Midodareni Mengawali Prosesi Bekakak Gamping

Gamping – Kamis (2/11) pukul WIB bertempat di Pendopo Bekel (Dukuh) Gamping Kidul, pembuatan boneka pengantin bekakak dimulai.

Bahan dasar dari pembuatan boneka pengantin bekakak ini adalah tepung beras ketan dan beras jawa dicampur dengan air jernih, dibentuk bulat seperti bola kemudian dikukus menggunakan tungku kayu bakar. Setelah adonan jadi, selanjutnya dibentuk menjadi sepasang pengantin menggunakan kerangka yang terbuat dari bambu. Di bagian lehernya diberi cairan gula jawa sebagai darahnya.

Pada pukul WIB, pengantin bekakak dilengkapi sesaji diarak menuju Balai Desa Ambarketawang dengan dikawal prajurit HB I Wirosuto, gendruwo, wewe, tetekan dengan penerangan obor. Sesampai di balai desa, pengantin bekakak beserta semua perlengkapan sesaji saparan disambut oleh Kepala Desa Ambarketawang, Sumaryanto.

Selanjutnya, dibawa masuk ke dalam Gedung Serbaguna untuk disemayamkan. Pemotongan tumpeng penanda dimulainya prosesi upacara adat saparan bekakak dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun.

Acara midodareni juga dihadiri Camat Gamping Abu Bakar, Sekretaris Camat, Rasyid Ratnadi,  Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Gustan Ganda, Wakil Danramil 17/Gamping Kapten Chb Suwardi, Kapolsek Gamping Kompol, Herwinedi, beserta seribu orang masyarakat Gamping. Sebagai penutup acara midodareni yaitu pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Dalang Ki Rekso Sutono Hadi Sugito dari Kulon Progo. (Adnan Nurtjahjo)




Turi Gelar Apresiasi Macapat Jelang Lomba

Turi – Senin (11/9) malam, di Kecamatan Turi diadakan apresiasi macapat. Peserta apresiasi macapat ini ada 15 orang yang mana latihan dipimpin oleh Drs. H. Panggih.               

Kegiatan ini dihadiri juga oleh Kepala Seksi Sejarah, Nilai Budaya, Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Anas Mubakkir. Dalam sambutannya, Anas mengapresiasi kegiatan macapat yang selalu rutin diadakan setiap malam Jumat ini. Anas juga mengharapkan pelaksanaan kegiatan ini tidak mengendur dan menghimbau untuk mengajak generasi muda.

Dalam rangka menjaga kelestarian seni macapat, Dinas Kebudayaan Sleman juga mengadakan lomba macapat bagi siswa SD, SMP, SMA, guru-guru, perguruan tinggi, dan masyarakat umum. Bahkan, pada Selasa (22/9) akan diadakan lomba macapat tingkat kabupaten bagi guru-guru di Rumah Dinas Bupati Sleman yang mana Turi akan mengirimkan 4 peserta.

 




Gelar Potensi Seni dan Budaya di Embung Serut

Desa Banyuraden, Gamping, Sleman menyelenggarakan Gelar Potensi Seni dan Budaya Banyuraden 2017 di Embung Serut, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping pada Sabtu (15/4). Dimulai dari pukul WIB hingga WIB, gelar potensi dan budaya ini menyuguhkan berbagai acara seperti Talkshow yang menghadirkan pembicara Tri Suko (pengrajin gamelan), Gaung Kyan Renantya Sidharta (penata iringan ketoprak terbaik 2015), Ethan Louis Boyd (pengrawit gamelan asal Amerika), Aji Wulantara (Plt Kepala Disbud Sleman), Sarjono (penggiat seni Banyuraden). Selain itu juga ditampilkan bazar aneka potensi lokal setempat, sholawat, karawitan, dan kethoprak.
Sementara itu pagelaran kesenian yang ditampilkan antara lain Tari Topeng Penglebar Kertas (I Wayan Dana), Tari Jaran Kore (SDN Banyuraden), Tari Kutuk, Tari Gedruk, Tari Kebyar (Sanggar Among Siwi), Tari Oglek, Tari Kebyok Anting Anting (SDN Patran), Tari Ular (Sanggar Sensen), dan Tetayang Kyai Demakidjo (Sanggar Demakidjo).
Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Aji Wulantoro menyampaikan bahwa dari potensi kebudayaan yang ada di desa harus dikembangkan serta diberdayakan menjadi rintisan desa budaya dan akhirnya menjadi desa budaya. Pola mewujudkan masyarakat berbudaya di Kabupaten Sleman ini dilakukan secara berjenjang dari kantong budaya yang dipilih pada suatu desa yang memiliki potensi dasar.
“Semua desa memiliki potensi kebudayaan, menjadi tugas pemerintah untuk mengarahkan dan membina aktivitas budaya masyarakat agar kebudayaan yang ada mengerucut pada suatu titik sehingga terwujud masyarakat berbudaya sesuai dengan visi Pemkab Sleman”, kata Aji.
Sementara itu Bupati Sleman Sri Purnomo yang membuka acara ini mengapresiasi terselenggaranya gelar potensi dan seni budaya yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pemdes Banyuraden. Menurutnya potensi budaya yang ada di Banyuraden bisa digali dengan maksimal serta dapat dikembangkan sehingga Banyuraden mampu menjadi salah satu kantong budaya di Sleman.
“Banyuraden merupakan salah satu desa di Kabupaten Sleman yang seringkali menyelenggarakan event budaya, bahkan ada acara budaya tahunan yang rutin diselenggarakan. Saya berharap even-even budaya tersebut terus dijaga dan dikembangkan agar Banyuraden mampu menjadi kantong budaya di Sleman”, jelas Sri Purnomo. Pada kesempatan yang sama Sri Purnomo berpesan agar Embung Serut yang menjadi latar acara ini agar dijaga kebersihan dan keindahannya.




Festival Kesenian Sleman Angkat Budaya Lokal

FKS

Sleman, InfoPublik – Festival Kesenian Sleman (FKS) tampak meriah dengan digelarnya display potensi seni dan budaya, yang ditampilkan oleh 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman. FKS digelar selama 2 hari, dibuka Sabtu (15/6) di seputaran Lapangan Denggung oleh Sekda Sleman dr. Sunartono, dan ditutup Minggu (16/6) di Desa Pulesari Wonokerto Turi. Dalam pembukaan tersebut sebelumnya juga disajikan kesenian jathilan dari Sanggar Wijaya Kusuma, Karawitan dari Sanggar Notoraharjan, music calung dan Tari Selamat Datang dari Sanggar Pradnyawidya.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Ir. Ayu Laksmi, FKS ini dimaksudkan sebagai media pelestarian, pembinaan dan pengembangan seni di Kabupaten Sleman, dan mendorong kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi adiluhung, yang mengarah pada pembentukan jatidiri bangsa, khususnya generasi muda yang saat ini dirasa semakin luntur.

Sementara itu display dari 17 kecamatan yang ditampilkan, yakni Bergada Kismo Kuncoro Kwagon Sidorejo Godean, Trengganon Al Fatah Minggir, Angguk Kipas Manggala Pakem, Thek-tek Gejog Lesung Moyudan, Bergodo Kuntul Saramba Ketingan Tirtoadi Mlati, Badui Sabilul Muslimin Tempel. Sanggar Puri Prambanan menampilkan kisah Rama Sinta, Kobra Siswa Putra Mudha Turi, Bregodo Wonolelo, Ngemplak, Klana Topeng Ponco Tunggal Kalasan, Reog Singo Barong Gamping, Kobrasiswa Depok, Bregada Tirta Tri Roso Guno Sleman, Reog Mataraman Berbah, Wayang orang Ngesti Madyo Laras Cangkrignan, Sastra Tutur Ngaglik dan terakhir Bregogo Kalijaga Seyegan.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman mengharapkan kepada para seniman di Sleman untuk terus berkarya, berkreasi, dan berinovasi agar seni budaya yang menjadi jati diri masyarakat Sleman, dapat terus eksis di tengah masyarakat. Seni budaya ini juga diharapkan dapat migunani bagi masyarakat, baik sebagai tontonan yang bersifat menghibur ataupun tuntunan yang memberi inspirasi dan pencerahan hidup dan kehidupan masyarakat Sleman.

Setelah FKS dibuka pada malam harinya ditampilkan Langen Carito dari SD Kanisius Kalasan dan pagelaran ketoprak dari Komunitas Kethoprak Sleman. Untuk hari Minggu digelar Extravaganza, aneka tari, Peksimoi dan Dayakan. Sementara di Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi digelar kesenian Jathilan, Klentingan, Karawitan dan pergelaran Wayang Kulit dengan Dhalang Ki Edy Suwondo.