Koreksi Informasi Sebelum Disebarluaskan

Gamping – Jumat (13/7/2018) pukul WIB, forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Sleman menggelar syawalan dan tauziyah jurnalistik di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidomulyo, Gancahan VII, Kecamatan Godean.

Dalam sambutannya, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo Sleman, Noor Hidayati Zakiyah menyampaikan bahwa pertemuan kali ini selain untuk mempererat kekerabatan, juga membahas tentang rencana lomba antar KIM se-Kabupaten Sleman.

Syawalan yang dihadiri oleh pengurus KIM tingkat kecamatan dan KIM tingkat desa, serta karang taruna ini diisi tauziyah jurnalistik yang disampaikan oleh Atik jurnalis surat kabar dan Iqbal Aji Daryono seorang pakar media digital.

Dalam tauziyahnya, Atik menyarankan kepada anggota KIM dalam mendistribusikan informasi agar berdasarkan fakta sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

“KIM merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah dalam hal penyebarluasan informasi ke masyarakat. Oleh karena itu, perlu melakukan koreksi informasi terlebih dulu sebelum disampaikan ke khalayak umum,” ucap Atik.

Dalam kesempatan sinau bareng jurnalistik ini, Iqbal menghimbau sebagai anggota KIM harus bisa menata moral dalam bermedsos (media sosial), artinya KIM harus cerdas, kritis, serta berperan sebagai aktor.

“Dan yang terpenting dapat menyajikan informasi yang berat menjadi bacaan ringan sehingga mudah dipahami pembaca,” ujar Iqbal.  (Adnan Nurtjahjo)




Sulitnya Melakukan Pemasaran Media Cetak

Gamping – Dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2017, Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyelenggarakan Lokakarya Jurnalistik, Selasa (24/10) di Lantai 2 Gedung Balai Bahasa DIY Kotabaru.

Acara yang dimulai pada pukul WIB ini menampilkan narasumber Redaktur Pelaksana Minggu Pagi Latief Noor Rochmans. Lokakarya diikuti oleh KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) Kecamatan Gamping beserta 80 orang dengan latar belakang guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa.

Latief Noor Rochmans memaparkan bahwa membuat media cetak itu tidaklah sulit, justru yang sulit adalah bagaimana menjualnya.

Untuk membuat media cetak dipaparkan Latief perlu melakukan beberapa langkah seperti harus menentukan segmentasi, kemudian menentukan format (tabloid, koran, buletin, majalah). Selanjutnya membuat perencanaan liputan, yang meliputi apa, dimana, siapa, kapan dan bagaimana pelaksanaan liputannya (kaidahnya harus memenuhi 5W1H + save). Setelah itu, melakukan pendaftaran ke internet. Langkah lanjutannya adalah hunting berita, menulis berita, editing, dan membuat lay out serta pencetakan.

Diakui Latief langkah paling sulit dilakukan setelah media cetak jadi adalah pemasaran, baik medianya maupun menjual iklannya.

Di akhir paparan materinya Latief menyampaikan bahwa menulis adalah bakat. Selain itu, untuk dapat menulis seseorang perlu banyak membaca. (Adnan Nurtjahjo)