Posbindu Kemudahan Layanan Kesehatan Bagi Difabel

Turi – DPR Provinsi DIY bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengadakan Sosialisasi Pusat Pelayanan Difabel Terpadu (Posbindu), Rabu (25/4) pukul WIB di Gedung Serbaguna Desa Bangunkerto.

Selama acara Posbindu ini, diadakan pula pelayanan oleh tim kesehatan dari Dinas Kesehatan DIY dan Puskesmas Kecamatan Turi, meliputi pemeriksaan tes gula darah, kolesterol, tensi, berat badan, tinggi badan, dan masalah kesehatan yang lainnya secara gratis.

Hadir dalam acara tersebut, anggota DPR Provinsi DIY, Sambudi, perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi DIY, dan juga dari Puskesmas Turi.

Sedangkan peserta yang hadir sekitar enam puluh orang yang terdiri dari Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kecamatan Turi yang diketuai oleh Sumadi, di mana perkumpulan difabel di Kecamatan Turi sangat solid dalam setiap kegiatannya.

Sedangkan sebagai narasumber Ana dari Puskesmas Turi menyampaikan bahwa saat ini penyakit menular di Kecamatan Turi sudah sangat sedikit, “Penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat saat ini justru adalah penyakit yang tidak menular seperti darah tinggi, kolesterol, gula darah, kelebihan berat badan dan masalah yang lainnya,” kata Ana.

Dikatakan Ana pula, semua penyakit itu bisa dideteksi sejak dini dengan cara pemeriksaan kesehatan secara rutin melalui Posbindu. “Khusus untuk penyandang disabilitas sekarang sudah bisa memeriksakan secara gratis di Posbindu tersebut,” beber Ana.

Dengan didirikannya Posbindu di Desa Bangunkerto ini, Ana berharap penyandang disabilitas di Bangunkerto bisa lebih dekat dan mudah untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin untuk mendeteksi dini penyakit yang dideritanya sehingga bisa diobati sejak awal. “Selain itu, penting  juga untuk membiasakan pola makan dan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari,” urai Ana.  (Harman)




Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga Bantu Ketahui Kondisi Kesehatan Masyarakat

Turi – Pada Selasa (27/2), Puskesmas Turi mengadakan Sosialisasi Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga (PISPK). Sosialisasi diikuti oleh 32 peserta, yakni Kadus dan tokoh masyarakat tiap pedukuhan se-Donokerto.

Dalam penjelasan yang disampaikan oleh drg. Tri Hidayati mewakili Kepala Puskesmas mengatakan bahwa PISPK ini program nasional. Tujuan utamanya yaitu untuk mengecek dan mengetahui seperti apa kondisi dan kesehatan masyarakat. “Di sini kondisi kesehatan masyarakat akan dicek satu persatu dan didatangi tiap rumah oleh petugas kesehatan Puskesmas,” tutur Tri.

Sosialisasi pertama sudah dilaksanakan pada Senin (26/2) di Pedukuhan Randusongo. Selain dicek kesehatannya juga ada wawancara serta mengisi form.

Dalam kesempatan tersebut, Tri juga menjelaskan tentang visi dan misi program, pengertian tentang pendekatan keluarga, Permenkes no. 75 tahun 2014, kerangka konsep pendekatan keluarga, dan manajemen pendekatan keluarga.

Keterangan selanjutnya disampaikan oleh Bayu Adi yang menerangkan tentang peran tokoh masyarakat di antaranya turut mensosialisasikan rencana PIS PK sehingga warga bisa mengumpulkan fotocopy KK dan kepemilikan Jaminan Kesehatan (bagi yang punya BPJS, ASKES, Jamkesus/Asuransi swasta), serta memberi data, informasi, atau masukan kepada Puskesmas/Petugas Kesehatan demi kelancaran dan perbaikan kegiatan PISPK. Terakhir, diadakan tanya jawab dan pembagian blangko. (Suharno)




Gamping Prioritaskan 9 Perencanaan Pembangunan

Gamping – Selasa (30/1) pukul WIB digelar Musrenbang RKPD Kabupaten Sleman di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Kecamatan Gamping. Musrenbang tahun ini mengambil tema “Mengembangkan Potensi Ekonomi Lokal Daerah Menuju Kemandirian dan Kesejahteraan Masyarakat Sleman yang Berbudaya”.

Acara ini dihadiri oleh Camat Gamping Abu Bakar, Sekcam Rasyid Ratnadi, Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda Sleman Yustina, Kapolsek Gamping Kompol Herwinedi,  perwakilan Koramil 17 Pelda Sumarjo,  3 anggota DPRD Sleman Hasto Pariyantono, Vika,  Gustan Ganda,  Kades Ambarketawang Sumaryanto,  Kades Banyuraden Sudarisman,  sejumlah SKPD terkait di lingkungan Pemda Sleman antara lain Dinas PU,  Tata Ruang,  Kebudayaan, Dukcapil,  Perhubungan, Kesehatan,  serta P3AP2KB.  Perwakilan dari HIMPAUDI, FKDM, dan KIM Gamping juga hadir bersama para tamu undangan yang berjumlah 90 orang.

Dalam paparannya, anggota DPRD Sleman Hasto Pariyantono berharap adanya program persiapan mentalitas bagi masyarakat Gamping. Hal ini diperlukan agar pesatnya perkembangan fisik/teknis di Gamping bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan kemajuannya menjadi milik masyarakat Gamping bukan milik investor.

Di sesi selanjutnya, Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda Sleman Yustina menyarankan agar desa bisa mengakses program Bantuan Keuangan Khusus (BKK) melalui pengajuan proposal pembangunan fisik masing-masing desa di wilayah Gamping. Pengajuan proposal paling lambat pada bulan Maret 2018. Proposal yang sudah diketahui oleh Kepala Desa kemudian diserahkan ke BAPPEDA Sleman yang dilanjutkan kepada dinas yang dirujuk.

Adapun BKK Kecamatan Gamping tahun 2018 sebesar Rp ,00 yang diperuntukkan bagi 5 desa di Gamping. Selain itu dipaparkan juga prioritas 9 perencanaan yaitu pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, infrastruktur, pengembangan potensi lokal, lingkungan hidup,  peningkatan pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah,  tata kelola pemerintah serta budaya. Sedangkan tema spesifiknya adalah isu kemiskinan, daya saing ekonomi lokal dan persoalan ketimpangan sosial yang terjadi. (Adnan Nurtjahjo)




Tetap Jaga Budaya dan Tradisi Kenduri Supaya Lestari

Turi – Rabu (24/1), masyarakat Dusun Wonosari Bangunkerto Turi mengadakan tradisi kenduri dalam rangka hajatan salah satu warga. Acara kenduri ini selalu dilakukan dan diikuti oleh semua warga setiap ada hajatan seperti pernikahan, sunatan, merti dusun, dan peringatan hari besar agama Islam.

Adapun keunikan dari tradisi kenduri di Dusun Wonosari yang masih dilakukan seperti sejak zaman dahulu ini yaitu semua warga yang hadir harus membawa wadah atau tempat sendiri dari rumah.

Sebelum warga datang pihak yang punya hajat sudah mempersiapkan berbagai macam perlengkapan yang diperlukan untuk kenduri seperti jenang merah dan putih, nasi tumpeng, nasi ambeng, nasi gurih, iwak/ayam ingkung.

Sedangkan sayur, gudangan, tempe, telur, krupuk, peyek kacang, peyek keper, kolak apem, dan jajanan pasar sudah siap terbungkus rapi.

Setelah semuanya hadir baru tuan rumah menyerahkan kepada tokoh agama sekaligus mengutarakan maksud dan tujuannya.

Setelah itu, baru didoakan oleh tokoh agama dan diamini oleh semua yang hadir. Selesai didoakan baru tumpeng dipotong dan dibagi rata ke semua yang hadir.

Acara ini biasa dilaksanakan pada pukul WIB. Adapun tujuan kenduri adalah suatu bentuk berbagi rezeki atau sedekah yang diberikan ke tetangga dan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberi rezeki, kesehatan, kelancaran, dan keselamatan dalam pelaksanaan hajatan tersebut. (Harman)




5 Pilar Gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Gamping – Kamis (6/12) pukul WIB bertempat di Paradise Resto Ambarketawang, Puskesmas Gamping I mengadakan Deklarasi Gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan penandatangan komitmen dukungan pemerintah Desa Ambarketawang dan Balecatur.

Dalam kesempatan ini hadir Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Nurulhayah, Sekretaris Camat Gamping, Rasyid Ratnadi, Kepala Desa Ambarketawang, Sumaryanto, Kepala Desa Balecatur, Sebrat Haryanti, Kapolsek Gamping, Kompol Herwinedi, Babinsa Pelda Sumarjo, Kepala KUA Gamping, Jaenudin, UPT Yandik, Endi Sudarna, Ketua PKK Gamping, Dewi Abu Bakar, 31 Kadus dan 50 orang kader kesehatan serta 31 orang ketua pengurus pengelolaan sampah dusun.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman dalam sambutannya menyampaikan bahwa STBM merupakan salah satu program pemerintah untuk mengatasi masalah sanitasi (kesehatan) di Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengubah perilaku higienis dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.

STBM menekankan pada lima perubahan perilaku higienis yang biasa dikenal sebagai lima pilar STBM, antara lain stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga. Keluarga diharapkan dapat menerapkan STBM dengan baik agar higienis diri dan sanitasi lingkungan pada tingkat keluarga bisa optimal.

Selanjutnya, Kepala Desa Ambarketawang dan Balecatur dengan didampingi dukuh di wilayah masing-masing secara bergantian membacakan deklarasi gerakan STBM di wilayahnya disertai penandatanganan komitmen bersama.

Giat ini dimeriahkan oleh penampilan Tim Paduan Suara kader kesehatan Puskesmas Gamping I pimpinan Istri Wahyuni, membawakan lagu mars hidup sehat, lagu lima pilar STBM, dan lagu enam langkah cuci tangan. (Adnan Nurtjahjo)