BPBD Petakan Potensi Longsor di 4 Kecamatan

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman  memetakan potensi bahaya tanah longsor di 4 kecamatan. Mengingat puncak musim hujan diprediksikan pada  bulan  Februari ini sehingga potensi bencana cukup tinggi.

Kepala BPBD Sleman, Drs  Julisetiono Dwi Wasito SmHK MM mengatakan, selama ini potensi bencana longsor di Sleman meliputi Kecamatan Prambanan, Cangkringan, Pakem, Turi dan Ngemplak. Namun yang sudah memiliki peta potensi bencana longsor baru di Prambanan.

“Sekarang ini kami petakan potensi longsor di 4 kecamatan. Sedangkan peta di Prambanan sudah ada dan sudah disosialisasikan ke dukuh untuk diteruskan ke warganya,” kata Julisetiono, Rabu (3/2).

Menurut Julisetiono, pemetaan bahaya longsor ini berdasarkan peta dari Badan Geologi. Untuk di Prambanan memang sudah lama ancaman tersebut. Sedangkan di 4 kecamatan tersebut potensi bahaya longsor sudah terlihat.

“Masyarakat yang berada di bukit atau dibawah lareng supaya meningkatkan kewaspadaannya. Kalau ada tanda-tanda seperti tanah retak supaya segera melaporkan agar tidak menimbulkan korban,” katanya.

Ditambahkan Julisetiono, belakangan ini curah hujan cukup tinggi bahkan dibeberapa wilayah Sleman hujan dan angin kencang mengakibatkan pohon tumbang dan menimpa puluhan rumah.

“Karena Februari ini puncak musim hujan kepada masyarakat kami minta untuk terus  mewaspadai cuaca ekstrim karena hujan terus menerus bisa mengakibatkan banjir,” kata Julisetiono.

Diperkirakan  curah hujan pada bulan Februari ini cukup tinggi sehingga berpotensi longsor tinggi. Untuk mengantisipasi bencana longsor ini, BPBD juga sudah mengoptimalkan peran para relawan dan pemerintah desa. Selain itujuha terus melakukan komunikasi dan pemantauan di lokasi rawan longsor.




Longsor Timpa Rumah Suwito‬

IMG_20150211_115720Sleman – Hujan deras yang terjadi pada Selasa (10/2) siang hingga petang, menyebabkan terjadinya longsor sisi barat Bukit Pendekan, di Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Sleman. Area longsor yang mencapai panjang 10 meter dan tinggi 20 meter itu kemudian menimpa rumah Suwito Harjono. Akibatnya, bagian belakang rumah Suwito Harjono rusak.

“Temboknya hancur terdorong material longsor,” kata Suwito Harjono, Rabu (11/2).

Menurut dia, kejadian ini merupakan yang pertama terjadi dalam 30 tahun terakhir. Suwito menyebutkan sudah tinggal di tempat ini lebih dari 30 tahun. Terjadinya longsor, jelasnya, karena terjadi kemarau panjang dan kemudian diikuti hujan deras dalam waktu panjang. Secara terpisah Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Makwan menjelaskan, kawasan ini merupakan kawasan rawan bencana tanah longsor.

“Karena warga membangun rumah tinggal dengan cara memotong kaki bukit dan tidak membangun pengamanan misalnya dengan terasering,” kata Makwan.

Terhadap bencana ini, Makwan mengatakan BPBD Sleman dibantu relawan, TNI dan Polri serta masyarakat sudah mulai melakukan pembersihan material longsoran.

“Kami juga menyediakan sejumlah peralatan pendukung dan konsumsi untuk kerja bakti,” katanya.

Dengan melihat kondisi ini BPBD menyarankan warga mengungsi jika terjadi hujan deras. Selain di Seyegan, longsor juga terjadi di Gayamharjo, Prambanan. Longsor di Prambanan ini merusakkan hutan rakyat. “Longsorannya berupa batuan lepas yang ukursnnya cukup besar,” jelasnya.




Tebing Sungai Krasak Sepanjang 30 Meter Longsor

TEBING LONGSOR (1024 x 679)Sleman – Tebing Sungai Krasak sepanjang 30 meter dan ketinggian 40 meter di Padukuhan Jambean Desa Banyurejo Kecamatan Tempel longsor. Sebagian sawah milik warga yang berada di dekat tebing sudah ikut terkikis.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Banyurejo Tempel, Darisman mengatakan, tebing itu longsor sejak beberapa hari yang lalu. Sebelumnya terdapat jarak antara tebing dengan sawah namun sekarang ini beberapa sawah milik warga ikut terkikis longsor.

“Ada sekitar 30 meter tanah yang longsor. Diperkirakan longsornya tebing itu karena terkena arus Sungai Krasak. Sekarang ini sudah ada beberapa sawah warga yang terkena longsor,” kata Darisman, Kamis (22/1).

Sedangkan Camat Tempel, Wildan Solichin menuturkan, pihaknya akan kembali mengajukan permohonan ke BBWS untuk membangun kalau dibiarkan, bisa mengancam area persawahan warga.

“Kami minta ini segera diperbaiki karena kalau tidak ada penanganan, area persawahan warga yang menjadi korban akan semakin banyak,” kata Wildan.***