Karang Taruna Bangunkerto Bantu 2 Korban Banjir di Bantul

Turi – Karang Taruna Desa Bangunkerto pada Minggu (10/12) mengadakan kegiatan sosial berupa Bantuan sosial (Bansos) ke daerah terdampak banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bantul beberapa waktu lalu.

Adapun wilayah yang dituju yaitu Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul. Rombongan Karang Taruna Bangunkerto Turi dengan menggunakan 3 mobil tiba di Kantor Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul sebagai posko bencana dan diterima langsung oleh Kepala Desa Selopamioro, Himawan.

Dalam sambutannya, Himawan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Karang Taruna Desa Bangunkerto dan berharap Bansos ini dapat bermanfaat serta bisa meringankan beban untuk korban banjir.

Jenis bantuan yang diberikan ada beragam, seperti pakaian pantas pakai, sembako, dan sejumlah uang tunai.

Setelah diterima di Kantor Desa Selopamioro, rombongan langsung diantar oleh Tagana DIY dan Kabupaten Bantul ke Dusun Lemah Rubuh dengan berjalan kaki dengan membawa barang bantuan untuk bertemu langsung dengan warga yang terkena musibah tanah longsor, yaitu ke rumah Wagiyah dan Klumpok.

Kedua warga lansia ini, rumahnya hancur terkena tebing yang longsor sehingga membutuhkan bantuan. Keduanya untuk sementara dibuatkan rumah tinggal di tanah milik Kepala Dukuh Lemah Rubuh yang tempatnya lebih aman.

Bantuan untuk kedua korban diberikan langsung oleh Ketua Karang Taruna Desa Bangunkerto Turi dan diterima dengan senang hati. (Harman)




Korban Kekerasan Perempuan dan Anak Masih Sulit Didata

Sleman – Kasus kekerasan masih menjadi momok bagi kalangan perempuan dan anak di Sleman bahkan kasus kekerasan ini masih sulit didata. Meski demikian sepanjang tahun 2015, Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan (KBPMPP) Sleman sedikitnya telah menerima 539 laporan tindak kekerasan baik terhadap perempuan dan anak-anak.‬

‪Tingginya angka pengaduan itu menjadi keprihatinan tersendiri bagi Kepala Badan KBPMPP Sleman, dr Nurul Hayah MKes. Dia bersama anggotanya terus intens melakukan sosialisasi untuk mendorong kaum perempuan dan anak-anak agar tidak takut melapor.‬

‪“Kami sudah membuat forum penanganan kekerasan di tingkat kecamatan. Disana masyarakat bisa mengadu yang selanjutnya akan diteruskan ke UPT P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak),” kata Nurul Hayah, Kamis (13/10).‬

‪Nurul Hayah memperkirakan, fakta di lapangan, kasus kekerasan anak dan perempuan jumlahnya lebih banyak dari laporan yang masuk. Fenomena  ini dikarenakan banyak korban yang enggan atau takut melapor.‬

‪Alasannya kebanyakan khawatir persoalan rumah tangga yang dihadapi justru akan bertambah pelik. Padahal, kata Nurul Hayah, dalam menangani aduan pihaknya mengedepankan langkah penyelesaian secara sosial.‬

‪Korban akan dipertemukan dengan pihak terlapor untuk bersama-sama mencari solusi. Selama proses mediasi di P2TP2A, korban juga didampingi oleh konselor.‬

‪”Jadi penanganan atau penyelesaiannya tidak selalu berakhir pada upaya hukum. Kami prioritaskan rumah tangga korban bisa tetap utuh jika pelaku kekerasan adalah pasangannya,” kata Nurul Hayah.

Dalam mewujudkan pengarusutamaan gender ini, pihaknya tidak berjalan sendiri. Masing-masing SKPD juga memiliki anggaran khusus yang mendukung kebijakan responsif gender.‬

‪Contohnya Dinas Sosial dengan kegiatan yang berkaitan difabel, dan pengentasan kemiskinan, serta Bappeda yang menyusun rencana aksi daerah terhadap gender.

Mulai tahun ini pihaknya berkomitmen menyukseskan program three ends yakni mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia, dan kesenjangan ekonomi pada kaum perempuan. Kinerja P2TP2A juga semakin ditingkatkan dengan sertifikasi agar layanannya sesuai standar.




Jumlah Korban Keracunan Massal Capai 107 Orang

Sleman – Jumlah korban keracunan massal usai makan nasi pecel di PT Mataram Tunggal Garment (MTG) bertambah. Hingga Kamis (22/1) pukul WIB, total ada 107 orang. Dari jumlah tersebut, empat diantara masih harus menjalani rawat inap di RS Panti Nugroho Pakem karena masih dalam tahap observasi.

Direktur Utama (Dirut) RS Panti Nugroho dr Tandean Arif Wibowo mengatakan, sebelumnya pihak RS menangani 104 korban dan enam menjalani rawat inap. Namun Kamis menjelang siang, tiga yang rawat inap sudah diperbolehkan pulang. Disaat yang bersamaan datang tiga orang dan satunya membutuhkan observasi tambahan.

“Jadi totalnya ada 107 pasien dengan empat rawat inap. Rata-rata keluhannya sama, pusing, mual lalu muntah. Hanya saja tingkat kegawatannya berbeda karena disesuaikan dengan daya tahan tumbuh pasien. Sebab ada yang selang dua jam usai makan langsung kerasa. Namun ada juga malam harinya baru merasakan mual,” katanya.

Mengenai korban yang harus menjalani rawat inap karena mereka membutuhkan tambahan observasi. Permasalahan utama tetap kekurangan cairan. Sebab semakin sering mereka muntah, semestinya harus segera diganti dengan cairan lainnya.

Sementara pihak  PT MTG siap menanggung seluruh biaya pengobatan karyawannya yang menjadi korban keracunan massal. Apalagi oleh perusahaan, seluruh karyawan juga telah didaftarkan sebagai peserta Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek).

“Jelas akan kita tanggung. Kita juga sudah berkoordinasi dengan pihak Jamsostek. Apalagi ini juga termasuk dalam kecelakaan kerja dan diluar prediksi,” kata Dewi Yulianti Manager Akuntasi PT MTG yang juga berada di RS Panti Nugroho.

Ketika disinggung apakah penyebab keracunan ini dari makanan, dia tidak bersedia mengungkapkannya karena masih dalam penyelidikan.

“Belum tahu penyebabnya apa. Masih diselidiki. Sekarang kondisinya juga sudah membaik. Ada dari mereka yang sudah diperbolehkan pulang,” ujarnya.

Seperti diketahui, puluhan karyawan PT MTG yang berada di Dusun Bolang Desa Donoharjo Kecamatan Ngaglik mengalami keracunan usai menyantap nasi pecel dan telor ceplok katering dari perusahaan, Rabu (21/1). Rata-rata keluhan mereka sama, yakni pusing, mual dan muntah. Mereka lalu dibawa ke RS Panti Nugroho Pakem untuk mendapatkan perawatan.***




2 Warga Korban Erupsi Merapi Lulus Terbaik SUPM Negeri Tegal

Sleman– Sekolah Umum Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Tegal, belum lama ini, mengadakan audiensi dengan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, yang dalam kesempatan tersebut didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman Ir Widi Sutikno MSi.

Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya audiensi tersebut karena SUPMN Tegal yang pada tahun ajaran 2011/2012 menerima siswa-siswi yang berjumlah 25 orang, yang merupakan korban erupsi Merapi tahun 2010, bantuan pendidikan tersebut diberikan kepada korban bencana alam.

Bantuan pendidikan tersebut juga diberikan kepada anak-anak korban bencana lainnya seperti korban bencana tsunami Mentawai dan juga korban bencana banjir bandang Wasior.

Rombongan SUPMN Tegal tersebut dipimpin oleh Kepala SUPM Tegal Anasri.  Ia melaporkan bahwa siswa-siswi korban erupsi Merapi 2010 yang menempuh pendidikan di SUPM Tegal tahun ajaran 2011/2012  dari 25 orang siswa-siswi yang dibina di SUPMN Tegal, 14 orang berhasil lulus dan akan diwisuda, sementara 11 orang mengundurkan diri selama proses belajar mengajar berlangsung.

Dari 11 orang yang mengundurkan diri tersebut karena masih mengalami trauma terhadap kejadian erupsi Merapi tahun 2010, sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri sehingga dapat bersama keluarga mereka masing-masing.

Dari 14 orang yang meneruskan pendidikan hingga lulus, 2 peserta didik yang berasal dari korban erupsi Merapi tersebut menjadi lulusan terbaik, Lulusan terbaik pertama adalah Uswatun Khasanah dan lulusan terbaik kedua adalah Winarni.

Pihak SUPMN Tegal kemudian menyalurkan lulusan terbaik I-III untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, Uswatun Khasanah melanjutkan ke Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, sedangkan Winarni memilih tidak meneruskan studi karena sudah diterima bekerja pada Perusahaan bergerak pada industri hasil pengolahan perikanan yang ada di Jakarta.

Selain itu siswa-siswi yang lulus juga disalurkan ke perusahaan-perusahaan yang telah menjadi mitra pihak SUPMN Tegal, bahkan ada 2 orang siswa korban erupsi Merapi  yang langsung diterima oleh perusahaan pengolahan ikan yang ada di Jepang.

Kepala SUPMN Tegal, Anasri mengundang Bupati Sleman Sri Purnomo agar dapat menghadiri wisuda 14 siswa-siswi tersebut sekaligus menerima penyerahan siswa-siswi korban erupsi Merapi tersebut oleh Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan sangat berterima kasih kepada pihak SUPMN Tegal yang telah membimbing siswa-siswi korban erupsi merapi hingga dapat menyelesaikan studi.

Bahkan ada salah satu siswa menjadi lulusan SUPMN Tegal, tentunya hal tersebut sangat membanggakan. Walaupun demikian, Sri Purnomo tetap menyayangkan adanya 11 siswa yang mengundurkan diri, tetapi hal tersebut memang bisa dimaklumi karena memang kondisi mental anak-anak tersebut masih sangat trauma akibat erupsi Merapi 2010.

Sri Purnomo berharap agar kerjasama SUPM Tegal dapat terus terjalin dan dapat ditingkatkan pada masa mendatang.