25 Embung di Sleman Untuk Konservasi Air

Hemat AirSleman – Berkembangnya pertumbuhan penduduk diikuti dengan pertumbuhan kebutuhan untuk mendukung kehidupan dan penghidupan manusia dimana faktor yang dominan dalam kehidupan manusia yakni kebutuhan air. Di sisi lain potensi sumber daya air dari tahun ke tahun semakin terbatas sehingga untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia baik air baku (minum, mandi, cuci dan lainnya), pertanian, perikanan dan lainnya perlu dilakukan pengaturan dan penghematan sehingga semua kebutuhan dapat terlayani dengan baik. 

Hal itu disampaikan Ir Sapto Winarno MT pada acara Kampanye Hemat Air yang dilaksanakan  di Embung Sendari Tirtoadi Mlati, Sabtu (14/3). Ditambahkan Sapto untuk menjaga keberlanjutan persediaan sumber daya air perlu dilakukan upaya konservasi sumber daya air dengan pembangunan embung, pembuatan sumur resapan, pembuatan biopori, memanen hujan dan lainnya.

Saat ini lanjut Sapto embung yang telah dibangun di Sleman mencapai 25 buah. Yang dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman 5 embung, Pemerintah Provinsi 12 embung dan Pemerintah Pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak 8 embung.

Dalam acara yang dihadiri oleh Assekda, Camat dan Kades serta kelompok OPPA Se Kabupaten Sleman, juga diadakan saa\rasehan dengan nara sumber dari UGM yakni Prof. DR Ir Sigit Supadmo, Arief Fakultas Pertanian UGM dengan materi hemat air untuk pertanian, DR Ing Ir  Agus Maryono Fakultas Teknik UGM dengan materi hemat air untuk air baku dengan peragaan alat memanen hujan, DR. Ir Heru Hendrayana Fakultas Teknik Geologi UGM dengan materi hemat air untuk penggunaan air tanah, Ir Hardaningsih MSI Fakultas Pertanian  UGM dengan materi hemat air untuk perikanan dan moderator Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak Agus Suprapto Kusmulyono, M

Sementara  Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI dalam sambutannya mengatakan betapa penting dan strategisnya air bagi setiap mahluk hidup.  Air bagi kehidupan dan bagi masa depan adalah sangat vital, “sustainability of the life for our Nation”.

“Wilayah  kita yang tergolong beriklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, mungkin melihat air sebagai hal yang biasa-biasa saja. Namun semakin hari masyarakat semakin menyadari bahwa air bukan saja untuk digarap tetapi juga perlu untuk diselamatkan,” kata Sri Purnomo.

Pemkab Sleman juga senantiasa mengupayakan pengelolaan sumber daya air sesuai dengan tiga pilar utama yang diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yaitu yang pertama adalah konservasi sumber daya air, yang kedua adalah pendayagunaan sumber daya air dan ketiga yaitu pengendalian daya rusak air. Pendayagunaan sumber daya air yang dilakukan melalui pembangunan embung adalah untuk pertanian, perikanan, pariwisata bahkan nantinya dapat dikembangkan menjadi air minum pedesaan.

Namun demikian, tidak boleh ada kelompok masyarakat yang memonopoli Sumber daya air ini karena pada hakekatnya sumber daya air ini adalah milik bersama sehingga semua kepentingan masyarakat harus bisa terpenuhi secara adil dan merata. Kelompok pertanian, perikanan, pengguna air minum pedesaan juga diupayakan untuk duduk bersama dan berembug untuk menggunakan air secukupnya dan berkeadilan bagi semuanya.

Pemborosan terhadap air masih terjadi dimana-mana, baik penggunaan air untuk kepentingan irigasi maupun penggunaan air untuk kepentingan rumah tangga, industri dan jasa. Alangkah baiknya jika para pendidik mengingatkan para anak didiknya, senantiasa mengingatkan mereka untuk bersikap hemat terhadap penggunaan air. Kesadaran seperti itu memang perlu ditumbuhkan sejak dini, agar ketersediaan air tetap terjamin untuk generasi-generasi yang akan datang.

Selanjutnya acara juga ditandai dengan penebaran bibit ikan di embung Sendari dan penaman pohon buah-buahan oleh Bupati Sleman.




Sleman Bangun 11 Embung Untuk Konservasi Air

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman  menyiapkan pembangunan embung sebanyak 11 embung, sebagai upaya untuk mendukung pelaksanaan konservasi air di wilayah Sleman dan kawasan di bawahnya. Saat ini sudah ada 14 embung dengan kapasitas volume rata-rata meter kubik.

“Kami rencanakan tambah 11 embung lagi. Sudah disusun DED (Detail Enginering Desain) nya,” kata Kabid Energi dan Sumber Daya Mineral Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Fauzan Darmadi, Kamis (20/3).

Menurutnya, sekarang ini pembangunan embung masih menjadi strategi unggulan Pemkab Sleman dalam hal konservasi air.  Proyek embung tersebut direncanakan tersebar di beberapa lokasi , di antaranya Desa Wedomartani Kecamatan Ngemplak, Lojajar Kecamatan Tempel, Sidokarto Kecamatan Godean, dan Pentingsari Kecamatan Cangkringan.

Dikatakan Fauzan untuk biaya pembangunan embung ini ditaksir antara Rp 3 miliar hingga Rp4 miliar per unit embung. Kecuali embung Wedomartani yang dulunya merupakan bekas galian tambang pasir diperhitungkan butuh anggaran Rp8 miliar.

Sementara Kepala Dinas SDAEM Sleman, Sapto Winarno, mengaku, konservasi lahan di Kabupaten Sleman masih sangat minim, sedangkan sesuai aturan perundangan, 30% dari total lahan harus memiliki fungsi konservasi.

“Di Sleman baru ada enam persen. Kami tidak bisa menargetkan kapan persentase ideal itu terealisasi. Jika hanya mengandalkan keuangan daerah tentu tidak mungkin, sehingga proposal juga diajukan ke Pemerintah Provinsi dan Pusat,” kata Sapto.

Sapto menambahkan,  karena keterbatasan anggaran, sampai sekarang pihaknya belum dapat memastikan realisasi proyek sebelas embung tersebut. Secara umum sarana embung diprioritaskan pada kawasan tengah dan utara.

Embung di lokasi tersebut diperhitungkan akan cukup efektif karena struktur tanahnya yang berpasir. Namun, kawasan lain seperti Sleman bagian barat dan timur khususnya Prambanan, juga dirasa layak untuk proyek embung.

“Setidaknya bisa digunakan untuk cadangan air permukaan. Belum ada perhitungan jumlah embung yang ideal untuk mendukung program konservasi. Namun, kami tetap akan mengupayakan karena program ini mendapat respon cukup bagus dari masyarakat bahkan dimanfaatkan untuk memancing dan wisata,” tutur Sapto.