Kirab Gunungan Hasil Bumi Meriahkan Merti Dusun Ngabean Kulon

Ngaglik – Sore itu Jumat (20/4), Padukuhan Ngabean Kulon diguyur hujan cukup deras. Dalam suasana yang demikian itu tidak menyurutkan niat warga Ngabean Kulon untuk mengadakan kegiatan merti dusun.

Berbagai hasil bumi dibentuk Gunungan diarak keliling kampung. Berbagai tetabuhan dibunyikan mengiringi kirab tersebut.

Dengan gagahnya Tri Yoga Ekatani memimpin bregada berwarna merah mengawali kirab. Diiringi musik Lokananta membuat suasana kirab lebih semarak. ” Kita libatkan semua warga masyarakat Ngabean Kulon untuk mengikuti kegiatan merti dusun tahun ini, 10 rt, 4 rw, dan pemerintah desa ” ujar Suparno, Ketua Panitia Merti Dusun Ngabean kulon.

Agenda dalam rangka Merti Dusun Ngabean Kulon tahun ini diawali dengan kerja bakti masal kemudian kirab budaya, upacara tradisional, pentas seni antar rt, bakti sosial, ziarah mantan tokoh, dan ditutup pagelaran wayang orang dengan lakon romonitik.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 15,20, dan 21 April 2018 di Halaman SMP dan SMK Piri Ngaglik, Sleman.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Sinduharjo Sudarja memberikan mengapresiasi atas kegiatan merti dusun di Padukuhan Ngabean Kulon ini. “Agar kegiatan ini dapat dilestarikan dan menjadi contoh padukuhan lainnya,” pesan Sudarja. (Suripto)




Tetap Jaga Budaya dan Tradisi Kenduri Supaya Lestari

Turi – Rabu (24/1), masyarakat Dusun Wonosari Bangunkerto Turi mengadakan tradisi kenduri dalam rangka hajatan salah satu warga. Acara kenduri ini selalu dilakukan dan diikuti oleh semua warga setiap ada hajatan seperti pernikahan, sunatan, merti dusun, dan peringatan hari besar agama Islam.

Adapun keunikan dari tradisi kenduri di Dusun Wonosari yang masih dilakukan seperti sejak zaman dahulu ini yaitu semua warga yang hadir harus membawa wadah atau tempat sendiri dari rumah.

Sebelum warga datang pihak yang punya hajat sudah mempersiapkan berbagai macam perlengkapan yang diperlukan untuk kenduri seperti jenang merah dan putih, nasi tumpeng, nasi ambeng, nasi gurih, iwak/ayam ingkung.

Sedangkan sayur, gudangan, tempe, telur, krupuk, peyek kacang, peyek keper, kolak apem, dan jajanan pasar sudah siap terbungkus rapi.

Setelah semuanya hadir baru tuan rumah menyerahkan kepada tokoh agama sekaligus mengutarakan maksud dan tujuannya.

Setelah itu, baru didoakan oleh tokoh agama dan diamini oleh semua yang hadir. Selesai didoakan baru tumpeng dipotong dan dibagi rata ke semua yang hadir.

Acara ini biasa dilaksanakan pada pukul WIB. Adapun tujuan kenduri adalah suatu bentuk berbagi rezeki atau sedekah yang diberikan ke tetangga dan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberi rezeki, kesehatan, kelancaran, dan keselamatan dalam pelaksanaan hajatan tersebut. (Harman)




Merti Desa Prosesi Membersihkan Diri Lahir dan Batin

Turi – Untuk menandai puncak acara Wonokerto Expo 2017, dilaksanakanlah Upacara Adat Merti Desa Wonokerto, Minggu (12/11). Acara ini dihadiri oleh jajaran Muspika Kecamatan Turi dan Camat Turi, Siti Anggraeni Susilaprapti.

Upacara Adat Merti Desa Wonokerto diawali dengan arak-arakan gunungan dari masing masing padukuhan di wilayah Wonokerto. Gunungan ini diarak mengelilingi Desa Wonokerto.

Para peserta arak-arakan memakai berbagai macam kostum, seperti kostum daerah dan kostum rakyat untuk memikat masyarakat umum. Hal ini menambah semarak dan menarik prosesi arak-arakan.

Arak-arakan dimulai dari Lapangan Puntuk melewati beberapa dusun di wilayah Desa Wonokerto dan berakhir di halaman Desa Wonokerto yang merupakan tempat prosesi upacara adat. Tumpeng dan gunungan yang diarak mengelilingi dusun di wilayah Desa Wonokerto diserahkan oleh perwakilan peserta arak-arakan kepada Kepala Desa Wonokerto.

Dalam sambutannya Kepala Desa Wonokerto, Tomon Haryowirosobo memaparkan bahwa dengan kegiatan merti desa dalam rangkaian acara Wonokerto Expo ini, seluruh masyarakat diharapkan bisa membersihkan diri secara lahir dan batin.

Wonokerto Expo 2017 yang mengambil tema “Semangat Bela Negara Meningkatkan Potensi Desa” ini diawali dari tanggal 4 hingga 12 November 2017, dengan menampilkan beberapa produk UMKM dan pentas kesenian. (Ari Herliyanto)




Pameran Potensi Desa Wonokerto Suguhkan Beragam Hiburan

Turi – Dalam rangka hari jadi Desa Wonokerto, Turi, Sleman, Pemerintah Desa Wonokerto mengadakan kegiatan pameran potensi desa dan Alutsista TNI AD serta merti bumi, Selasa (7/11) di Komplek Kantor Desa Wonokerto.

Adapun tujuan diadakanya acara tersebut adalah untuk memberi tempat bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di Desa Wonokerto untuk menjual hasil produknya. Selain itu,  diharapkan usaha-usaha kecil yang ada di dusun-dusun bisa diketahui dan dikenal oleh masyarakat banyak sehingga ke depanya UKM yang ada bisa berkembang dan maju.

Dalam acara ini, Pemerintah Desa Wonokerto juga bekerja sama dengan KODIM 0732/Sleman untuk memeriahkan acara dengan memamerkan Alutsista TNI AD.

Untuk mermeriahkan acara juga ditampilkan kesenian yang ada di Desa Wonokerto seperti hadroh, badui, kobro, sholawatan, ketoprak, dan lain sebagainya.

Acara ini berlangsung dari tanggal 4-12 November 2017. Acara dibuka dengan mujahadah dan pengajian. Sementara untuk penutupan akan digelar pentas wayang kulit. (Harman)




Merti Dusun Gadung Upaya Lestarikan Adat

Turi – Dalam rangka melestarikan adat dan tradisi yang adiluhung, masyarakat Dusun Gadung Bangunkerto Turi mengadakan acara merti dusun, Minggu (5/11).

Acara dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Gadung bekerja sama dengan pemerintah dan pengurus Desa Budaya Bangunkerto. Hadir dalam acara tersebut, Kepala Desa Bangunkerto. Camat Turi, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, dan pendamping Desa Budaya Bangunkerto.

Dusun Gadung memiliki banyak peninggalan situs sejarah yang melegenda dan memiliki nilai sejarah tinggi, di antaranya Situs Watu Gedhe dan Situs Tuk Umbul.

Acara yang berlangsung dari pukul WIB ini, diawali dengan kirab tumpeng keliling dusun dengan dikawal oleh Bregada Magul Wulung Dusun Gadung, Kobro Siswo, Jatilan Sekar Gadung dan karawitan dari ibu-ibu Dusun Gadung.

Setelah sampai di Tuk Umbul, tumpeng yang berisi berbagai hasil bumi dan jajanan pasar diperebutkan oleh warga dan acara diakhiri dengan pentas Jatilan Sekar Gadung. (Harman)