Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Sleman Tumbuh Baik‬

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyatakan kegiatan perekonomian masyarakat di Kabupaten Sleman mulai tahun 2015 tumbuh cukup baik dengan menunjukkan angka pertumbuhan sekitar 5,28 persen.‬

‪”Hasil upaya menjaga keberlanjutan kegiatan perekonomian masyarakat dilihat dari produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Sleman atas dasar harga berlaku selama lima tahun terakhir setiap tahun mengalami peningkatan cukup stabil,” kata Sri Purnomo, Minggu (4/12).‬

‪Menurut Sri Purnomo, pada 2015 tumbuh sebesar Rp 21,417 trilyun. Demikian pula PDRB atas harga konstan rata-rata meningkat Rp trilyun pada 2015.‬

‪Peningkatan tersebut menurut Sri Purnomo secara langsung meningkatkan pendapatan perkapita atas dasar harga berlaku sebesar Rp juta pada 2015. Sedangkan PDRB perkapita harga konstan pada 2015 sebesar Rp 6,79 juta.‬

‪Sementara lanjut Sri Purnomo,  perkembangan penanaman modal di Kabupaten Sleman selama lima tahun terakhir, baik investasi PMA, PMDN, dan non-PMA/PMDN mengalami peningkatan baik jumlah unit usaha maupun nilai investasi.‬

“Jumlah unit usaha PMDN pada 2015 sebanyak 57 unit,” katanya.‬

‪Sri Purnomo menambahkan untuk nilai investasi pada 2015 menjadi 233 juta dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan sebesar 0,68 persen dibanding 2014.‬

‪”Sedangkan untuk penyerapan tenaga kerja PMDN, pada 2015 sebanyak orang, yang sebagian besar merupakan tenaga kerja lokal Sleman,” tutur Sri Purnomo.




Dinamika Masyarakat Sleman Sangat Tinggi

DSC_0791Sleman – Kondisi masyarakat Kabupaten Sleman yang sangat heterogen, di satu sisi menjadi kekayaan sumber daya manusia, di sisi lain memiliki konsekuensi di bidang ketentraman dan ketertiban umum, dimana dinamikanya sangat tinggi dan mengandung potensi konflik.

“Di bidang pemerintahan umum saat ini juga masih terdapat konflik sosial dan konflik SARA di masyarakat,” kata Dra Hj Sri Muslimatun MKes, Wakil Bupati Sleman disela-sela acara pengajian pembinaan rohani bagi PNS Pemkab Sleman dan kalangan TNI/Polri di Masjid Agung Soedirohusoedo Sleman, Selasa (11/10). Dikatakan Sri Muslimatun, sebagai anggota masyarakat, pegawai Pemkab Sleman berasal dari masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Sesuai pedoman etika bermasyarakat maka pegawai Pemkab Sleman sudah selayaknya siap mewujudkan pola hidup sederhana, tanggap keadaan lingkungan masyarakat, berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat, memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama, dan menumbuh kembangkan keharmonisan saling pengertian.

Dalam hal ini, pegawai dalam kehidupannya di tengah masyarakat selayaknya menjadi figur yang dapat diteladani dan dapat membimbing, sehingga apa yang diperbuat akan dipercaya dan dicontoh oleh masyarakat.

“Selain itu mereka sangat berperan dalam membina umat beragama dengan pengetahuan dan wawasannya sehingga mampu menularkan sikap saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama,” kata Sri Muslimatun.

Disampaikan pula bahwa pengertian hijrah ada dua, yaitu hijrah fisik dan hijrah maknawiyah.

Hijrah fisik adalah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah, hijrah maknawiyah adalah berpindah dari kegelapan menuju terang benderang, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan menuju kepandaian, dari kemalasan menuju kerajinan, dari kekafiran menuju keimanan, dari kemusyrikan menuju ketauhidan, dari kekufuran menuju kesyukuran, dari kehinaan menuju kehormatan.

Sri Muslimatun  mengajak Peringatan Tahun Baru Hijriyah kali ini bisa dijadikan tonggak awal revolusi mental pegawai Pemerintah Kabupaten Sleman untuk membangun sumberdaya manusia yang berkualitas.

Dengan semangat Tahun Baru Hijriyah pegawai diajak untuk berhijrah atau berpindah dari sifat/tempat yang buruk ke sifat/tempat yang lebih baik sehingga dapat menjadi pegawai-pegawai yang ber-ahklak mulia, suri tauladan yang baik dan menjadi penerang baik dalam memberikan pelayanan publik di lingkungan pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Sedangkan  Ustad KH Muhammad Syaebani MA dalam tausiahnya  menyapaikan bahwa penyakit yang paling sulit dan bahkan belum ada obatnya adalah penyakit mata , yaitu mata duitan. Untuk itu diharapkan masyarakat lebih banyak dzikir dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan pada Tuhan Yang Maha Esa, agar terhindar dari penyakit mata tersebut.

Lebih Lnjut disampaikan bahwa disamping penyakit mata masih ada lagi penyakit  yaaitu penyakit kurang bersyukur, karena kebanyakan orang masih meraasa kurang dengan apa yang didapat.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan Baznas kabupaten Sleman  uang sejumlah Rp 5 juta kepada 8 kelompok, antara lain PAUD, Masjid, Mushala, Kelompok kerja penyuluh agama.




Fenomena Angin Kencang Masih Harus Diwaspadai Masyarakat Sleman

Sleman– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman masih memberikan peringatan cuaca ekstrim yang melanda Sleman, setidaknya sampai dengan pertengahan bulan April.  Hal Ini karena adanya musim pancaroba yang tengah melanda.

“Dampak dari pancaroba yang harus diwaspadai masyarakat fenoma angin kencang yang diprediksi melanda sejumlah titik di Sleman,” kata Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM, Minggu (27/3).

Menurut Julisetiono,  angin kencang akan terjadi di sejumlah kawasan di Sleman sampai dengan akhir pancaroba pada April mendatang.

“Masyarakat diminta untuk tetap waspada. Dari catat BPBD Sleman angin kencang terjadi diwaktu siang dan sore hari,” jelas Julisetiono.

Data terbaru BPBD Sleman peda 24 Maret tercatat angin kencang di kawasan Sleman melanda tiga titik yakni Kragilan Kecamatan Kasalan, Beji Desa Sidoarum Kecamatan Godean dan Jambon Kidul Desa Sindumartani Kecamatan Ngempak.

“Dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa, hanya saja sebuah truk tertimpa pohon di Jambon Kidul,” tutur Julisetiono.

Sebelumnya pada 23 Maret tercatat angin kencang terjadi di tempat yang sama padukuhan yang sama Beji Sidoarum Kecamatan Godean. Kawasan lain yang diterpa angin kencang terjadi di Sendangsari Kecamatan Minggir.

“Tidak ada korban jiwa, angin kencang hanya menumbangkan pepohonan dan merusak sawah,” jelasnya.

Julisetiono memaparkan jelang akhir Maret, angin kencang mencapai 9 kejadian. Rata-rata, angin kencang melanda kawasan Sleman Utara (lereng Merapi), Sleman Timur (Prambanan dan Kalasan) serta Sleman Barat (Minggir dan Moyudan).

“Sebagai antisipasi warga bisa menghindar dari pohon besar dan tiang yang rawan bila terjadi mendung cukup tebal,” tutur Julisetiono.

Sementara  Kabid Kebersihan dan Pertamanan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, Indra Darmawan mengatakan sesuai dengan rekomendasi BPBD pihaknya telah melakukan pemangkasan pohon di sejumlah titik yang dianggap rawan. Pemotongan pohon dilakukan seperti di Jalan Magelang dan Jalan Gejayan.

“Sejak Oktober sudah lebih dari 500 pohon yang kami tebang dan 80-an diantaranya karena rapuh dan rawan tumbang,” jelasnya.




Masyarakat Sleman Harus Tanggap Bencana

DSC_2414Sleman – Berkaca dari pengalaman bencana yang terjadi di tahun – tahun kemaren, semua elemen masyarakat di Kabupaten Sleman mengerti dan memahami bagaimana menanggulangi bencana dan menjadi tangguh dalam mitigasi dan penanganan bencana.

Selain bencana gempa bumi dan erupsi gunung Merapi yang masih mengancam, Sleman sebagai daerah rawan bencana juga harus mewaspadai ancaman bencana yang tanah longsor, dan banjir lahar dingin  yang terjadi di musim penghujan. Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI ketika menghadiri  Apel Siaga Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman di Halaman Kecamatan Pakem, kemarin.

Lebih lanjut disampaikan Sri Purnomo bahwa sesuai dengan Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, harus tanggap terhadap ancaman bencana bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, tetapi juga pada pra bencana dan pasca bencana. Paradigma penanggulangan bencana, tidak lagi di titik beratkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan resiko bencana, yang menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat.

Sri Purnomo juga berharap melalui apel siaga musim penghujan ini upaya mitigasi bencana harus dioptimalkan bukan hanya pada masa terjadinya bencana namun juga secara periodik dilakukan seperti halnya simulasi bencana. “Untuk merubah paradigma penanggulangan bencana yang hanya berorientasi pada penanggulangan kedaruratan bencana, perlu juga berorientasi pada mitigasi dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang terkonsentrasi pada pencegahan dan pengurangan risiko bencana.

Di sinilah peran PMI diperlukan,” kata Sri Purnomo. Menurut Sri Purnomon kKberadaan PMI menjadi tulang punggung dalam penanggulangan bencana, oleh sebab itu kesiapsiagaan anggota PMI perlu dilakukan untuk mendukung upaya mitigasi bencana.

Sebagai daerah yang memiliki potensi bencana, Kabupaten Sleman sangat membutuhkan peran seluruh elemen masyarakat termasuk PMI dalam menentukan keberhasilan dan bahkan kegagalan dari suatu operasi penyelamatan (search and rescue), pengerahan bantuan penanganan serta penanggulangan terhadap kejadian musibah/bencana.

Pada kesempatan tersebut bupati menghimbau kepada keluarga besar PMI serta masyarakat dengan Apel Siaga PMI ini, Sleman dapat lebih optimal untuk bersama-sama masyarakat dan pemerintah mewujudkan community preparedness atau kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana di musim penghujan ini.

Apel diikuti beberapa unsur seperti PMI Sleman, Relawan Tril, juga dari Polres Sleman dan beberapa kumunitas relawan. Pada kesempatan tersebut diserahkan pula bantuan berupa gergaji mesin/senso, jas hujan, sepatu but, dan helm oleh Bupati Sleman dan secara simbolis diterimaa PMI dan Relawan.