Pemkab Launching Kawasan Non Tunai

lounching kawasan non tunaiSleman – Tingkat transaksi non tunai di Indonesia masih tergolong rendah, berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), saat ini pembayaran tunai di seluruh Indonesia masih di kisaran 90 persen. Artinya hanya sekitar 10 persen dari seluruh transaksi dilakukan secara non tunai. Hal tersebut disampaikan Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi saat melounching kawasan non tunai di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Selasa (17/11).

Disampaikan Gatot  bahwa dengan Launching Kawasan Non Tunai di Kabupaten Sleman ini diharapkan mampu mendorong meningkatnya tingkat transaksi non tunai oleh masyarakat karena hal ini akan menunjuang pergerakan sektor perekonomian. Transaksi non tunai terbukti mempercepat perputaran ekonomi di suatu negara, karena transaksi ini sifatnya nyaman dan aman.

“Hal ini sejalajan dengan semangat pemerintah dalam memerangi korupsi, Launching Kawasan Non Tunai tersebut jauh lebih transparan dan akuntabel karena bisa selalu tercatat dan terlacak,” kata Gatot.

Gatot mengatakan bahwa desain biodegester sangat unik, kecil dan fleksibel dan tidak menimbulkan bau (ramah lingkungan) sehingga lebih cocok diterapkan di rumah tinggal, perkatoran, dan tempat-tempat yang hanya memiliki lahan terbatas. Sedang saat ini di Kabupaten Sleman sudah terdapat 172 kelompok sampah mandiri yang telah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.

“Dan ini terus kita dorong melalui program-program yang ada di Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, dengan bantuan komposter, dan program pendampingan pada pelaku,” tutur Gatot.

Selain itu lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Sleman juga melakukan pembinaan terhadap sekolah-sekolah dan pondok pesantren untuk menjadi sekolah dan pondok pesantren yang berwawasan lingkungan. Gatot juga berharap seluruh komponen Pondok Pesantren Sunan Pandanaran secara serius dan sepenuh hati dalam melaksanakan proram Program Pengembangan Kewirausahaan Santri (santripreneur) ini.

Dengan program ini nantinya para santri yang akan dapat mengabdikan keilmuannya didalam masyarakat, dan juga memiliki bekal dalam hal berwirausaha, sehingga nantinya dapat membuka banyak lapangan kerja yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta berkontribusi nyata dalam membangun ekonomi bangsa melalui aspek kewirausahaan yang Islami.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala Perwakilan BI Jogja Arief Budi Santoso, Kepala Kanwil kemenag DIY  . Nizaar Ali, Dekan fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Sunan Kalijaga  Dr Ibnu Qisam, dan pengasuh Ponpes Sunan Pandanaran KH. Mu’tashim Billah.

Pada kesempatan tersebut ada tiga moment yaang penting bagi Ponpes Sunan Pandanaran, yaitu penyetahan bantuan sosial Bank Indonesia untuk Ponpes Sunan Pandanaran, penyerahan Brizzi dari BRI dan kewirausahaan bagi santriwan/santriwati Sunan Pandanaran.

Sementara itu Jono Karyono dari BRI menyampaikan bahwa tahun 2016 nanti BRI akan meluncurkan satelit , dan satu satuanya Bank yang mempunyai satelit. Sampai saat ini jumlah kantor secara ada yang taerhubung real time online baik dalam maupun luar negeri, jumlah ATM ada , dan lainnya. Sedang untuk Jogja jumlah kantor ada 923,ATM , jumlah EDC , jumlah CDm 27, jumlah E   Buzz 4 jumlah agen Brilink   dan jumlah Teras keliling 33.