Tanjungsari Tingkatkan Program KB Lewat Lokakarya

Ngaglik – Selasa (27/3), Dusun Tanjungsari merupakan dusun yang ditetapkan sebagai kampung Keluarga Berencana (KB) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Tanjungsari memenuhi kriteria sebagai kampung KB karena berada di daerah Legok (pinggiran atau minim kepesertaan KB) dan jumlah akseptor yang sedikit serta perlu peningkatan program KB. Dengan ditetapkan sebagai kampung KB, Tanjungsari diharapkan mampu meningkatkan program KB dan pembangunan masyarakat.

Agar harapan tersebut segera terwujud, Koordinator Penyuluhan Keluarga Berencana (PKB) Kecamatan Ngaglik, Dra. Abidah mengadakan lokakarya mini sebagai ajang koordinasi pengelolaan program di Tanjungsari. Lokakarya mini dihadiri oleh perangkat Puskesmas, KUA, Pertanian, Pendidikan Desa, Desa Sukoharjo, dan instansi terkait yang berada di Kecamatan Ngaglik.

“Kegiatan lokakarya akan terus dilakukan mengingat sangat bermanfaat karena bisa memadukan program di tingkat lini lapangan” terang Abidah saat lokakarya di Dusun Tanjungsari. Kampung KB akan terus bertambah, di tahun 2017 setiap kecamatan memiliki 1 kampung KB dan 2018 akan ditetapkan setiap desa 1 kampung KB, lanjutnya.

Lokakarya mini ini menghasilkan perencanaan kegiatan kampung KB sesesuai fungsi instansi masing – masing. Misalnya, KUA terkait sosialisasi Penundaan Usia Perkawinan (PUP), Pertanian terkait bagaimana menjadi petani yang handal, dan Puskesmas tentang pelaksanaan posyandu baik balita dan lansia serta program kesehatan lainnya. ()




Sulitnya Melakukan Pemasaran Media Cetak

Gamping – Dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2017, Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyelenggarakan Lokakarya Jurnalistik, Selasa (24/10) di Lantai 2 Gedung Balai Bahasa DIY Kotabaru.

Acara yang dimulai pada pukul WIB ini menampilkan narasumber Redaktur Pelaksana Minggu Pagi Latief Noor Rochmans. Lokakarya diikuti oleh KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) Kecamatan Gamping beserta 80 orang dengan latar belakang guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa.

Latief Noor Rochmans memaparkan bahwa membuat media cetak itu tidaklah sulit, justru yang sulit adalah bagaimana menjualnya.

Untuk membuat media cetak dipaparkan Latief perlu melakukan beberapa langkah seperti harus menentukan segmentasi, kemudian menentukan format (tabloid, koran, buletin, majalah). Selanjutnya membuat perencanaan liputan, yang meliputi apa, dimana, siapa, kapan dan bagaimana pelaksanaan liputannya (kaidahnya harus memenuhi 5W1H + save). Setelah itu, melakukan pendaftaran ke internet. Langkah lanjutannya adalah hunting berita, menulis berita, editing, dan membuat lay out serta pencetakan.

Diakui Latief langkah paling sulit dilakukan setelah media cetak jadi adalah pemasaran, baik medianya maupun menjual iklannya.

Di akhir paparan materinya Latief menyampaikan bahwa menulis adalah bakat. Selain itu, untuk dapat menulis seseorang perlu banyak membaca. (Adnan Nurtjahjo)