Pasar Belut Alternatif Wisata Kuliner Khas Sleman

Sleman – Pusat Kuliner Belut Godean terus didorong agar dapat menjadi ikon wisata kuliner khas dan alternatif wisata makanan di wilayah barat Kabupaten Sleman.

“Pusat Kuliner Belut Godean  diharap dapat menjadi ikon baru wisata kuliner di Sleman,” kata Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Dra Tri Endah Yitnani di Sleman, kemarin. Menurut dia, Pusat Kuliner Belut Godean ini memberi kemudahan, baik bagi para pedagang dan konsumen bertransaksi berbagai hasil olahahan belut secara nyaman dan aman.

“Ini juga akan menjadi ikon pusat oleh-oleh khas Godean,” kata Tri Endah.

Tri Endah menambahkan  dengan tersentralnya penjualan hasil olahan belut ini tentunya memberikan nilai estetika yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Untuk menjadikan pusat kuliner ini ramai pengunjung, pengelola dan para pedagang dapat bersinergi, melaksanakan beberapa kegiatan yang menarik pengunjung,” katanya.

Sentra kuliner belut ini tentunya semakin menguatkan citra belut sebagai komoditas unggulan Sleman yang bahkan banyak diminati para wisatawan sebagai oleh-oleh khas Sleman.
Sentralisasi pemasaran komoditas ini juga diharapkan dapat meningkatkan promosi aneka produk olahan belut sebagai komoditas unggulan Kecamatan Godean, yang akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah.

Ditambahkan Tri Endah bahwa inovasi diharapkan dapat terus dilakukan untuk memberikan beragam pilihan bagi konsumen. Tidak hanya terbatas pada keripik, belut juga menarik untuk disajikan dalam bentuk lain seperti dendeng belut, abon belut, sambel belut kemasan dan lain sebagainya.

“Penganekaragaman pangan ini menggarisbawahi upaya untuk meningkatkan porsi produk olahan buatan dalam negeri,” tutur Tri Endah.

Selain itu, katanya, guna semakin meningkatkan kualitas produk kripik belut, ke depan akan dilakukan `grading` kripik belut sehingga pembeli dapat membedakan kualitas kripik belut.




Permintaan Kripik Tempe Khas Sleman Naik 100 Persen

Sleman – Makanan khas Sleman berupa kripik tempe produksi pasangan suami istri, Samsuri dan Sulikhah, warga Dukuh Gerjen Desa Margomulyo Kecamatan Seyegan Sleman, mengalami kenaikan permintaan hingga 100 persen menjelang puasa Ramadhan dan Lebaran.

“Jika selama ini permintaan hanya mencapai 40 sampai 50 kg per hari, kini menjelang puasa permintaan kripik tempe produk saya sudah mulai mengalami peningkatan hingga 100 persen. Dan peningkatan ini diperkirakan akan tetap berlangsung hingga Lebaran mendatang,” kata Ny Sulikhah ketika ditemui ditempat usahanya, Sabtu (28/6).

Kripik tempe produk Sulikhah memang terasa gurih dan renyah karena ada dua jenis kripik tempe buatannya. Jenis pertama kripik tempe dengan proses penggorengan dua kali dan kripik tempe dengan proses penggorengan satu kali.

“Kripik tempe yang digoreng dua kali hasilnya lebih renyah dan harganya juga lebih mahal, sedang yang digoreng satu kali kerenyahannya sedikit berbeda dan harganya lebih murah,” kata Sulikhah seraya menambahkan bahwa harga kripiknya antara sampai per kg.

Diakui Sulikhah pada bulan puasa ini keuntungan yang diperolehnya agak berkurang meski jumlah pesanannya meningkat, hal ini disebabkan bahan tepung tapioka juga mengalami kenaikan harga yang sebelumnya per 25 kg harganya sekarang mencapai .