Pentas Kethoprak Beri Anjuran Berantas Penyakit Masyarakat

Gamping – Sabtu (9/12) pukul WIB, Karang Taruna (KT) Taruna Bhakti Desa Trihanggo, Gamping mengadakan Pentas Kethoprak.

Pementasan ini hasil kerjasama antara KT Taruna Bhakti dengan Komunitas Gerakan Anti Napza Trihanggo (Ganatri) dan Sanggar Cahyo Jinggo Blambangan dengan Komunitas Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

Dalam acara ini hadir Kepala Desa Trihanggo Herman Budi Pramono, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman HY. Aji Wulantara, Ketua Komisi B DPRD DIY, H. Koeswanto, Ketua DPRD Sleman Haris Sugiharta, Anggota Komisi D DPRD Sleman, Y. Gustan Ganda, Kapolsek Gamping Kompol Herwinedi, Perwakilan Koramil 17 Gamping, Kepala Dusun se-Desa Trihanggo, serta ratusan warga Desa Trihanggo.

Pertunjukan Kethoprak dibuka dengan penampilan Sanggar Cahyo Jinggo Blambangan dengan lakon “Kepilut Endahing Kadonyan”. Pelajaran yang bisa diambil yakni perlindungan anak terpadu merupakan kewajiban kita semua dan pemberantasan penyakit masyarakat sangatlah diperlukan.

Sebagai bintang tamu hadir Dalijo Angkringan cs. Penata artistik pementasan kethoprak uni adalah Gubug Art dengan penata gending Gaung Kyan.

Adapun Lakon Kethoprak yang kedua adalah Lintang Kemukus ing Wilwatikta. Awal cerita dimulai dengan terlihatnya lintang kemukus yang melintas di langit Majapahit, yang merupakan peristiwa alam yang menggemparkan. Kejadian ini diramalkan oleh Ratu Kahuripan sebagai pertanda buruk bahwa kerajaan majapahit akan mengalami kejadian yang luar biasa. Kejadian ini bukan saja akan berdampak pada rakyat, tetapi juga pada kedudukan sang Prabu Jayanegara. (Adnan Nurtjahjo)




Ngemplak Gelar Acara Sebagai Wujud Syukur

Ngemplak – Wayangan semalam suntuk dengan lakon Banyu Suci Perwitosari dan dalang Ki Soewondo Hadi Prayitno dari Bantul sebagai penutupan rangkaian merti desa dan gelar potensi desa di Desa Wedomartani, Ngemplak, digelar Jumat (10/11) di Balai Desa Wedomartani, Ngemplak.

Genap satu minggu acara merti desa ini berlangsung, berbagai acara dari kirab budaya, gunungan dengan gerobag, festival dolanan anak, badui, rodad, jathilan, wayang wong, kethoprak, kroncong, pasar malam, hingga pameran potensi warga sudah digelar mulai 4-10 November 2017.

Acara ini merupakan wujud rasa syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada pemerintah desa dan seluruh warga Wedomartani. Hal ini disampaikan oleh Ketua Desa Budaya Wedomartani, Mujiburohman.

Rangkaian acara yang sebelumnya dibuka oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun ini merupakan agenda Pemerintah Desa Wedomartani, Ngemplak yang sedianya akan dijadikan agenda tahunan. (Bibit Babe)




Festival Garis Imajiner Sarana Uri-uri Budaya

Sleman – Dinas Kebudayaan Sleman kembali menggelar festival budaya bertajuk Festival Garis Imajiner. Festival yang rencananya diadakan dari 21-23 September ini resmi dibuka pada Kamis (21/9).

Penyelenggaraan Festival Garis Imajiner ini dipusatkan di Bantara Sungai Code Bawah Jembatan Baru UGM, mengingat lokasi ini dianggap sebagai titik bertemunya garis imajiner antara Laut Selatan, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tugu Jogja dan Gunung Merapi.

Dalam Festival Garis Imajiner terdapat 3 bentuk kesenian yang akan ditampilkan. Pertama, Kirab Megangampak Hangrangin atau pawai seni budaya. “Yang melibatkan 38 grup kesenian dan bregada,” terang Aji Wulantara, Kepala Dinas Kebudayaan Sleman. Dalam pawai ini, Aji menambahkan bahwa Dinas Kebudayaan Sleman menggandeng Polres Sleman untuk ikut memeriahkan pawai melalui pawai kebangsaan.

Pawai dimulai dari tiga titik, yakni dari Hotel Tentrem untuk zona selatan, dari Pasar Kutu untuk zona barat, dan dari Jalan Monjali untuk zona utara. “Semua peserta akan bertemu di Jembatan Sardjito atau jembatan baru UGM,” tutur Aji Selasa (19/9) di Ruang Bidang Humas Pemkab Sleman.

Selain Kirab Megangampak Hangrangin, ada agenda Sleman Hanengsemi, yakni pergelaran seni budaya tradisional kerakyatan dengan 21 grup yang berpartisipasi. Selanjutnya adalah Mataram Mangarsi atau pementasan tiga genre bentuk seni yang berbeda dalam satu rangkaian cerita. Tiga genre tersebut adalah sendratari, kethoprak, dan wayang kulit.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, yang hadir dalam pembukaan acara ini menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pelaku seni. Sebab, kegiatan yang baru pertama kali digelar ini dapat menjadi upaya untuk nguri-uri (melestarikan-red) budaya juga untuk mengenang kembali sejarah masa lalu yakni kisah perjalanan Panembahan Senopati, yang dapat menjadi teladan dan diambil hikmah dari kepemimpinan para pendahulu.

Ke depannya, Sri Muslimatun berharap acara ini dapat dikemas menjadi agenda acara yang lebih menarik lagi.