Kompaknya Warga Dusun Wonorejo Ngaglik Manfaatkan Potensi Wilayah
Sleman – Kekompakkan warga Dusun Wonorejo, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman dalam upaya memanfaatkan potensi wilayah termasuk pelestarian lingkungan patut diacungi jempol.
Berbagai program mereka terapkan untuk membuat lingkungan menjadi asri dan hijau. Mulai dari penanaman pohon perindang hingga yang terbaru budidaya jambu madu. Untuk kegiatan budidaya tanaman jambu madu, warga memanfaatkan lahan pekarangan masing-masing.
Bibit sebanyak 163 pohon diberikan secara cuma-cuma kepada penduduk tiga lingkungan RT. Pengadaannya dibantu oleh pemerintah desa menggunakan alokasi dana desa senilai Rp 15 juta. Bibit itu didatangkan dari wilayah Pleret Bantul.
Selain bibit pohon, warga juga mendapat bantuan media tanam, polybag, dan pupuk kompos. Kepala Dukuh Wonorejo, Agung Suharto mengatakan pengembangan budidaya jambu madu baru digulirkan tahun ini. Tujuannya selain menciptakan lingkungan hijau juga untuk menunjang perekonomian warga.
“Nilai ekonomis hasil tanaman ini cukup prospektif. Harga satu kilogram bisa mencapai Rp 20 ribu,” kata Agung, Rabu (7/12).
Tidak sekedar bantuan fisik, para pengurus program juga mendampingi warga dalam melakukan perawatan tanaman. Diproyeksi, pohon tersebut akan berbuah dalam kurun 7-9 bulan setelah masa tanam.
Ke depan juga sudah dipikirkan pemasarannya yakni memanfaatkan fasilitas outbond yang saat ini sedang dirancang. Rencananya, outbond akan diresmikan akhir tahun ini. Konsepnya berupa edukasi mengenai cinta lingkungan bagi anak-anak.
“Kami sudah menyiapkan beberapa wahana seperti halang rintang, kolam renang, jembatan goyang, tangkap ikan, dan tanam padi. Total lahannya sekitar meter persegi,” kata Wahyudi, ketua wisata outbond Wonorejo.
Arena outbond itu juga didukung adanya peternakan sapi, dan pengolahan pupuk kompos. Di sekelilingnya juga terdapat tempat penginapan, dan rumah makan yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung.
“Kami ingin mempertahankan kultur masyarakat pedesaan. Konsepnya dari masyarakat untuk masyarakat sehingga sebisa mungkin menghindari investor,” kata Wahyudi.
Karenanya, fasilitas outbond tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Setiap akhir pekan mereka melakukan gotong-royong, dan pengelolaan nantinya turut melibatkan pemerintah desa.
