Semula Kawasan Kumuh, Sekarang Brajan Jadi Sentra Kerajinan Bambu

IMG_0686Sleman – Pada mulanya Dusun Brajan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman adalah kawasan yang kumuh dengan ekonomi masyarakat dibawah garis kemiskinan. Namun berkat kesadaran masyarakat untuk hidup lebih baik, Dusun Brajan menjadi Dusun yang berkembang terutama dalam hal kerajinan bambu.

Berkat kegigihan masyarakatnya untuk meningkatkan perekonomiannya Dusun Brajan telah dikukuhkan menjadi Sentra Industri Kerajinan Bambu oleh Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes,  Senin (26/9). Pengukuhan tersebut merupakan wujud komitmen Pemkab Sleman dalam pengembangan produksi kerajinan bambu menindaklanjuti Surat Keputusan Bupati Sleman No. 57 Tahun 2016 tentang Sentra Industri di Kabupaten Sleman Tahap II.

Sulisman selaku Ketua Kelompok Pengrajin Bambu Brajan menjelaskan bahwa Dusun Brajan mulai merintis menjadi sentra kerajinan bambu dimulai pada tahun 1991. Sebelum tahun 1990 awalnya Dusun Brajan merupakan kawasan kumuh dengan ekonomi masyarakat dibawah garis kemiskinan, hampir setiap rumah terbuat dari gedhek (anyaman bambu) dan jarang anak-anak muda yang bersekolah karena kekurangan biaya.

Keadaan tersebut menjadikan masyarakat Brajan harus memutar otak yang pada akhirnya dengan bekal kemampuan menganyam bambu mereka mulai memberanikan diri memproduksi kerajinan hingga sekarang.

“Dengan bambu tersebut lambat laun kehidupan ekonomi masyarakat Brajan meningkat yang akhirnya bisa bertahan dan menjadi sumber penghasilan warga hingga sekarang,” kata Sulisman.

Menurut Sulisman pada tahun 2004 Dusun Brajan dicanangkan menjadi Desa Wisata Cinderamata Kerajinan Bambu. Sempat vakum beberapa tahun baru pada tahun ke 5 dikelola dan dikembangkan lagi oleh warga masyarakat.

Saat ini di Dusun Brajan terdapat kurang lebih 120 pengrajin dan 8 pengepul produk kerajinan. Brajan juga menjadi tempat study wisata kerajinan dengan menyediakan homestay yang mampu menampung 50 orang.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Sleman, Drs Pustopo menyampaikan bahwa tujuan pengukuhan sentra industri adalah untuk meningkatkan kompetensi sentra dalam kancah ekonomi global. Selain itu juga untuk meningkatkan peran serta kelembagaan sentra dalam pemberdayaan ekonomi melalui sentra industri kecil.

“Pada tahun 2015 Kabupaten Sleman mengukuhkan 10 sentra kerajinan, dan 2016 ini mengukuhkan 6 sentra termasuk Dusun Brajan,” jelas Pustopo.

Sementara Sri Muslimatun berharap dengan dikukuhkannya Dusun Brajan, Sendangagung, Minggir Kabupaten Sleman dapat meningkatkan dan pengembangkan potensi kerajinan bambu yang ada di  wilayah Brajan.

Muslimatun juga  mengajak seluruh pelaku industri, stakeholder dan masyarakat untuk bersama-sama memajukan potensi UKM yang ada di masing-masing wilayah. Salah satu caranya adalah dengan ikut menggunakan produk-produk tersebut, sehingga produk-produk UKM dapat menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.

Lebih lanjut Muslimatun menambahkan bahwa salah satu pelaku usaha yang memiliki eksistensi penting dalam pembangunan perekonomian daerah di Sleman adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Keberadaan UMKM, memiliki hubungan positip dalam program pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pada akhir tahun 2015 Kabupaten Sleman memiliki UKM,” kata Sri  Muslimatun.




P2KKP Sleman Tangani Kawasan Kumuh 75 Desa‬

Sleman – Tim Program Penanggulangan Kawasan Kumuh Perkotaan (P2KKP) Kabupaten Sleman saat ini sedang memfokuskan rencana kegiatan pembangunan penanggulanan kawasan kumuh di 75 desa di Sleman.‬

‪”Berdasarkan SK Bupati, kami ditugaskan untuk melakukan penanggulangan kawasan kumuh di 45 titik dari 17 desa di Kabupaten Sleman,” kata Koordinator P2KKP Kabupaten Sleman, Mahmud Al Harisi, di Sleman, Selasa (1/3).‬

‪Menurut dia, berdasarkan hasil survei lokasi P2KKP Sleman mendapatkan 75 desa harus dilakukan penataan lingkungan.‬

‪”Ada tujuh hal yang difokuskan P2KKP dalam penanggulangan kawasan kumuh, yaitu sanitasi, air minum bersih, drainase, rumah tidak layak huni, dan kebakaran,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, ada dua hal yang perlu didorong untuk percepatan target tercapainya penanganan kawasan kumuh yaitu kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan sekitarnya.‬

‪”Selain itu juga komitmen bersama dalam penanggulanan kawasan kumuh,” katanya.‬

‪Sementara Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes menanggapi positif dan mendukung program yang akan dilaksanakan tim P2KKP Kabupaten Sleman.‬

‪”Kontrol dan evaluasi perlu dilakukan agar tujuan dapat tercapai dengan memaksimalkan anggaran yang ada,” kata Sri Muslimatun.‬

‪Sri Muslimatun  juga berharap program-program yang ada untuk dikomunikasikan dengan Pokja sanitasi Kabupaten Sleman agar penataan lingkungan kumuh dan penataan sanitasi di Kabupaten Sleman akan lebih efektif, cepat, dan tepat sasaran.




40 Persen Kawasan Kumuh Ada di Depok

Sleman – Kasi Perumahan Swadaya Bidang Perumahan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman, Achmad Subhan mengungkapkan terdapat 45 kawasan kumuh yang tersebar di enam kecamatan. Sebanyak 40 persen di antaranya berada di wilayah Kecamatan Depok lantaran memiliki 18 kawasan kumuh.

“Enam kecamatan yang memiliki kawasan kumuh adalah Depok, Mlati, Gamping, Ngemplak, Ngaglik, dan Godean. Depok paling banyak kawasan kumuhnya karena di sana memang padat penduduknya,” ujar Subhan, Minggu (1/3).

Tahun ini, pemerintah berencana melakukan penataan terhadap 10 kawasan kumuh terlebih dahulu. Kecamatan Depok mendapatkan prioritas sehingga sebanyak enam kawasan kumuh di antaranya berada di wilayah tersebut.

“Dana yang dibutuhkan akan digelontorkan baik dari pemerintah pusat, propinsi, maupun kabupaten. Misalnya untuk membenahi jalannya yang jelek, kondisi drainasenya kurang bagus, atau bagaimana instalasi pengelolaan air limbahnya,” kata Subhan menerangkan.

Subhan menambahkan baru empat wilayah kecamatan yang kawasan kumuhnya akan ditata pada tahun 2015. Di antaranya adalah Kecamatan Depok, Mlati, Gamping, dan Ngaglik.

“Ini kami masih menunggu bagaimana kelanjutannya dari pemerintah pusat,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Depok Budiharjo mengaku wilayahnya memang bisa dibilang paling padat dibanding kecamatan lain.

“Kepadatan penduduk di Depok memang sangat tinggi sehingga kebutuhan akan pemukiman juga lebih besar. Hal ini yang memicu adanya beberapa kawasan kumuh,” ungkap Budi. Budi mengatakan masalah penataan kawasan kumuh telah ditangani DPUP Sleman dan pihak terkait lain.

 “Konsultan juga sudah mulai sosialisasi kepada masyarakat untuk pemetaan dan perencanaan pelaksanaan program ini,” kata mantan Camat Gamping itu.

Budi berharap, masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam proses sosialisasi tersebut.

“Supaya tepat sasaran dan sesuai kebutuhan, masyarakat bisa membantu dengan menyebutkan apa kebutuhannya kepada tim di lapangan,” ucapnya menambahkan.