyuraden, Gamping, Sleman menyelenggarakan Gelar Potensi Seni dan Budaya Banyuraden 2017 di Embung Serut, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping pada Sabtu (15/4). Dimulai dari pukul WIB hingga WIB, gelar potensi dan budaya ini menyuguhkan berbagai acara seperti Talkshow yang menghadirkan pembicara Tri Suko (pengrajin gamelan), Gaung Kyan Renantya Sidharta (penata iringan ketoprak terbaik 2015), Ethan Louis Boyd (pengrawit gamelan asal Amerika), Aji Wulantara (Plt Kepala Disbud Sleman), Sarjono (penggiat seni Banyuraden). Selain itu juga ditampilkan bazar aneka potensi lokal setempat, sholawat, karawitan, dan kethoprak.
Sementara itu pagelaran kesenian yang ditampilkan antara lain Tari Topeng Penglebar Kertas (I Wayan Dana), Tari Jaran Kore (SDN Banyuraden), Tari Kutuk, Tari Gedruk, Tari Kebyar (Sanggar Among Siwi), Tari Oglek, Tari Kebyok Anting Anting (SDN Patran), Tari Ular (Sanggar Sensen), dan Tetayang Kyai Demakidjo (Sanggar Demakidjo).
Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Aji Wulantoro menyampaikan bahwa dari potensi kebudayaan yang ada di desa harus dikembangkan serta diberdayakan menjadi rintisan desa budaya dan akhirnya menjadi desa budaya. Pola mewujudkan masyarakat berbudaya di Kabupaten Sleman ini dilakukan secara berjenjang dari kantong budaya yang dipilih pada suatu desa yang memiliki potensi dasar.
“Semua desa memiliki potensi kebudayaan, menjadi tugas pemerintah untuk mengarahkan dan membina aktivitas budaya masyarakat agar kebudayaan yang ada mengerucut pada suatu titik sehingga terwujud masyarakat berbudaya sesuai dengan visi Pemkab Sleman”, kata Aji.
Sementara itu Bupati Sleman Sri Purnomo yang membuka acara ini mengapresiasi terselenggaranya gelar potensi dan seni budaya yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pemdes Banyuraden. Menurutnya potensi budaya yang ada di Banyuraden bisa digali dengan maksimal serta dapat dikembangkan sehingga Banyuraden mampu menjadi salah satu kantong budaya di Sleman.
“Banyuraden merupakan salah satu desa di Kabupaten Sleman yang seringkali menyelenggarakan event budaya, bahkan ada acara budaya tahunan yang rutin diselenggarakan. Saya berharap even-even budaya tersebut terus dijaga dan dikembangkan agar Banyuraden mampu menjadi kantong budaya di Sleman”, jelas Sri Purnomo. Pada kesempatan yang sama Sri Purnomo berpesan agar Embung Serut yang menjadi latar acara ini agar dijaga kebersihan dan keindahannya.




Festival untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Sleman – 150 anak yang berasal sembilan sekolah untuk anak autis di Yogyakarta, diantaranya Bina Anggita, Citra Mulya Mandiri, Dian Amanah, Fajar Nugraha, Fredofios, Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina, Primagama, Taruna AL-Quran, Yapenas dan Sekolah Inklusi mengikuti Festival Ajang Bakat Anak Istimewa, Sabtu (8/4). Festival Ajang Bakat Anak Istimewa ini meliputi lomba fotografi, menggambar, mewarnai dan pentas seni.

Rita Ekawati selaku Ketua Panitia Festival Ajang Bakat Anak Istimewa mengungkapkan bahwa festival ini berfungsi sebagai wadah bagi anak-anak penyandang autis untuk menunjukkan bakat serta kemampuannya. Selain itu dari festival seperti ini diharapkan agar orang tua dan masyarakat bisa menerima anak berkebutuhan khusus sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri, sehingga hak-haknya sebagai masyarakat dapat terpenuhi.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengungkapkan bahwa sudah banyak contoh keberhasilan yang diraih oleh anak-anak autis. Maka yang perlu dilakukan oleh orang tua dan masyarakat adalah mengarahkan dan mengoptimalkan kemampuan yang mereka miliki, salah satunya dengan Festival Ajang Bakat ini. Bertepatan dengan Hari Autis Sedunia, Sri Muslimatun berharap agar acara ini tidak hanya berhenti sebagai acara seremonial saja namun juga dimanfaatkan sebagai sarana informasi dan edukasi terhadap masyarakat, sehingga dapat tumbuh kesadaran dan penerimaan masyarakat atas keberadaan anak autis. Selain itu, Sri Muslimatun juga berharap informasi dan edukasi dapat diberikan kepada orang tua untuk mengetahui apa yang perlu dilakukan untuk mengarahkan dan memaksimalkan kemampuan anak dalam mempersiapkan mereka agar dapat mandiri di tengah-tengah masyarakat.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun  membuka Festival Ajang Bakat Anak Istimewa ini di Kantor Kecamatan Depok Kabupaten Sleman. Acara ini diprakarsai oleh Forum Komunikasi Orang Tua dan Masyarakat Peduli Autis Yogyakarta (Forkompak).




Mengenal Sejarah Stasiun Maguwo

Sleman – Stasiun Maguwo Lama merupakan satu dari sedikit stasiun kayu yang tersisa di Indonesia. Bangunan kayu tersebut diresmikan pada tahun 1909 dan sejak itu menjadi saksi dari kejayaan 18 pabrik gula yang pernah berdiri di Yogyakarta. Bukan itu saja, Stasiun Maguwo Lama juga menyimpan banyak kisah-kisah pilu Yogyakarta di masa Agresi Militer II.

Stasiun Maguwo Lama mulai beroperasi seiring beroperasinya jalan rel rute Klaten – Lempuyangan (30 km) oleh perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij). Jalan rel tersebut merupakan bagian dari jalur kereta api rute Solo – Yogyakarta yang dibangun oleh NIS.

Bangunan stasiun Maguwo Lama yang didirikan pertama kali itu selanjutnya dibongkar pada tahun 1930, kemudian dibangunlah bangunan baru yang dapat dilihat sampai sekarang. Meski saat ini sepi dan tidak ada aktivitas perkeretaapian lagi, namun ternyata stasiun ini menyimpan banyak cerita bersejarah.

“Stasiun Maguwo lama merupakan stasiun unik karena menjadi satu dari sedikit stasiun yang masih memakai kayu sebagai bahan utama,” kata Seksi Bidang Bangunan Komunitas Roemah Toea, Hari Kurniawan saat Kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis dan Jelajah Heritage di Stasiun Maguwo Lama, Minggu (2/4). Kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis dan Jelajah Heritage ini sendiri adalah upaya yang digagas untuk mempromosikan nilai-nilai budaya Jogja. Diikuti oleh mahasiswa, blogger, dan pecinta fotografi, acara berlangsung ramai dan unik karena peserta mengenakan pakaian rakyat Jawa tempo dulu dan pakaian pejuang di era revolusi.

Bergaya arsitektur Eropa, Stasiun Maguwo Lama berbentuk persegi panjang, memiliki empat ruang, yaitu ruang PPKA (pimpinan perjalanan kereta api), ruang kepala stasiun yang tergabung dengan loket tiket, ruang dapur dan ruang tunggu penumpang.

Ketika masih aktif, stasiun ini melayani bongkar muat pupuk Sriwijaya ke gudang pupuk dan melayani angkutan ketel untuk memasok Avtur ke Bandara Adisucipto. Seiring dengan diaktifkannya Stasiun Maguwo baru pada tahun 2008 yang terintegrasi dengan bandara Adisucipto maka stasiun Maguwo lama ini dinonaktifkan. Karena memiliki nilai sejarah, maka bangunan stasiun Maguwo lama kemudian masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya.

Pada tahun 2010, Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan – PT Kereta Api Indonesia (persero) melakukan perawatan dengan cara memperbaharui warna cat sehingga tampak lebih bersih dan rapi. Bangunan yang sudah lama tidak berfungsi ini direncanakan akan dihidupkan kembali agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Saat ini bangunan antik tersebut banyak dimanfaatkan oleh para pecinta bangunan heritage, komunitas fotografi, dan blogger.