Kasus DBD Meningkat, Tapi Belum KLB

Sleman – Menjelang musim pancaroba masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Apalagi kasus DBD di Kabupaten Sleman pada tahun 2016 ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2015 lalu.

“Iya benar kasus DBD di Sleman tahun ini meningkat bila dibanding tahun lalu. Berdasarkan data yang ada di kantor Dinas Kesehatan jumlah kasus DBD tahun 2015 ditemukan sebanyak  520 kasus, sedang pada tahun 2016 ini dari bulan Januari sampai September sudah ditemukan 644 kasus, dengan 11 meninggal dunia,” kata dr Mafilindati Nuraini MKes, Kepala Dinas Kesehatan Sleman dikantornya, Senin (19/9).

Menurut Linda, meski kasusnya meningkat namun saat ini tidak memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. Ada 7 kriteria untuk menetapkan KLB DBD,‪ antara lain, jumlah kasus tidak menunjukkan kenaikan dua kali lipat dari angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya dan jumlah korban tidak meningkat 50 persen atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

Yang perlu diperhatikan lanjut Linda, masyarakat perlu terus waspada agar meningkatkan kepedulian melihat lingkungan tempat tinggal masing-masing,
memantau adanya jentik-jentik nyamuk aedes aegepti di tempat-tempat yang mengandung potensial dan melakukan gerakan 3M Plus.

“Kondisi musim kemarau basah dan juga masa pancaroba berpotensi menimbulkan genangan habitat kembang biak jentik nyamuk demam berdarah,” kata Linda.‬

‪Cuaca sekarang ini relatif tidak menentu. Kemarau basah memungkinkan hujan datang mendadak meski cuaca panas.‬ ‪Hal ini disebutnya jadi satu di antara pemicu munculnya kasus DBD. Pasalnya, hujan memunculkan potensi genangan air yang menjadi sarang nyamuk.‬

Pencegahan paling efektif tentu dengan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan keterlibatan aktif masyarakat. Bisa saja, lingkungan rumah sudah bersih.

“Tetapi ternyata justru di tetangga tidak,” tutur Linda.

‪Karena itu lanjutnya masyarakat diminta berperan aktif dalam kegiatan PSN. Misalnya, kerjabakti membersihkan lingkungan sekitar untuk mencegah munculnya genangan air yang bisa dijadikan tempat berkembangbiak nyamuk. Sebab, jelasnya, petugas pernah menemukan jentik justru di vas bunga hingga galon air minum.‬

‪Pihaknya saat ini pun terus menggalakkan gerakan juru pemantau jentik (jumantik). Mengingat, ada beberapa wilayah di Sleman yang termasuk daerah endemik DBD.‬ Antara lain di Kecamatan Depok, Kalasan, Gamping, Mlati dan Berbah.




Di Kalasan Ditemukan 88 Kasus DBD dan 3 Orang Meninggal

Sleman – Masih banyaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kecamatan Kalasan membuat Tim Kelompok Kerja Operasional  Demam Berdarah Dengue (Pokjanal DBD) kembali mengadakan gerakan Jumat bersih Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di  Padukuhan Pundung Klenggukan Desa Tirtomartani Kalasan, Jumat (26/8).

Tim ini terdiri dari gabungan personil  Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Bappeda, TNI dan Polri dan Desa serta jumantik Dusun. Camat Kalasan, Samsul Bachri menyampaikan bahwa dampak musim penghujan atau kemarau yang tidak menentu menyebabkan tumbuh kembangnya nyamuk meningkat, serta pola menjaga kebersihan lingkungan oleh  masyarakat belum maksimal.

Dikatakan Samsul, kasus DBD di Wilayah Kecamatan Kalasan sampai bulan Agustus  2016 ini tercatat mencapai 88 kasus DBD serta 3 orang meninggal dunia. Karena itu Samsul  berharap kepada setiap orang atau person bisa menjadi Pemberantas Sarang Nyamuk bagi dirinya maupun Kelurganya.

Tim pokjanal dalam melaksanakan Gerakan PSN di Padukuhan Pundung Desa Tirtomartani terbagi dalam 6 Kelompok, setiap kelompok terdiri 7 orang yang beranggotakan dari Kader Jumantik Padukuhan, Desa Kecamatan dan Kabupaten menjalankan pemeriksaan di rumah-rumah penduduk melihat langsung kamar mandi, kulkas, dispenser air minum, tempat minum burung dan lingkungan yang dimungkinkan untuk tumbuh kembangnya jentik.

Dari hasil pantuan 106 rumah warga didapatkan jentik pada 27 titik sehingga Angka Bebas Jentik (ABJ) di kawasan ini terbilang masih rendah yaitu 74,5 %. Tentu saja ini masih memungkinkan sekali untuk berkembangnya penyakit Demam Berdarah di daerah ini, terlebih lagi dalam monitoring Tim Jumantik banyak menjumpai jentik-jentik di bak mandi, ban bekas, dan botol bekas yang ada airnya.

Untuk itu warga diharapkan  melaksanakan bersih lingkungan setiap minggu, dan melakukan 3 M yaitu menguras, menutup dan mengubur barang bekas sehingga tidak ada genangan air yang terlihat, karena genangan air sedikitpun bisa untuk berkembang biak nyamuk Aedes Agepty penular demam berdarah.