Monolit Yogyakarta, Gunung Gamping dari Kesultanan Menuju Konservasi

Gamping – Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Yogyakarta mengadakan kegiatan Bedah Buku Monolit Yogyakarta Sabtu (4/11) pukul WIB di Petilasan Gunung Gamping Tlogo Ambarketawang.

Sebagai narasumber yaitu Didit dan Miranda Harlan dari BKSDA. Acara ini dihadiri Kepala BKSDA Yogyakarta Ir. Junita Parjanti, para pegiat sejarah, serta masyarakat umum termasuk KIM Kecamatan Gamping.

Potensi sejarah dimiliki Cagar Alam (CA)/Taman Wisata Alam (TWA) Batu Gamping karena lokasinya berdekatan dengan situs Petilasan Kraton Ambarketawang sebagai tempat “mesanggrah” Sultan Hamengku Buwono I selama pembangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Begitu juga sumbangsih kapur dari Gunung Gamping dalam pembangunan Keraton Yogyakarta dan berbagai bangunan sejarah lainnya. Selain itu, tidak dapat dimungkiri bahwa peranan kapur dari Gunung Gamping sebagai pemurni dalam proses produksi gula pada masa itu turut berpengaruh terhadap kejayaan perekonomian di Yogyakarta.

Peranan CA/TWA Batu Gamping sangat melekat dan mengejawantah dalam budaya masyarakat melalui tradisi bekakak yang diselenggarakan setiap bulan sapar, di mana puncak acara yakni penyembelihan boneka pengantin (bekakak) dilaksanakan di Altar Cagar Alam Batu Gamping. Upacara adat ini, serta berbagai ritual dan mitos yang mengiringinya menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjungi CA/TWA Batu Gamping.

Sebagai warisan geologi, bongkahan batu kapur setinggi kurang lebih 10 meter tersebut merupakan monumen geologi yang menggambarkan jejak biota awal pulau Jawa. Sehingga CA Batu Gamping merupakan rekaman sejarah lingkungan sebagian awal 40 juta tahun lalu, yang patut dilestarikan.

Buku Monolit Yogyakarta ini juga berisi gambaran sejarah dan budaya Gunung Gamping, yang diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat untuk berkunjung dan belajar lebih banyak dari warisan alam yang sangat berharga ini dapat meningkat. (Adnan Nurtjahjo)




Ubo Rampe Labuhan Merapi Dari Keraton Diserahkan

211_20140602051019Sleman – Upacara labuhan Merapi tahun 2014 akan mulai berlangsung  hari ini, Jumat (30/5) yang diawali serah terima ubo rampe labuhan dari Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat di Kecamataan Depok.

Penyerahan ubo rampe yang dibawa Abdi Dalem Kraton Yogyakarta tersebut pada Jumat pagi sekitar pukul WIB  diserahkan kepada Camat Depok Drs Budiharjo, selanjutnya ubo rampe tersebut oleh abdi dalem disertai Camat Depok diarak ke Kecamatan Cangkringan, dan oleh Camat Depok ubo rampe tersebut diserahkan kepada Camat Cangkringan  Drs Bambang Nurwiyono di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

Ubo rampe tersebut oleh Camat Cangkringan dengan disertai abdi dalam Kraton Yogyakarta diarak ke pendopo Petilasan Rumah Mbah Marijan di Kinahrejo yang  diterima oleh  Ki Asih Suraksohargo sebagai juru kunci Gunung Merapi putra Mbah Marijan yang saat ini mengganti kedudukan Mbah Marijan. Selanjutnya ubo rampe tersebut disemayamkan semalam di pendopo Petilasan Rumah Mbah Marijan, malam itu juga akan dilakukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalam Ki Catur Benyek.

Sedangkan Sabtu (31/5)  dimulai pukul WIB semua ubo rampe dilabuh ke Bangsal Sri Manganti dengan menempuh perjalanan 1-2 jam. Untuk tahun ini ubo rampe dilabuh di Bangsal Sri Manganti karena saat ini status Merapi yang sudah diturunkan ke status normal.

Adapun ubo rampe yang dilabuh berupa sinjang limar 1 lembar, sinjang cangkring 1 lembar, semekan gadhung 1 lembar, semekan gadhung melati 1 lembar, paningset udaraga 1 lembar, kambil watangan 1 biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh 1 buntal, yotro tindih 2 amplop, destar doromuluk 1 lembar. Ikut menyertai uba rampe labuhan yakni kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara labuhan.***