Verifikasi Kabupaten dan Kota Sehat

Turi – Kabupaten Sleman mengikuti Dalam rangka Lomba Kabupaten/Kota Sehat (KKS) tingkat nasional, tim KKS pusat didampingi perwakilan dari seluruh dinas Provinsi DIY melakukan verifikasi ke Kabupaten Sleman pada hari Rabu (25/10). Seluruh tim diterima di Ruang Rapat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo dan acara dilanjutkan dengan paparan dari Forum Kabupaten Sehat.

Usai paparan, tim beranjak menuju ke tempat-tempat yang akan dinilai. Adapun kriteria yang dinilai dari tim pusat terdiri dari sekretariat Forum Komunikasi Sekretariat (FKS), Puskesmas Sleman, dan Desa Tridadi. Adapun yang diverifikasi ialah kehidupan masyarakat sehat yang mandiri.

Pertama-tama, tim melakukan verifikasi ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk melihat showroom hasil kerajinan Kabupaten Sleman dan menilai kawasan perkantoran sehat.

Kemudian, dilanjutkan ke sekolah TK Al-Azar Pogung Lor Sinduadi Mlati yang dinilai menjadi percontohan sekolah sehat.

Setelah itu, dilanjutkan ke Dusun Mendiro Sokoharjo Ngaglik untuk melihat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal, kemudian ke Dusun Balangan untuk melihat dan menilai budidaya tani organik Merapi.

Lalu, tim menuju ke Dusun Nganggring Girikerto Turi untuk melihat dan menilai kelompok pengolahan susu kambing etawa dan ke Dusun Wonosari Bangunkerto Turi untuk melihat dan verifikasi Desa Green and Clean. Tim turun dan berjalan mengelilingi Kampong Wonosari.

Di dalam perjalanan, perwakilan tim dari pusat berkata bahwa Kampong Wonosari sangat nyaman asri dan bersih, seperti berada di tempat wisata bukan di perkampungan.

Setelah selesai, tim melanjutkan ke Desa Plalangan Pendowoharjo untuk melihat usaha kelompok tani dan sentra industri batik di Sleman dan tim verifikasi terakhir berkunjung ke Desa Wisata Kampong Flory di Tridadi Sleman sekaligus acara pelepasan.

Turut mendampingi dari Kabupaten Sleman yaitu Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Nurulhayah, Camat Turi, Kepala Desa Bangunkerto, semua Puskesmas, dan yang turut hadir di Kampong Wonosari. (Harman)




Di Sleman Pengkotaan Desa Harus Diwaspadai

Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi menilai pembangunan di wilayah Sleman yang harus diwaspadai berupa kegiatan yang mengarah pada pengkotaan desa-desa.

“Pembangunan yang mengarah kepada mengkotakan desa-desa ini perlu diwaspadai, harus diproteksi,” kata Gatot di Sleman, Sabtu (17/10).

Menurut Gatot, pemerintah daerah harus komitmen soal tata ruang, sehingga komposisi perkotaan dan perdesaan harus seimbang.

“Pembanguna pusat-pusat perbelanjaan, hotel, dan lainnya harus dikendalikan. Sebanyak 12 ribu sekian harus merupakan wilayah perkotaan, dan 10 ribu tetap sebagai wilayah pedesaan,” kata Gatot.

Gatot menambahkan masalah yang muncul adalah alih fungsi lahan dan masalah konservasi air, di mana Kabupaten Sleman selama ini merupakan lumbung pangan bagi DIY.

Selain itu, Kabupaten Sleman daerah tangkapan air bagi wilayah di bawahnya, seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

“Luas lahan pertanian yang 15 ribu hektare harus dipertahankan untuk menjaga swasembada pangan dan ketahanan pangan,” tuturnya.

Gatot mengatakan upaya yang dilakukan dengan memberikan insentif pelaku pertanian di wilayah setempat.

“Insentif dan kemudahan bagi pelaku pertanian ini harus diberikan. Selain itu ektensifikasi pertanian harus ditingkatkan. Ada masyarakat yang tidak goyah dengan iming-iming lahan pertanian dijadikan bangunan-bangunan beton,” katanya.

Selain itu, katanya, dari sisi perizinan harus solid dan tidak mudah memberikan izin-izin yang mengarah kepada alih fungsi lahan dan pembangunan yang mengancam pertanian dan konservasi air.

“Sekarang perizinan di Sleman mengarah satu atap. Ini jadi pintu masuk mengendalikan kawasan Kabupaten Sleman, belum terlambat meski harus ada masa transisi,” kata Gatot.