5.000 Warga Sindumartani Berada Di Daerah Ancaman Lahar Hujan

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan perlu disadari bahwa dalam setiap mitigasi bencana, dukungan dari masyarakat dan dukungan tim relawan mutlak diperlukan.

Masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

“Saat ini terdapat kurang lebih jiwa penduduk Sindumartani yang berada di daerah ancaman lahar hujan,” kata Sri Purnomo, Senin (19/5), saat berlangsungnya gladi lapang penanggulangan bencana .

Menurut Sri Purnomo, gladi lapang penanggulangan bencana menggambarkan bagaimana hiruk pikuknya masyarakat dalam menghadapi bencana lahar dingin dari Gunung Merapi. Dengan melibatkan puluhan relawan dan ratusan masyarakat  melakukan simulasi layaknya terjadi bencana sungguhan.

Suasana simulasi seakan seperti terjadi bencana sungguhan, karena banyak warga yang mengikuti gladi menangis. Beberapa dari mereka saat dijumpai usai simulasi menyampaikan bahwa mereka teringat akan kejadian bencana tahun 2010 yang lalu.

Sebagian dari peserta simulasi mengalami kejadian tersebut secara langsung, bahkan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan anggota keluarganya.

Dalam simulasi tersebut, banyak kejadian yang menggambarkan kepanikan dan sibuknya masyarakat untuk menyelamatkan diri, bahkan juga menyelamatkan harta benda yang bisa dibawa, termasuk hewan peliharaan.

Ditambahkan Sri Purnomo, gladi lapang memang sudah seharusnya dilaksanakan secara periodik mengingat Gunung Merapi mengalami perubahan perilaku, sehingga kesiapan dan kewaspadaan menjadi hal yang utama dalam menghadapi bencana.

Peran masyarakat dalam mitigasi bencana menjadi sangat penting, karena masyarakat merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha
pengurangan resiko bencana.

Agar memberikan manfaat yang optimal, rencana mitigasi harus mengadopsi dan memperhatikan kearifan lokal (local wisdom) dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge) yang ada dan berkembang dalam masyarakat. Hal ini karena kedua aspek tersebut merupakan faktor penentu dalam keberhasilan upaya pengurangan resiko bencana.

Lebih lanjut disampaikan Sri Purnomo bahwa untuk pembangunan jalur evakuasi, BNPB mengalokasikan dana total Rp20,75 miliar untuk Pemkab Sleman yang diperuntukan bagi 4 ruas jalan jalur evakuasi,    dan Sri Purnomo berharap pembangunan ruas jalan tersebut dapat dimulai pengerjaannya pada bulan Juni 2014 dan selesai secepatnya




Si Jawah Sabo Aplikasi Mitigasi Bencana Lahar Dingin Merapi

Sleman, – Balai Sabo Yogyakarta, bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengembangkan aplikasi mitigas bencana banjir lahar dingin, bernama Si Jawah Sabo (Sistem Informasi Hujan Yogyakarta dan Jawa Tengah).

Launcing dilakukan di Balai Sabo Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok, Kamis (17/4). Kepala Puslitbang SDA Bambang Haryono HE MEng mengungkapkan, aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi radar dan bisa menampilkan sebaran hujan secara real time.

“Masyarakat juga bisa mengaksesnya melalui internet maupun smarphone. Dengan radar cuaca, maka wilayah yang tidak terjangkau alat penakar hujan konvensional, dapat dipantau secara cepat,” katanya.

Potensi bencana di daerah Yogyakarta dan sekitarnya cukup tinggi. Contoh nyata dari erupsi Gunung Merapi 2010 lalu, dimana masih menyisakan 80 juta meter kubik material.

“Beberapa sungai yang berhulu di Gunung Merapi harus terus dipantau. Sebab banyak masyarakat yang tinggalnya di bantaran sungai,” katanya menambahkan.

Sistem informasi terpadu ini, menurut Bambang, memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya mampu memantau curah hujan terkini dalam jangkauan radar dan memantau pergerakan wilayah hujan. Data yang diperoleh lalu diolah melalui komputer dan ditampilkan melalui website.

“Data yang kami informasikan dalam sistem ini, diharapkan bisa menjadi peringatan dini lahar dingin dari Gunung Merapi. Diharapkan, baik penambang maupun warga setempat bisa lebih waspada dan mempersiapkan diri terhadap bencana,” jelasnya.

Bambang juga mengungkapkan, selain mitigasi bencana banjir lahar hujan, Si Jawah Sabo ini juga dapat dimanfaatkan untuk antisipasi tanah longsor, banjir hingga kekeringan di berbagai daerah.

Selanjutnya, aplikasi ini akan menampilkan hasil prakiraan banjir lahar yang merupakan keluaran dari sistem perkiraan banjir berbasis data radar.