Labuhan Merapi

saat perjalanan dari balai labuhan menuju ke bangsal sri mangantiSleman – Adanya ritual Labuhan Merapi tentunya tidak terlepas dari sejarah kerajaan di Jogja. Prosesi ritual yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Tradisi Budaya peninggalan leluhur Kraton Mataram Islam ini terus dilestarikan dan menjadi salah satu andalan daya tarik wisata berlangsung di Sri Mangati diawali serah terima ubo rampe labuhan dari Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat sampai kecamataan Depok, Rabu (20/5).

Penyerahan ubo rampe yang dibawa Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dilakukan pada Selasa pagi sekitar jam WIB yang diserahkan kepada Camat Depok Drs Budiharjo, selanjutnya ubo rampe tersebut oleh abdi dalem disertai camat Depok diarak ke Kecamatan Cangkringan, ubo rampe labuhan diserahkan kepada camat cangkringan  Edy Harmana SH di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

Ubo rampe tersebut oleh camat Cangkringan dengan disertai abdi dalam kraton Yogyakarta diarak ke pendopo Petilasan Rumah Mbah Marijan di Kinahrejo yang diterima Ki Asih Suraksohargo sebagai juru kunci Gunung Merapi putra Mbah Marijan yang saat ini mengganti kedudukan Mbah Marijan.

Selanjutnya ubo rampe tersebut disemayamkan semalam di pendopo Petilasan Rumah Mbah Marijan, malam itu juga  dilakukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang  Ki Cermo Suwando dengan lakon “Dumadining Gunung Merapi” Sedangkan Rabu (20/5) pagi dimulai pukul WIB semua ubo rampe dilabuh ke Bangsal Sri Manganti dengan menempuh perjalanan 1-2 jam. Untuk tahun ini ubo rampe dilabuh di Bangsal Sri Manganti.

Adapun ubo rampe yang dilabuh berupa sinjang limar 1 lembar, sinjang cangkring 1 lembar, semekan gadhung 1 lembar, semekan gadhung melati 1 lembar, paningset udaraga 1 lembar, kambil watangan 1 biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh 1 buntal, yotro tindih 2 amplop, destar doromuluk 1 lembar. Ikut menyertai uba rampe labuhan yakni kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara labuhan.




Ratusan Warga Ikuti Puncak Upacara Labuhan Merapi

Sleman – Ratusan abdi dalem dan warga mengikuti puncak upacara adat Labuhan Gunung Merapi, yang merupakan Hajat Dalem Keraton Ngayogyakarto Hadininingrat, di Bangsal Srimanganti Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan, Sleman,  Sabtu (31/5).

Juru Kunci Merapi Mas Kliwon Surakso Hargo memimpin prosesi labuhan dari Pendopo Argo Merapi, yang merupakan petilasan Rumah Mbah Maridjan, sekitar WIB.

Prosesi diawali dengan doa di depan ubo rampe atau macam-masam sesaji yang telah disemayamkan di Pendopo Argo Merapi Dusun Kinahrejo, dan kemudian diarak lalu dilabuh di Bangsal Srimanganti.

Ubo rampe labuhan antara lain meliputi kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung (ayam) serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung setelah upacara selesai.

Sedangkan ubo rampe yang dilabuh antara lain Sinjang Limaran, Sinjang Cangkring, Semekan Gadung, Semekan Gadung Mlati, Peningset Udaraga, Seswangan, Seloratus Lisah Konyoh, Kembang Setaman, Yotro Tindih, dan Destar Doromuluk.

Ratusan abdi dalem dan warga mengikuti prosesi upacara adat labuhan dengan berjalan kaki sekitar dua kilometer selama sekitar dua jam hingga Bangsal Srimanganti. Mereka ingin mendapatkan lorotan, nasi serundeng dan suwiran daging ayam sekepalan tangan.

“Labuhan Gunung Merapi memiliki makna ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat berupa perlindungan keselamatan dan kesejahteraan,” kata Kliwon Surakso Hargo.

Labuhan Gunung Merapi juga merupakan simbol upaya menjaga keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.

“Upacara adat ini dihelat sebagai bagian dari rangkaian pengetan jumenengan dalem Sri Sultan  Hamengku Buwono X yang jatuh pada 29-30 Rejeb,” katanya.

Labuhan Merapi kali ini tetap digelar dengan sederhana dan tata cara pelaksanaan juga tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Upacara adat labuhan alit atau kecil tahun ini selain dilaksanakan di Gunung Merapi juga dilakukan di Pantai Parangkusumo, Bantul, dan Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.




Ubo Rampe Labuhan Merapi Dari Keraton Diserahkan

211_20140602051019Sleman – Upacara labuhan Merapi tahun 2014 akan mulai berlangsung  hari ini, Jumat (30/5) yang diawali serah terima ubo rampe labuhan dari Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat di Kecamataan Depok.

Penyerahan ubo rampe yang dibawa Abdi Dalem Kraton Yogyakarta tersebut pada Jumat pagi sekitar pukul WIB  diserahkan kepada Camat Depok Drs Budiharjo, selanjutnya ubo rampe tersebut oleh abdi dalem disertai Camat Depok diarak ke Kecamatan Cangkringan, dan oleh Camat Depok ubo rampe tersebut diserahkan kepada Camat Cangkringan  Drs Bambang Nurwiyono di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

Ubo rampe tersebut oleh Camat Cangkringan dengan disertai abdi dalam Kraton Yogyakarta diarak ke pendopo Petilasan Rumah Mbah Marijan di Kinahrejo yang  diterima oleh  Ki Asih Suraksohargo sebagai juru kunci Gunung Merapi putra Mbah Marijan yang saat ini mengganti kedudukan Mbah Marijan. Selanjutnya ubo rampe tersebut disemayamkan semalam di pendopo Petilasan Rumah Mbah Marijan, malam itu juga akan dilakukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalam Ki Catur Benyek.

Sedangkan Sabtu (31/5)  dimulai pukul WIB semua ubo rampe dilabuh ke Bangsal Sri Manganti dengan menempuh perjalanan 1-2 jam. Untuk tahun ini ubo rampe dilabuh di Bangsal Sri Manganti karena saat ini status Merapi yang sudah diturunkan ke status normal.

Adapun ubo rampe yang dilabuh berupa sinjang limar 1 lembar, sinjang cangkring 1 lembar, semekan gadhung 1 lembar, semekan gadhung melati 1 lembar, paningset udaraga 1 lembar, kambil watangan 1 biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh 1 buntal, yotro tindih 2 amplop, destar doromuluk 1 lembar. Ikut menyertai uba rampe labuhan yakni kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara labuhan.***