Sukoharjo Sambut Kedatangan 17 Jemaah Haji

Ngaglik – Dalam acara penerimaan jemaah haji se-Desa Sukoharjo, sejumlah 17 orang jemaah haji telah kembali dalam kondisi yang sehat dan menceritakan pengalaman pelaksanaan haji di tanah suci pada Minggu (24/9) di Balai Desa Sukoharjo, Ngaglik, Sleman.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Sukoharjo yang diwakili Sekretaris Desa Sukoharjo, Yuliani, menyampaikan terima kasih atas kedatangan para jemaah haji di Balai Desa Sukoharjo. Yuliani juga mengucapkan selamat datang dan selamat kembali ke rumah masing masing. Pun, mendoakan para jemaah haji, semoga menjadi haji mabrur sehingga bisa menjaga kemabruran haji sepanjang hayat sesuai dengan slogan IPHI.

Sementara itu, Ketua IPHI Ranting Sukoharjo, mengharapkan untuk menjaga kemabruran haji, para jemaah haji dapat masuk menjadi anggota IPHI Ranting Sukoharjo dan bisa aktif dalam kajian bulanan setiap Minggu kedua.

Untuk lebih lengkapnya, silaturahmi penerimaan haji ini diisi tausiah oleh Ustaz Drs. H. Kholisin yang menekankan kepada penjagaan kemabruran ibadah haji dengan terus menerus menggali ilmu agama secara rutin. Hal ini untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan sehingga setelah kembali dari haji, ibadahnya tetap bisa dipertahankan dan ditingkatkan kualitas.

Akhir acara, dilaksanakan pembacaan doa yang dilafalkan oleh 4 jemaah haji sebagai perwakilan.




Festival Garis Imajiner Sarana Uri-uri Budaya

Sleman – Dinas Kebudayaan Sleman kembali menggelar festival budaya bertajuk Festival Garis Imajiner. Festival yang rencananya diadakan dari 21-23 September ini resmi dibuka pada Kamis (21/9).

Penyelenggaraan Festival Garis Imajiner ini dipusatkan di Bantara Sungai Code Bawah Jembatan Baru UGM, mengingat lokasi ini dianggap sebagai titik bertemunya garis imajiner antara Laut Selatan, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tugu Jogja dan Gunung Merapi.

Dalam Festival Garis Imajiner terdapat 3 bentuk kesenian yang akan ditampilkan. Pertama, Kirab Megangampak Hangrangin atau pawai seni budaya. “Yang melibatkan 38 grup kesenian dan bregada,” terang Aji Wulantara, Kepala Dinas Kebudayaan Sleman. Dalam pawai ini, Aji menambahkan bahwa Dinas Kebudayaan Sleman menggandeng Polres Sleman untuk ikut memeriahkan pawai melalui pawai kebangsaan.

Pawai dimulai dari tiga titik, yakni dari Hotel Tentrem untuk zona selatan, dari Pasar Kutu untuk zona barat, dan dari Jalan Monjali untuk zona utara. “Semua peserta akan bertemu di Jembatan Sardjito atau jembatan baru UGM,” tutur Aji Selasa (19/9) di Ruang Bidang Humas Pemkab Sleman.

Selain Kirab Megangampak Hangrangin, ada agenda Sleman Hanengsemi, yakni pergelaran seni budaya tradisional kerakyatan dengan 21 grup yang berpartisipasi. Selanjutnya adalah Mataram Mangarsi atau pementasan tiga genre bentuk seni yang berbeda dalam satu rangkaian cerita. Tiga genre tersebut adalah sendratari, kethoprak, dan wayang kulit.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, yang hadir dalam pembukaan acara ini menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pelaku seni. Sebab, kegiatan yang baru pertama kali digelar ini dapat menjadi upaya untuk nguri-uri (melestarikan-red) budaya juga untuk mengenang kembali sejarah masa lalu yakni kisah perjalanan Panembahan Senopati, yang dapat menjadi teladan dan diambil hikmah dari kepemimpinan para pendahulu.

Ke depannya, Sri Muslimatun berharap acara ini dapat dikemas menjadi agenda acara yang lebih menarik lagi.




Turi Gelar Mubeng Dusun Saat Tahun Baru Hijriah

Turi –  Dalam rangka menyongsong Tahun Baru Hijriah, warga Kembangarum wetan kali mengadakan tirakatan dan mubeng (keliling-red) dusun yang dimulai dari pukul WIB, Kamis (21/9).

Malam tirakatan ini dihadiri Kepala Desa Donokerto, Kepala Dusun Turi 13, Babinkamtibmas Donokerto Aiptu Slamet, dan seluruh warga wetan kali. Jumlah yang datang ada 100 orang.

Usai tirakatan, acara dilanjutkan dengan tahlil kemudian upacara adat. Selesai upacara adat dilanjutkan dengan mubeng dusun, lalu kembali ke tempat semula dengan membagikan doorprize. Acara ditutup dengan doa.




Kartu Tani Mudahkan Petani Manfaatkan Subsidi

Sleman – Bupati Sleman, Sri Purnomo, menyerahkan kartu tani sejumlah kepada petani di Kabupaten Sleman pada Selasa (19/9) di Halaman Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman.

Menurut Sri, kartu tani ini dibagiakan agar subsidi pemerintah pada sektor pertanian bisa tepat sasaran. “Kartu tani itu kan program nasional ya. Itu kan digunakan untuk para petani petani yang membutuhkan,” terang Sri saat ditemui di sela-sela peringatan Hari Pangan Sedunia ke-37.

Sri menambahkan, kartu tani ini bisa digunakan para petani untuk membeli berbagai macam kebutuhan pertanian. “Kartu tani bisa dimanfaatkan macam-macam sehingga harapannya nanti mereka nanti bisa gunakan untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya keperluan dari petani, misalnya pupuk segala macam itu,” tambah Sri.

Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Suwandi Azis, menyampaikan pula bahwa pembagian kartu tani tahap pertama ini dapat memudahkan para petani dalam memanfaatkan subsidi pemerintah karena petani tidak perlu bersinggungan langsung dengan dana dari pemerintah. “Jadi subsidi itu sudah masuk dalam rekeningnya petani, tinggal petani tidak bersinggungan dengan uang tapi hanya dengan kartunya itu,” ungkap Azis.

Dituturkan Azis, dana yang diberikan kepada setiap petani memiliki jumlah yang berbeda, salah satunya tergantung dari luas lahan petani. “Luas lahannya berapa nanti kan ketemu jumlah kebutuhan pupuknya berapa, nanti disubsidi berapa kemudian yang harus dibayar oleh petani sendiri berapa,” jelas Azis.

Azis mengaku bahwa pembagian kartu tani ini masih dalam proses berjalan, mengingat jumlah petani yang terdaftar di Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman mencapai petani. Karenanya, Azis memperkirakan bahwa penggunaan kartu ini baru bisa maksimal pada tahun mendatang.




Kudapan Ini Andalkan Manfaat Baik Tanaman Kelor

Sleman – Setiap tahun Kabupaten Sleman memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober. Untuk tahun ini Hari Pangan Sedunia ke-37 digelar oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman pada Selasa (19/9) di Halaman Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman.

Ada beberapa agenda yang dirancang Dinas Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman dalam rangka memeriahkan Hari Pangan Sedunia ini, seperti mengadakan pameran, bazar, dan aneka lomba olahan makanan. Salah satu olahan kudapan yang menjadi perbincangan pokok adalah yang berbahan dasar tanaman kelor.

Menu, Ketua Paguyuban Kelompok Wanita Tani (KWT) Pa-Ri Merapi Sembada, Kecamatan Pakem menuturkan bahwa acara ini diikutinya secara rutin setiap tahun.

“Untuk olahan daun kelor sendiri, dipelopori oleh Dinas Pertanian. Nah, karena itu saya mengajak teman-teman untuk mengolah daun kelor. Ini juga baru mulai sekitar 5 bulan yang lalu, untuk olahannya sendiri ada cendol kelor, puding kelor, dan juga pepes kelor,” terang Menu

Untuk olahan lain yang dapat diolah dari daun kelor, yakni botok, pasta kelor ayam, kue tar kelor, permen kelor, nugget, stik daun kelor, puding, pepes, dan kue bawang kelor.

Menu mengakui bersemangat dalam melakukan inovasi produknya karena mengetahui bahwa daun kelor memiliki banyak manfaat baik. Hal ini juga diamini oleh Prof. Dr. Nurfina Aznam. SU. Apt, yang di kesempatan yang sama berlaku sebagai narasumber dalam Sarasehan Manfaat Daun Kelor.

“Manfaat daun kelor begitu banyak, bahkan di luar negeri pun membuat obat dengan bahan kelor tersebut, dan kita dengan bangganya malah membeli dengan harga yang mahal. Ya maka dari itu sebisa mungkin kita mengolah tanaman ini dengan baik lagi,” ungkap dosen Jurusan Kimia, Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Nurfina menuturkan bahwa selain daun kelor yang mempunyai banyak manfaat, bunga, maupun akar kelor pun bisa dijadikan obat-obatan dan vitamin. Tak hanya itu, tumbuhan kelor juga berguna antara lain sebagai anti inflamasi, pencahar, pengobatan luka, obat sakit kepala, rubefacient, vesicant, penyakit mata, pencegah tumor, kanker maupun bisul, dan penyeimbang gula darah. Fungsi dari tumbuhan yang kaya akan vitamin C, D, B1, B2, B12 dan E pun juga ada kaitannya dengan perawatan kesuburan baik bagi pria maupun wanita.

Di event yang berlangsung sejak pukul WIB ini, olahan daun kelor milik KWT Sekar Melati maju sebagai juara setelah bertarung dengan 22 KWT lain yang ada di Kabupaten Sleman. Pemenang berhak mendapatkan hadiah dan trofi yang diserahkan langsung oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo.