Kemarau Air Embung Susut 30 Persen

Sleman – Selama kemarau panjang yang berlangsung saat ini berdampak pada cadangan air di wilayah Kabupaten Sleman. Air yang tersimpan di sejumlah embung di Sleman mulai menyusut cukup drastis.

“Berdasarkan kajian dari Bidang Penyediaan dan Pembinaan Sumber Daya Air (PPSDA) Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, sebanyak 27 embung mengalami penurunan volume. Penurunan yang terjadi sekitar 20 hingga 30 persen,” kata Kepala Bidang PPSD Dinas SDAEM, Warsono, Kamis (5/11).

Warsono juga menyontohkan Embung Pajangan yang memiliki volume sekitar 80 meter kubik menjadi 60 meter kubik atau mengalami penurunan sekitar 20 meter kubik selama musim kemarau ini. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi irigasi di pertanian lantaran tidak terpenuhi kebutuhan pengairannya.

“Sebagian besar embung berfungsi sebagai penyanggah sistem irigasi,” kata Warsono.

Menurutnya selain embung, kemarau panjang yang terjadi juga berdampak pada penyusutan mata air yang ada di Sleman. Dari 218 sumber mata air yang ada, seluruhnya turun debit kecuali Umbul Wadon yang justru mengalami kenaikan debit. Debit normal sekitar 540 meter kubik per hari, saat ini kondisinya menjadi 670 meter kubik per hari.




Omzet Petani Ikan Sleman Turun Akibat Kemarau

Sleman– Omzet petani ikan di Kabupaten Sleman mengalami penurunan  drastis akibat dampak musim kemarau yang cukup panjang dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

“Kemarau panjang menyebabkan pembibitan ikan banyak yang gagal, juga harga pakan mengalami kenaikan akibat dolar naik,” kata Ketua Kelompok Petani Ikan Dusun Bokesan, Desa Sindumartani Kecamatan Ngemplak Sleman, Saptono, Minggu (4/10).

Menurut Saptono, kondisi air yang tidak menentu pada saat kemarau membuat benih ikan banyak yang mati.

“Kalau jumlahnya bibit yang mati banyak. Siang panas, pagi hari dingin. Ini Menyebabkan bibit ikan tidak tahan dan banyak yang mati,” katanya.

Saptono menambahkan bibit ikan yang mati tersebut, diantaranya seperti nila dan gurami. Sementara, untuk jenis lele masih bisa bertahan dengan kondisi cuaca seperti ini.

“Kalau jenis lele, masih bisa hidup bibitnya,” kata Saptono.

Saptono yang juga sebagai Pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Mina Ngremboko tersebut mengatakan, permasalahan lain yang dihadapi adalah sejak dua minggu terakhir ini harga pakan ikan naik.

“Nilai tukar rupiah juga berpengaruh. Perkilogram, pakan naik Rp100, kalau dihitung hasil penjualan, tidak nutup, karena penjualan ikan dari kolam harganya tak ada kenaikan,” tuturnya.

Akibat kondisi seperti ini lanjutnya, petani ikan pun harus pintar-pintar untuk memanajemen keuangannya. Agar tetap bisa bertahan, paling tidak hingga akhir tahun nanti.

“Kami perkirakan kondisi ini akan berlangsung sampai Desember. Jadi ya harus pintar-pintar mengelola keuangannya,” kata Saptono.




Kemarau, 2,5 Hektare Lahan Kopi Mati

Sleman – Sebagian tanaman kopi di lereng Merapi, mati akibat kekeringan selama musim kemarau ini. Data sementara, luasan lahan kopi yang terkena dampak kekeringan sekitar 2,5 hektare. Kebanyakan tanaman yang mati itu merupakan bibit baru yang ditanam di lahan bekas erupsi Merapi 2010.

“Sebagian tanaman mati karena kepanasan. Di sekitar area itu memang belum ada pohon perindang,” ungkap Sumijo, salah satu petani kopi asal Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Senin (21/9).

Namun dibandingkan tahun lalu, tingkat kegagalan itu jauh berkurang. Tahun sebelumnya, luasan tanaman yang mati mencapai 60 hektare. Sebenarnya, kata Sumijo, tanaman kopi bisa bertahan selama kemarau. Asalkan banyak pohon perindang di sekitarnya seperti sengon atau lamtoro, sehingga mampu menahan terpaan sinar matahari secara langsung.

Untuk meminimalisir kerugian, petani mengganti tanaman kopinya dengan bibit baru. Bibit itu bisa diperoleh dari koperasi atau mengajukan permohonan bantuan kepada dinas terkait.

“Di koperasi masih ada bibitnya. Tapi untuk menanam sebaiknya menunggu awal musim hujan,” kata Sumijo yang juga Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) “Kebun Makmur”.

Terpisah, Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto mengatakan, pihaknya terus berupaya mendorong produksi maupun pemasaran biji kopi. Selain fasilitas penunjang, dinas juga memberikan bantuan pupuk dan bibit. Untuk menghindari tengkulak, petani disarankan menjual hasil panennya melalui koperasi.




Ribuan Pelanggan PDAM Sleman Terganggu Pengaruh Kemarau

Sleman – Sedikitnya Kepala Keluarga di Kabupaten Sleman  mengalami gangguan layanan Perusahaan Daerah Air Minum terutama yang menggunakan sumber air sumur dalam, akibat kemarau panjang di wilayah Sleman.

“Distribusi air PDAM di beberapa wilayah di Sleman terganggu karena sumbernya mengalami penurunan debit tapi tidak sampai terhenti total. Salah satu solusinya dengan sistem giliran,” kata Direktur PDAM Sleman, Dwi Nurwata, Minggu (17/8).

Menurut dia, berdasarkan pantauan, penyusutan debit air dari sumur dalam, mencapai kisaran 10 hingga 20 persen.

“Kekeringan cukup parah antara lain terjadi di Kecamatan Ngemplak, Ngaglik, Prambanan, Gamping, dan Minggir,” katanya.

Dwi Nurwata mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, salah satunya dengan menyediakan pompa air.

“Pengalaman tahun lalu, bantuan pompa difungsikan selama dua bulan dengan alokasi biaya sekitar Rp 400 juta hingga Rp 500 juta,” katanya.

Sementara Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi mengatakan, kondisi sumber air sejauh ini masih relatif stabil.

“Sampai saat ini sejumlah sumber air di Sleman masih stabil tapi perlu diwaspadai penurunan debit sumur air dalam,” katanya.

Gatot mengatakan, keseluruhan ada 117 desa di DIY yang masuk kategori potensi kekeringan. Untuk Sleman, terutama di wilayah Kecamatan Prambanan dan sebagian Gamping, namun masih bisa tertangani.




Hadapi Kemarau PDAM Sleman Mulai Siapkan Sumber Air Cadangan

Sleman – Mendekati musim kemarau yang akan datang, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman telah menyiapkan sejumlah sumber air. Hal tersebut dilakukan untuk menyukupi suplai air di beberapa wilayah yang rawan kekeringan.

Demikian dikatakan Direktur PDAM Sleman, Dwi Nurwata SE MM, kemarin. Menurut Dwi,  selain menyukupi kebutuhan masyarakat di daerah rawan kekeringan, rencana tersebut bertujuan untuk menjaga suplai air selama kemarau. Pasalnya, sejumlah sumber air utama seringkali mengalami penurunan debit.

Dikatakan Dwi, Daerah rawan kekeringan antara lain Gamping dan Prambanan. Kedua wilayah ini sulit mengakses air dari sumber saat musim kemarau. “Untuk itu menjadi prioritas,” tutur Dwi.

Ditambahkan pula bahwa selain sumber air di Umbul Wadon, selama musim hujan pihaknya juga telah mempersiapkan sumber air di antaranya Embung Tambak Boyo di Depok dan Embung Bedog di Godean. Selain itu PDAM Sleman juga akan memanfaatkan resevoir (bak penampungan) Tambak Rejo, Tempel dengan kapasitas 50 meter kubik dan sumur dalam di wilayah Ngaglik yang memiliki debit sebesar 70 liter per detik.

Sumber air ini dapat dimanfaatkan selama musim kemarau sehingga dapat menjangkau wilayah Gamping. Sedangkan untuk wilayah Prambanan terutama di perbukitan, akan disuplai dengan cara droping air di bak-bak penampungan yang telah tersedia.

Diungkapkan Dwi  setiap musim kemarau PDAM Sleman mengalami penurunan kapasitas air sekitar 10 hingga 15 persen. Namun dengan adanya sumber air cadangan tersebut, kebutuhan suplai air ke pelanggan diklaim dapat terpenuhi.

“Saat ini kami juga sedang mempersiapkan sejumlah embung untuk dijadikan sumber air alternatif. Namun embung yang akan dimanfaatkan harus memiliki debit air yang stabil saat musim kemarau sehingga tidak mengganggu kebutuhan warga yang sudah terlebih dahulu memanfaatkan sumber tersebut,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Aji Wulantara SH mengatakan dalam menghadapi musim kemarau, pihaknya sudah memetakan sumber air mana saja yang dapat dimanfaatkan warga. Saat ini Sleman memiliki 189 sumber air baik berupa embung maupun tuk yang tersebar secara merata di 17 kecamatan.

“Dalam pemanfaatannya ada yang sudah dikelola oleh Pemkab Sleman melalui PDAM maupun organisasi pengelola air yang dijalankan oleh masyarakat secara langsung,” paparnya.