Wagub DIY Membuka JORC V di Lereng Merapi‬

IMG-20170120-WA0007 (1024 x 682)Sleman – Wakil Gubernur (Wagub) DIY, KGPAA Paku Alam X membuka rangkaian kegiatan Jogja Off Road Challenge (JORC) V di lapangan Jabalkat Dusun Tanjung Desa Wukirsari  Cangkringan Sleman, Jumat (20/1).

Hadir pada kesempatan tersebut Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes, Deputi Bidang Olahraga Menpora RI, Kadisops Lanud Adisutjipto, KH Masrur Ahmad, MZ sebagai pengasuh Ponpes Al Qadir Sleman.

‪Rangkaian  Jogja Off Road Challenge V tersebut dibuka dengan jathilan Krido Budoyo Turonggo Mudho sebagai representasi budaya lokal yang terus dikembangkan.

Sementara Adib Daudi selaku Ketua Panitia JORC V menyampaikan bahwa kegiatan tahunan ini dilaksanakan dengan tujuan utama mendorong kegiatan pariwisata di sekitar kawasan Merapi.

Apresiasi kegiatan ini datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Hal tersebut terbukti dari keikutsertaan 40 tim dari DIY, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin, Makassar, bahkan Jayapura.

“Total sebanyak 135 kendaraan 4×4 yang mengikuti event ini dan telah dicek kesiapannya untuk mengeksplorasi potensi kawasan Merapi,” kata Adib.‬

Ketua IOF Pengda DIY, Inung Nur Fajri menyampaikan rasa  terima kasih kepada Wakil Gubernur DIY yang telah memberi support dan mau membina IOF hingga kegiatan terlaksana dengan baik.

“Kami juga ucapkan terima kasih kepada KH  Masrur Ahmad MZ sebagai pengasuh Ponpes Al Qadir yang peduli dengan kegiatan ini. Event tahun ini bisa dibilang kita ber-off road sambil ibadah,” kata Inung.

Inung juga menekankan agar peserta menunjukkan kebersamaan, menjaga kebersihan dan kepedulian alam, serta mengembangkan potensi yang ada di Merapi.‬ ‪Sedang Paku Alam X berpesan agar event yang menggabungkan wisata, olahraga, dan budaya ini mampu dimanfaatkan dengan baik bagi seluruh peserta maupun masyarakat sekitar.

Wagub juga berharap kegiatan ini semakin memacu dan menggairahkan cabang olahraga off road di DIY. ‬‪Wagub membuka event ekspedisi tahunan ini dengan mengibaskan bendera start. Rangkaian kendaraan 4 x 4 pun segera bergerak dengan deru mesin khasnya.




Ekowisata Lereng Merapi Ditata

Sleman – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) melanjutkan penataan ekowisata di area lereng Merapi. Tahun ini, penataan difokuskan di lereng sisi barat yang menyimpan beragam potensi. Diantaranya ternak kambing etawa, hutan pinus, serta budidaya aneka jenis tanaman seperti anggrek, bambu, teh, dan kopi.

“Master plan penataan sebenarnya sudah ada sejak lama. Tapi baru bisa dilakukan mulai tahun kemarin karena ada kejadian erupsi tahun 2010,” kata Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGM, Widya Kridaningsih, Selasa (5/4).

Pasca erupsi, pihaknya fokus menata destinasi yang sering dikunjungi wisatawan. Semisal Telaga Muncar, Telaga Nirmala, dan jalur pendakian Selo di Boyolali. Setelah semua selesai baru dilanjutkan pembenahan lereng sisi barat.

“Kawasan ini menyimpan banyak potensi yang menarik jika digali. Setelah penataan selesai diharapkan bisa menjadi ekowisata sekaligus media edukasi bagi masyarakat,” kata Widya.

Hanya saja, lanjut dia, masih ada kendala menyangkut kebutuhan air. Jika nantinya kawasan itu dibuka menjadi destinasi dan banyak dikunjungi wisatawan, pasokan air yang ada diperhitungkan belum memadai. Upaya penataan ekowisata itu disambut baik oleh warga. Salah satunya Suwaji (57), penduduk asal Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman.

“Daerah kami memiliki potensi budidaya teh. Adanya ekowisata bisa menjadi promosi sekaligus membantu pemasaran produk kami,” ujarnya.

Selama ini, pemasaran teh asli Turgo hanya sebatas di pasar-pasar tradisional, atau memenuhi permintaan yang masuk. Dia merasa siap jika daerahnya dijadikan destinasi ekowisata. Selain teh, kini juga dikembangkan budidaya tanaman kopi yang dapat menjadi alternatif bagi pengunjung.




Geliat Pariwisata Lereng Merapi Terkendala Jalan Rusak‬

Sleman – Geliat perkembangan sektor pariwisata di kawasan lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Kabupaten Sleman, terkendala akses jalan banyak yang rusak.‬ Dari pantauan Bernas di jalur wisata Kaliadem beberapa ruas jalan yang dilakui jeep wisata banyak yang rusak.

‪Sementara Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan Slema,n Heri Suprapto mengatakan, setiap tahun pihak desa mengirim surat permohonan ke Pemkab Sleman mengenai perbaikan jalan penghubung wilayah Tangkisan dan Kopeng yang merupakan jalur wisata lereng Merapi.‬

‪”Namun sampai saat ini belum ada kepastian dari Pemkab Sleman. Warga inginnya membangun secara swadaya, namun jalan tersebut merupakan jalan Kabupaten, bukan kewenangan kami untuk membangun,” kata Heri, Minggu (3/4).‬

‪Salah satu ruas jalan Kabupaten yang tampak rusak cukup parah berada di Padukuhan Petung, Kepuharjo, Sleman.‬

‪Jalan sepanjang kurang lebih empat kilometer yang merupakan penghubung Tangkisan, Umbulharjo dan Padukuhan Kopeng, Kepuharjo ini rusak hampir di seluruh titik pascaerupsi Merapi 2010. Jalan ini juga merupakan akses wisata ke sentra kopi Petung maupun museum peringatan erupsi Merapi “Sisa Hartaku”. ‬

‪”Kondisi jalan sudah rusak parah, tidak ada lagi kulit pelapis aspal dan yang ada hanya bebatuan dan lubang dalam di sejumlah titik,” katanya.‬

‪Heri mengatakan, warga Kepuharjo sendiri mengingikan supaya jalan tersebut diperbaiki, karena jalan tersebut mendukung perekonomian warga.‬

‪”Saat ini perekonomian seperti wisata dan pertanian sudah berjalan,” katanya.‬

Sedang ‪Kepala Bidang (Kabid) Binamarga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUP) Sleman, Mirza Anfanzury mengatakan Pemerintah Kabupaten Sleman belum ada rencana memperbaiki sejumlah jalan rusak yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi.‬

‪”Kami belum berencana masuk ke sana. Jalannya cukup tinggi dan berdekatan dengan lereng Merapi,” katanya.‬

‪Untuk jalan di kawasan Lereng Merapi, yang direncanakan akan diperbaiki yang berada di kawasan Srunen, Glagaharjo.‬
“Tahun ini baru dibuat desain engginering detail (DED),” katanya.‬

‪Menurut Mirza, Pemkab harus melakukan kanjian lebih mendalam dalam perbaikan jalan di lereng Merapi. Sebab, sejumlah jalan kabupaten yang rusak di Lereng Merapi masuk dalam KRB.‬

‪”Belum lagi, truk-truk penambang material masih banyak yang melintas di sejumlah titik jalan,” katanya.‬