7 Orang Meninggal, Masyarakat Dihimbau Tingkatkan Kewaspadaan DBD‬

Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)karena pada 2016 di Sleman sudah tercatat tujuh orang meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti ini.

‪”Kondisi kemarau basah yang terjadi mendukung proses kembang biak nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Sampai dengan bulan Agustus 2016 ini sudah mencapai 556 kasus, dengan tujuh korban meninggal duania,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes, di Sleman, Selasa (9/8).‬

‪Dikatakan Linda mencegah penyakit DBD ini masyarakat jangan mengandalkan foging. Karena cara ini tidak akan memberantas seluruh nyamuk, jentik-jentik nyamuk masih hidup.‬

‪Menurut Linda yang lebih penting adalah menjaga kebersihan lingkungan dengan memberantas genangan-genangan air, yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya nyamuk.‬

‪Diungkapkan Linda,  tujuh korban meninggal akibat DBD tersebut tersebar di sejumlah kecamatan seperti tiga orang meninggal masing-masing dari Kecamatan Gamping, Berbah dan Seyegan, sementara dua orang meninggal berasal dari Kecamatan Mlati dan Kalasan.‬

‪”Rata-rata korban meninggal dikarenakan terlambat penanganan. Oleh karenanya dihimbau masyarakat bila mengalami deman lebih dari tiga hari segera melalukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas terdekat, karena fasilitas Puskesmas sudah dapat menangani DBD,” kata Linda.‬

‪Linda menambahkan untuk jumlah kasus DBD terbesar ditemukan di Kecamatan Depok dengan jumlah 91 kasus. Meski terbesar, namun di Depok ini tidak terdapat korban meninggal dunia karena DBD. ‬

‪”Sementara kasus DBD tinggi di Sleman ada di Kecamatan Godean sebanyak 71 kasus, Kalasan 70 kasus dan Mlati 53 kasus. Dari kasus itu dominan 45 persen menyerang usia produktif 15 hingga 44 tahun. Bisa jadi karena mobilitas usia ini cukup tinggi,” katanya.‬

‪Diungkapkan Linda, selagi intensitas hujan tinggi, kejadian DBD masih ditemukan. Untuk itu hal termudah ialah menjaga kebersihan lingkungan seperti melakukan gerakan 3M yakni mengubur, menutup dan menguras.‬




Antisipasi Kebakaran Masyarakat Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Sleman– Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Juli Setiono SH MM mengatakan  dalam kondisi musim kemarau yang cukup panjang seperti sekarang I ni masyarakat di Kabupaten Sleman diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaannya. Sebab dalam musim kemarau yang berkepanjangan ini membuat lahan hutan rakyat diwilayah Kabupaten Sleman menjadi sangat kering, yang dampaknya menjadikan lahan hutan rakyat mudah terbakar.

“Dengan kondisi musim kemarau dan suaca seperti sekarang ini, kami minta   masyarakat  untuk meningkatkan kewaspadaan. Di antaranya dengan tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan. Terutama di lahan maupun hutan, baik yang jauh ataupun berdekatan dengan pemukiman. Karena api mudah tersebar dan menjadi besar bila terkena angin sehingga sulit dipadamkan,” kata Juli di Sleman, Senin (28/9).

Juli juga menghimbau warga tidak membuang puntung rokok dalam kondisi menyala dan dibuang disembarang tempat. Pasalnya bara yang masih menyala pada puntung rokok seringkali menjadi pemicu kebakaran besar.

Apalagi  lanjut Juli, rumput yang berada di tepi jalan raya kondisinya sudah sangat kering. Jika terbakar dapat merambat ke pemukiman sehingga dampak kebakaran semakin luas dan tidak terdeteksi.

Sementara dari data yang ada d Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadaman Kebakaran (Damkar) Sleman,  tercatat  ada tiga kecamatan di Kabupaten Sleman menjadi wilayah paling rentan terjadi kebakaran hutan. Hal ini lantaran banyaknya tanaman yang kering seiring terjadinya kemarau panjang di tahun ini. Dan ketiga kecamatan tersebut  adalah Kecamatan Prambanan, Cangkringan, serta ketiga wilayah tersebut, terdapat lahan yang berupa hutan rakyat yang cukup luas. Saat musim kemarau seperti ini, banyak daun kering berserakan di lahan tersebut. Dipicu api kecil saja sudah bisa mengakibatkan kebakaran yang serius.

Tidak hanya lahan dan hutan saja yang frekuensi kebakaran nya meningkat tetapi juga di pemukinan . Di tahun ini, hingga September lebih dari 75 kejadian kebakaran yang ditangani oleh UPT Damkar.
Peningkatan cukup signifikan terjadi mulai puasa lalu. Wilayah padat penduduk, seperti Depok, Ngaglik, dan Godean menjadi daerah yang riskan terjadi kebakaran.