Sukoharjo Bangun Jalan Provinsi Guna Kurangi Kepadatan Arus

Ngaglik – Dalam rangka pelaksanaan pembangunan di bidang sarana dan prasarana jalan, Sabtu (2/9) dilakukan pengecekan tahap awal lokasi rencana perluasan dan peningkatan jalan provinsi di Dusun Sawahan, Wedomartani, Ngemplak yang terhubung dengan Dusun Karanglo Desa Sukoharjo, Ngaglik.

Jalan ini merupakan jalan alternatif menuju Kota Yogyakarta untuk mengurangi arus kepadatan Jalan Kaliurang. Di samping itu juga untuk percepatan evakuasi apabila ada bencana Gunung Merapi serta sebagai jalan alternatif untuk pengungsian di Stadion Maguwoharjo.

Pengecekan ini dihadiri langsung Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto beserta perangkat desa terkait serta masyarakat yang terkena dampak pembangunan. Ini agar masyarakat baik Karanglo dan juga Sawahan dapat melihat langsung sekaligus tersosialisasi terhadap pembangunan ini.

Kepala Desa Sukoharjo mengharapkan keikhlasan dan kesadaran masyarakat untuk ikut memberikan dukungan dan partisipasi dalam pembangunan jalan ini. Diharapkan pula apabila jalan telah selesai dibangun dapat lebih memperlancar pembangunan, meningkatkan perekonomian, dan kesejahteraan masyarakat,

Hadi juga menuturkan, apabila ada masyarakat yang terkena dampak pembangunan ini namun masih belum jelas, bisa berkonsultasi kepada pihak Desa Sukoharjo untuk memberikan penjelasan seluas-luasnya demi kelancaran pelaksanaan pembangunan jalan ini.

Sementara itu, Dukuh Karanglo, Dikabetus Rahardian, menyambut baik diperluasnya jalan ini sehingga masyarakat Dusun Karanglo nantinya bisa menikmati dan merasakan kelancaran jalan dengan harapan bisa meningkatkan ekonomi rakyat untuk menuju keluarga yang sejahtera.

Setelah pengukuran ini selesai, pembangunan akan segera dilaksanakan di tahun 2017 ini.




Karnaval Takbir Sukoharjo Junjung Netralitas Penilaian

Ngaglik – Sejak sore telah terpampang maskot para peserta Karnaval Takbir “Gema Takbir Sukoharjo 3” yang membuat masyarakat desa Sukoharjo dan sekitarnya datang untuk melihat penampilan para peserta Karnaval Takbir Desa Sukoharjo. Karnaval Takbir “Gema Takbir Sukoharjo 3” ini dilaksanakan pada Sabtu (2/9) malam di Lapangan Klidon Sukoharjo, Ngaglik.

Diawali dengan sambutan Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto yang mengatakan bahwa lomba takbir keliling ini betul-betul fair dan semua perangkat desa netral. Tim juri yang tidak tahu siapa juri lainnya merupakan pertanda bahwa pelaksanaan lomba ini sangat netral dan bersih,

Sementara itu, Camat Ngaglik, Anggoro Aji Sunaryono, mewakili Bupati Sleman dalam sambutannya menyambut baik atas dilaksanakan Karnaval Takbir “Gema Takbir Sukoharjo 3” dan meminta kepada tim penilai lomba ini untuk seobyektif mungkin.

Pada akhir sambutannya, Camat Ngaglik menginformasikan bahwa akhir September 2017, Desa Sukoharjo akan maju ke tingkat nasional dalam Lomba Perpustakaan Desa. Aji berharap, Desa Sukoharjo bisa mendapatkan nilai terbaik tingkat nasional.

Tak lupa, Aji juga menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi para peserta karnaval takbir dan secara resmi membuka Karnaval Takbir “Gema Takbir Sukoharjo 3”.

Karnaval takbir yang memperebutkan trofi dari Kepala Desa Sukoharjo ini diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari Desa Sukoharjo 10 peserta dan 5 peserta dari luar Desa Sukoharjo antara lain dari Desa Minomartani 2 peserta, 1 peserta dari Desa Sardonoharjo, 1 peserta dari Sinduharjo, dan 1 peserta dari Kecamatan Berbah Sleman.




Depok Genjot Upaya Pelestarian Budaya Jawa

Depok – Seiring dengan peradaban baru di era globalisasi, ada kecenderungan dilupakanya kebudayaan Jawa yang sarat dengan makna filosofi dan ajaran budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Ini termasuk mulai ditinggalkannya bahasa ibu yaitu bahasa Jawa dan pakaian adat Jawa. Tidak hanya kalangan muda, usia tua pun sudah tidak tahu bahasa Jawa bahkan tidak memiliki pakaian adat Jawa.

Kondisi yang demikian sangatlah memprihatinkan dan mengkhawatirkan mengingat akan semakin hilangnya budaya adiluhung yang merupakan warisan leluhur ini.

Melihat hal tersebut, Pemerintah Kecamatan Depok mengadakan Pelatihan Pranatacara Bahasa Jawa selama dua hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 2-3 September 2017 di Gedung Sasana Anglocitatama Kecamatan Depok. Peserta yang terdiri dari PKK, Guru PAUD, RT, RW dan Dukuh ini mendapat materi sesorah (pidato-red), tatacara MC, serta cara berbusana Jawa Gagrak Mataram Ngayogyakarta.

Narasumber dari pelatihan ini adalah Andi Wisnu Wicaksono dan Faisal Nur Singgih yang berasal dari Jogja TV. Keduanya tak hanya memberikan materi teori kepada para peserta tetapi juga membimbing untuk proses praktik.




Warga Sukoharjo Belajar Keiklasan dan Ketakwaan dari Nabi Ibrahim AS

Ngaglik – Sejak Jumat (1/9) pagi, kurang lebih jemaah Salat Idul Adha 1438 H telah memadati Lapangan Klidon Sukoharjo untuk Salat Id berjemaah. Adapun khatib dan imam dari Salat Id adalah Ustaz Abu Umar Ibrahim LC dari Pondok Pesantren Al-Anshor Wonosalam, Yogyakarta.

Dalam uraian khutbah usai Salat Id, Ustaz Abu Umar Ibrahim menyampaikan bagaimana keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan Nabi Ibrahim AS meski telah menerima beberapa cobaan dan ujian keimanan ketakwaan dari Allah SWT.

Nabi Ibrahim antara lain dalam berdakwah mengingatkan ayahnya dengan santun agar beriman kepada Allah SWT. Meski demikian, ayahnya tetap menyembah berhala karenanya Nabi Ibrahim AS terus mendoakan ayahnya.

Kedua, Nabi Ibrahim AS dibakar dengan api karena ketakwaanya Nabi Ibrahim AS tidak terbakar dan tetap sehat. Terakhir, Nabi Ibrahim AS diuji untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS namun karena keikhlasan, ketakwaan, dan kesabarannya maka Ismail tidak disembelih tetapi diganti dengan seekor domba besar sebagai kurbannya.

Dalam kesempatan itu, disampaikan pula informasi sementara kurban di lingkungan Klidon Sukoharjo berjumlah 14 sapi dan 10 kambing. Jumlah ini bisa bertambah mengingat hari berikutnya yakni Sabtu (2/9) masih akan dilaksanakan penyembelihan hewan kurban.




Sleman Samakan Persepsi Masa Depan Wilayah Sekitar Merapi

Sleman – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman mengadakan Workshop Penanganan Permasalahan Pasca Rehab-Rekon (RR)/ Rekompak Merapi Tahun 2017 pada Rabu (30/8) di The Sahid Rich Hotel Jogja.

Dihadiri oleh 85 peserta dari berbagai lapisan masyarakat, workshop ini selain bertujuan untuk mendapatkan informasi riil dan menyetujui startegi penanganan dari permasalahan yang masih tersisa pada kegiatan RR/Rekompak juga untuk mendapatkan prioritas penanganan masalah yang bisa diselesaikan pada tahun 2017 ini.

Kunto Riyadi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sleman menyampaikan meskipun program REKOMPAK sudah selesai pada bulan Juni 2015, beberapa perkara masih memerlukan penanganan agar hasil-hasil yang dicapai dapat berlanjut.

“Ada desakan yang kuat di antara warga untuk kembali ke lokasi asal atau area terdampak langsung. Karena itu perlu ditangani segera,” terang Kunto. Kunto menambahkan proses kembalinya masyarakat ke lokasi asal ini bisa saja menjadi semakin sukar apabila permukiman terlanjur berkembang di masa mendatang.

Sementara itu, proses rehab rekon yang dijalankan oleh Pemkab Sleman selama ini menurut Kunto sudah mempertimbangkan berbagai hal, seperti struktur bangunan lebih tahan gempa, tata ruang memperhitungkan zona risiko, dan warga memiliki kesadaran dan ketahanan yang didukung sistem peringatan dini dan evakuasi. Bahkan, diakui atau tidak rehab–rekon yang dilaksanakan dengan pendekatan berbasis masyarakat ini saat ini mulai menjadi rujukan bagi penanganan bencana yang sejenis dengan penyesuaian di sana-sini sesuai dengan kondisi bencana dan kondisi lokalitas.

Selain itu, ada harapan bahwa model penanganan pasca rehab-rekon yang telah dilaksanakan di Kawasan Merapi bisa menjadi raw model atau menjadi diarus-utamakan dalam penanganan kebencanaan di seluruh Indonesia.

Namun demikian, sampai dengan 2 tahun setelah selesainya, ternyata masih menyisakan permasalahan-permasalahan yang bisa menjadikan model penanganan RR/ Rekompak ini masih kurang layak untuk diarus-utamakan.

“Masih ada 607 KK  (Kepala Keluarga-red) yang belum terlayani oleh REKOMPAK karena memutuskan untuk tetap bertahan di area rawan bencana. Sejumlah keluarga sebenarnya sudah siap untuk relokasi namun terlambat mendaftarkan diri ke REKOMPAK,” urai Kunto. Padahal, tambah Kunto, masih tersedia lahan sekitar 5Ha untuk menampung sebagian warga yang berminat.

Workshop ini menghadirkan beberapa narasumber, yakni Dr. Eko Teguh Paripurno, MT selaku Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN, Drs. Krido Suprayitno, SE. selaku Kepala BPBD DIY, dan perwakilan dari Badan Nasional Penanganan Bencana dan BPPTK DIY serta dari Kementerian PUPERA .

Melalui workshop ini, Pemda Kabupaten Sleman dan Pemerintah DIY bermaksud mengajak warga dan semua pihak yang terkait untuk menyamakan persepsi tentang masa depan wilayah sekitar Merapi dan menyepakati perangkat implementasi dan pengendalian pembangunan yang perlu dikembangkan.