Lomba Lukis Ukur Intelektual dan Moralitas Anak Sleman

Sleman – Untuk pertama kalinya Dinas Kebudayaan Sleman menyelenggarakan festival seni budaya yang dikemas dalam lomba lukis tingkat Kabupaten Sleman tahun 2017. Bertempat di Museum Gunung Api Merapi, lomba tersebut diikuti oleh 300 peserta yang tebagi dalam kategori SD/MI, SMP, dan SMA/SMK. 

Mengusung tema “Cinta Seni dan Budaya”, Dinas Kebudayaan Sleman mengajak anak untuk lebih mengenal dan mengetahui budaya yang ada disekitarnya.

“Lomba lukis ini untuk memberikan ruang ekspresi bagi anak dan mengukur tingkat moralitas dan intelektual anak terhadap budayanya sendiri. Hal ini dapat kita lihat dari ekspresi anak dalam menuangkan emosinya kedalam lukisan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, HY. Aji Wulantara, S.H, , Minggu (17/9).

Selain itu, dengan budaya diera modernisasi sekarang  ini anak akan mengetahui siapa jati dirinya. Dan, anak akan siap dalam menghadapi lingkungan dan masyarakat yang berbeda –  beda budayanya dikemudian hari, tambah Aji.

Sedangkan untuk pemenang lomba lukis untuk kategori SD/MI berhasil diraih oleh Violet Kana Haya Naomi dari SD N Bongkol (juara I), Tiara Yusita Wijayanti dari SD N Gentan (juara II), Ghery Setia Adi Nugroho dari SD N Taraman (III), Abimanyu Ramadhan Flatditia dari SD N Karangmloko (harapan I), dan Anananda Tahta Swastono dari SD N Sukomulyo (harapan II).

Untuk kategori SMP dimenangkan oleh Mareta Zahra Kartika dari SMP N 1 Depok (juara I), Yohanes Doni Yoga K. dari SMP K st. Aloisius Sleman (juara II), Jovinca Amarisa Claudia dari SMP Budi Utama (juara III), Raynor Tisti Maharsi Kumudhani (harapan I) dan Venawa Vania dari SMP N 1 Ngemplak (harapan II).

Dan, kategori SMA/SMK dimenangkan oleh Sofia Rizky dari SMK Penerbangan AAG (juara I), Siti Nurhana dari SMK Penerbangan AAG (juara II), SMA Nor Tobias Imal Gamalliel dari SMA Kolase De Brito (juara III), Karol Bimoseno dari SMA Kolase De Brito (harapan I) dan Muhammad Irfan Hando dari SMK N I Cangkringan (harapan II).

Selanjutnya, lomba lukis tingkat Kabuapaten Sleman ini diharapkan mampu menjadi salah satu cara untuk mengolah tingkat emosi generasi penerus baik tingkat intelektual dan moralitasnya.




Lomba Lukis Jadi Sarana Sleman Kampanyekan Makan Ikan

Foto Lomba Lukis oleh Nana

Sleman – Pemerintah Indonesia sedang gencar menggalakkan budaya mengonsumsi ikan. Hal ini dilakukan melalui berbagai cara di berbagai elemen masyarakat. Upaya nyata yang dilakukan Pemkab Sleman sendiri untuk mendukung kampanye gemar mengonsumsi ikan dari pemerintah pusat ini adalah dengan mengadakan lomba lukis cinta ikan tingkat SD se-Kabupaten Sleman pada Senin (21/8) di Auditorium Jogja City Mall.

Lomba lukis yang diikuti oleh 230 siswa SD di 17 kecamatan di Kabupaten Sleman ini dimaksudkan untuk lebih memasyarakatkan konsumsi ikan di Kabupaten Sleman.

“Konsumsi ikan di Kabupaten Sleman itu kan masih rendah sehingga perlu ditingkatkan salah satunya dengan acara seperti yang kita laksanakan hari ini,” ungkap Ir Suwandi Azis, Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman.

Tak hanya itu, menurut Aziz, tujuan diselenggarakannya lomba lukis cinta ikan ini juga untuk memperkenalkan ikan kepada anak-anak sejak dini.

“Tidak hanya sekadar kenal tapi juga ada niatan untuk mengonsumsi karena begitu baik gizinya, begitu besar manfaatnya”, lanjut Azis.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, yang ditemui di kesempatan yang sama pun mengungkapkan ketersediaan ikan konsumsi per kapita per tahun di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan, yakni di tahun 2016 mencapai 32,11 kg, karenanya dibutuhkan upaya untuk meningkatkan konsumsinya.

“Ikan itu mengandung protein dan omega 3. Memilih ikan sebagai sumber protein tentu mendatangkan banyak manfaat, salah satunya mendukung kecerdasan anak,” tuturnya.

Serena, salah satu siswa dari SD Kanisius Kalasan yang berpartisipasi dalam lomba mengaku bahwa lomba lukis ini bisa mengenalkannya terhadap berbagai jenis ikan.

“Lele, Gurami, Nila, Patin, Tenggiri,” sebut Serena satu per satu.

Selain itu, Serena juga senang ikut dalam lomba ini karena mendapat dukungan penuh dari guru di sekolahnya.

Lomba lukis ini mengusung tema “Dengan Ikan Aku Tumbuh Sehat, Kuat dan Cerdas”. Peserta lomba dibagi menjadi dua kategori, A dan B. Kategori A diperuntukkan bagi siswa SD kelas I-III, sedangkan kategori B diperuntukkan bagi siswa SD kelas IV-VI.

 




Sleman Jadi Ajang Festival, Lomba dan Gelar Siswa Pendidikan Khusus

DSC_6004 BERNASSleman – Festival, lomba dan gelar siswa  pendidikan khusus dan layanan khusus DIY berlangsung di Sleman. Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes didampingi  Kepala Dinas Pendidikan DIY Drs Kadarmanto Baskoro Aji dan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Sleman Arif Hariyono SH di lapangan Pemkab Sleman, Rabu (1/6).

Acara juga dimeriahkan dengan penampilan para siswa meliputi menyanyi dan menari Kepala Dinas Pendidikan DIY  menyampaikan maksud dan tujuan acara tersebut yaitu menggali dan melestarikan seni budaya, membina dan meningkatkan kreativitas, dan mewujudkan perluasan dan pemerataan pembinanaan dan pengembangan bakat dan prestasi peserta didik anak berkebutuhan khusus (ABK).

170 siswa dari 34 cabang lomba diikuti 5 siswa dari Kabupaten/Kota se-DIY, lomba dilaksanakan selama 2 hari. 3 cabang lomba yaitu FLS2N meliputi menyanyi, melukis, baca puisi, menari, design grafis, MTQ dan pantonim. O2SN meliputi balap kursi roda dan catur turna netra. Lomba Keterampilan meliputi tata boga, merangkai bunga, membatik, kecantikan, IT, hantaran dan modeling.

Sedang Sri Muslimatun   memberikan apresiasi dan sangat mendukung sepenuhnya atas terlaksananya kegiatan Festival, Lomba, dan Gebyar Siswa Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Tingkat DIY ini. Kegiatan ini tentunya dapat bermanfaat bagi para siswa untuk menunjukkan bakat dan kemampuan  yang dimilikinya, serta menjadi sarana mengasah dan meningkatkan kreatifitasnya.

Anak-anak berkebutuhan khusus, memiliki potensi dan keunggulan yang luar biasa dan berbeda dengan anak-anak lainnya. Mereka diberikan karunia khusus, sehingga tidak boleh diremehkan.

Sebagaimana kita lihat, dalam keterbatasan mereka, para siswa ini bisa memberikan suatu karya yang sangat menarik, seperti layaknya anak-anak yang normal. Untuk itu, potensi ini harus terus diasah dan dikemas secara baik oleh para guru sehingga bisa menjadi modal bagi masa depan mereka.

Anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Sleman saat ini berjumlah 977 anak terdiri dari 564 anak lak-laki dan 413 anak perempuan. Jumlah ini perlu menjadi catatan bagi kita untuk membekali mereka dengan berbagai kemampuan dan keterampilan sehingga anak-anak kita dapat tumbuh menajdi generasi yang mandiri dan memiliki daya juang tinggi.

Anak berkebutuhan khusus perlu diperhatikan secara serius oleh semua elemen masyarakat. Keterbatasan yang dialami oleh anak-anak bukan sesuatu yang sia-sia, tetapi harus diasah dan dikemas secara terus-menerus sehingga menjadi sebuah prestasi.

“Selain mengasah potensi siswa, saya berharap agar siswa-siswa pendidikan khusus dan layanan khusus, juga mendapatkan pendidikan karakter yang bisa membina anak tidak saja cerdas secara intelektual, tetapi juga emosional dan spiritualnya,” kata Sri Muslimatun.

Sehingga lanjutnya para siswa ini memiliki kemampuan daya juang dan mentalitas yang kuat serta rasa percaya diri dalam menjalani kehidupan dan memenuhi tujuan keterbatasan anak-anak berkebutuhan khusus diharapkan terus memotivasi diri, untuk menatap masa depan yang terbentang luas.

Untuk itu, anak-anak harus terus belajar dan belajar menimba ilmu dan mencari tahu hal-hal yang baru untuk mendukung keterampilan dan kemampuan dalam persaingan yang mengglobal saat ini.




Lomba Cipta Menu Pangan B2SA

211_20140521090841

Pada hari Rabu (21/5), Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan kabupaten Sleman menyelenggarakan Lomba Cipta Menu Pangan B2SA (Beragam Bergizi Seimbang dan Aman) di Rumah Dinas Bupati Sleman. Panitia penyelenggara B2SA pada tahun 2014 ini adalah Kabid Ketahanan Pangan pada Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan kabupaten Sleman Ir Husen Siswanto.Lomba Cipta Menu Pangan B2SA diikuti oleh 16 peserta TP PKK kecamatan. Tim Juri terdiri dari Ahli Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, TP PKK, Perhotelan (APJI), Akademisi (PKMT-UGM) dan Praktisi Agus Wahyu Austin Culinarry. Maksud dan tujuan diadakan lomba B2SA untuk meningkatkan pengetahuan dan kreativitas masyarakat dalam menciptakan menu B2SA berbasis sumberdaya lokal dengan porsi yang seimbang.

Sekretaris Dinas ir. Dwi Ananta Sudibdya MT menyatakan dengan diadakannya lomba cipta menu ini, pemenang diharapkan bisa memberikan teladan, dan memasyarakatkan pola makan yang seimbang bagi masyrakat. Dan diharapkan lomba ini menjadikan nilai tambah bagi ibu. Juara I berhak mewakili lomba tingkat Propinsi tahun 2015 bahkan di tingkat nasional nantinya.

Dalam penyelenggaraan Lomba Cipta B2SA tahun 2014 Kecamatan Gamping meraih Juara I dengan nilai , Kecamatan Pakem meraih Juara II dengan nilai , dan  Kecamatan Turi meraih Juara III dengan nilai . Sedangkan Kecamatan Sleman meraih Juara harapan I,  Kecamatan Godean meraih Juara Harapan II, dan Kecamatan Prambanan meraih Juara Harapan III. Pemenang mendapatkan Tropi dan Bingkisan. Bagi peserta yang tidak memenangkan lomba mendapatkan bingkisan yang telah disediakan panitia.




KLH Sleman Selenggarakan Lomba Pembuatan Film Dokumenter

Sleman – Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman menyelenggarakan lomba pembuatan film dokumenter bidang lingkungan hidup, untuk menumbuhkan rasa kecintaan dan kepedulian pada lingkungan bagi generasi muda khususnya pelajar SMA, SMK dan MA di Kabupaten Sleman.

Lomba yang pendaftarannya dimulai tanggal 17 Februari sampai dengan 21 MAret 2014 itu, juga sekaligus untuk memberikan  wadah  berekspresi bagi para pelajar dan unjuk kemampuan pembuatan film dokumenter di bidang lingkungan hidup, demikian Media Center Kab Sleman melaporkan, Rabu (29/3).

Pendaftaran lomba ini tidak dipungut biaya. Bagi peserta yang mendaftar harus disertai dengan surat keterangan dari kepala sekolah. Namun setiap sekolah hanya diperbolehkan mengirimkan 1(satu) karya, dan karya yang dikirimkan merupakan karya original dan belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan sejenis.

Pembuatan film dilakukan di lokasi Kabupaten Sleman, dan materi film mengandung nilai pendidikan dan budaya serta tidak mengandung unsur SARA. Durasi karya 7-10 menit tidak termasuk credit title. Aspek rasio dan kamera yang digunakan dalam pembuatan film tidak ditentukan/bebas.

Kriteria penilaian lomba meliputi aspek kontens atau materi cerita, kualitas gambar, kualitas suara, editing, artistik dan presentasi karya finalis. Lomba ini berhadiah total , dan keputusan juri bersifat mutlak dan seluruh karya yang sudah masuk menjadi milik panitia.