Cintai Kesenian Tradisional Warisan Nenek Moyang

Turi – Paguyupan Karawitan Ngudi Ngelmu Bangunkerto mengadakan gelar budaya melalui Festival Karawitan se-Kecamatan Turi yang dimulai dari pukul WIB pada Sabtu (17/2) bertempat di Rumah Slamet Ganggong Bangunkerto Turi. Selain Festival Karawitan juga diadakan Pentas Wayang Kulit pada malam harinya dengan menghadirkan Dalang Ki Anto.

Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Hadir dalam pembukaan Festival Karawitan adalah beberapa perwakilan dari DPRD Provinsi, Dinas Kebudayaan DIY, dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, serta hadir pula Camat Turi, Kepala Desa Bangunkerto dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Festival resmi dibuka oleh Sambudi, anggota DPRD Provinsi DIY. Dalam sambutannya, Sambudi merasa bangga dan senang karena masih banyak karawitan yang eksis dan terus hidup meskipun kebanyakan anggotanya sudah tua. Sambudi berharap supaya kegiatan lomba ini diadakan setiap tahun dan bergantian ke desa yang lain sehingga bisa semakin maju dan berkembang.

Tak hanya itu, Sambudi juga berpesan untuk selalu mencintai kesenian tradisional yang merupakan warisan nenek moyang. Pun, berharap agar seni karawitan ini bisa ditularkan ke anak-anak sehingga ke depannya bisa ada regenerasi.

Lomba karawitan diikuti oleh lima peserta atara lain dari Karawitan Gadung Bangunkerto, Gondoarum Wonokerto, Ngangrong Wonokerto, Gabugan Donokerto, dan Somoetan Girikerto. Sedangkan juri terdiri dari tiga orang yang merupakan penggiat seni dari Yogyakarta dan Jawa Tengah. (Harman)




Tembang Macapat Mengandung Makna Luhur

Turi – Dalam rangka nguri-uri budaya di Kecamatan Turi pada malam Selasa Kliwon (29/1) pukul WIB Paguyuban Macapat Sekar Turi mengadakan macapatan dan sarasehan.

Kegiatan macapat di Turi rutin dilaksanakan setiap malam Selasa Kliwon di Aula Kecamatan Turi. Sebelum sarasehan para peserta diberi kesempatan nembang macapat satu per satu bergiliran.

Sarasehan diisi oleh Panggih Hadipurwanto, Ketua Paguyuban Macapat Kabupaten Sleman dan Marjuki Ketua Paguyuban Macapat Sekar Turi.

Dalam sarasehan dengan tema “Sekar Macapat Dados Sarana Pendidikan Budi Pakarti Ingkang Luhur”, Panggih menjelaskan antara lain tembang macapat sejak zaman kuno sampai sekarang masih tetap dilestarikan.

Isi dari tembang macapat disampaikan Panggih mengandung pitutur luhur dan utama. Pun melestarikan tembang macapat Jawa berarti melestarikan budaya Jawa, ikut mendukung dan melestarikan Bahasa Jawa, serta berkarya untuk membangun bangsa Indonesia.

Selanjutnya diberi contoh tembang macapat sebagai sarana pendidikan budi pekerti. Misal tembang Mijil, Sinom, Asmorodana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, Pocung, dan Maskumambang. Semua isi dalam tembang macapat tersebut menyampaikan pelajaran yang baik.

Untuk acara sarasehan berikutnya disampaikan oleh Marjuki yang intinya bahwa di dalam kehidupan masyarakat DIY dan Jawa Tengah adat istiadat Jawa masih dilaksanakan misal mitoni, tingkep, tedak siti, merti bumi, lamaran, dan lain-lain. Sebagai contoh secara singkat arti atau makna upacara adat mitoni (tingkep). Pertama ayah dan ibu harus mandi di sungai jernih dan bersih yang mengalir. Bila telah selesai, pakaian yang basah dilepas biar terbawa air. Mengalir. Ini bermakna hilangnya hal-hal buruk dari tubuh.

Kedua, setelah mandi ibu hamil diberi tapih rangkap 7 yang maknanya supaya cita-citanya dikabulkan, dilindungi, dan mendapatkan pertolongan dari Tuhan YME.

Ketiga, dilakukan acara brojolan, agar kelak bayi dapat lahir dengan lancar. Brojolan menggunakan Kelapa Gading yang diukir dengan gambar Kamajaya dan Dewi Ratih. Ini mempunyai arti bila lahir laki-laki supaya gagah seperti Kamajaya dan menjadi anak yang taat beribadah. Begitu pula, bila lahir perempuan supaya cantik seperti Dewi Ratih.

Sarasehan juga dihadiri perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Agus, Kasi Kesmas Kecamatan Turi dengan total peserta berjumlah 25 orang. Acara diakhiri pukul WIB dengan doa syukur. (Suharno)




KIM Cangkringan Siap Gelar Lomba Macapat

Cangkringan – Sekar Cangkring Manunggal bekerja sama dengan KIM Kecamatan Cangkringan akan mengadakan lomba macapat di Vila Merapi Cangkringan pada Kamis (9/10) pukul WIB sampai selesai.

Sekar Cangkring Manunggal sendiri merupakan Paguyuban Macapat tingkat Kecamatan Cangkringan yang aktivitasnya menyelenggarakan gelar macapat setiap Senin Pon malam Selasa Wage di Pendapa Kecamatan Cangkringan. Gelar macapat dihadiri rata-rata oleh 50 peserta. Anggota dari paguyuban ini sebagian besar adalah anggota KIM Kecamatan Cangkringan

Pada lomba macapat yang diadakan bersama oleh Sekar Cangkring Manunggal dan KIM Kecamatan Cangkringan ini, diangkat materi lomba wajib, yakni Dhandanggula Lik Suling dan untuk pilihan yaitu Sinom Kentar dan Pangkur Paripurna.

Sebelum pelaksanaan lomba, selalu ada sosialisasi dari Camat Cangkringan maupun Ketua KIM Cangkringan tentang segala sesuatu untuk masyarakat. (Sudaryo)




Macapat, Sumber Budaya dan Pendidikan

Turi – Pada Senin (16/10) malam di Aula Kecamatan Turi berlangsung apresiasi macapat. Kegiatan macapat di Kecamatan Turi ini sudah berjalan selama 10 tahun.

Kegiatan yang dihadiri oleh 15 peserta ini dibuka oleh Agus Maryono dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Agus mengajak agar macapat selalu kita lestarikan sebab macapat merupakan sumber budaya dan pendidikan.

Kegiatan ini baik diikuti oleh tak hanya orang tua tetapi anak muda juga perlu diajak dan dibina sebab isinya macapat mengandung nasehat.

Agus menambahkan bahwa di Turi terdapat desa wisata dan 3 desa budaya. Karenanya, diminta para pendamping untuk betul-betul mendampingi.

Selain pelatihan macapat rutin oleh Pelatih, Panggih, apresiasi macapat juga dilakukan untuk mengajari anak-anak sekolah yang akan mengikuti lomba, seperti lomba macapat di Rumah Dinas Bupati untuk tingkat SD, SMP, SMA/SMK, dan Guru. Hasilnya pun tidak mengecewakan karena beberapa kali pernah menjadi juara. (Suharno)




Turi Gelar Apresiasi Macapat Jelang Lomba

Turi – Senin (11/9) malam, di Kecamatan Turi diadakan apresiasi macapat. Peserta apresiasi macapat ini ada 15 orang yang mana latihan dipimpin oleh Drs. H. Panggih.               

Kegiatan ini dihadiri juga oleh Kepala Seksi Sejarah, Nilai Budaya, Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Anas Mubakkir. Dalam sambutannya, Anas mengapresiasi kegiatan macapat yang selalu rutin diadakan setiap malam Jumat ini. Anas juga mengharapkan pelaksanaan kegiatan ini tidak mengendur dan menghimbau untuk mengajak generasi muda.

Dalam rangka menjaga kelestarian seni macapat, Dinas Kebudayaan Sleman juga mengadakan lomba macapat bagi siswa SD, SMP, SMA, guru-guru, perguruan tinggi, dan masyarakat umum. Bahkan, pada Selasa (22/9) akan diadakan lomba macapat tingkat kabupaten bagi guru-guru di Rumah Dinas Bupati Sleman yang mana Turi akan mengirimkan 4 peserta.