Minapadi Cibuk Kidul Dikembangkan Jadi Wisata Pertanian

IMG_0009Sleman – Minapadi adalah metode pertanian yang menggabungkan budidaya tanam padi dengan budidaya ikan. Kini metode tersebut telah dikembangkan masyarakat Cibuk Kidul Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan Sleman. Bahkan sejak tahun 2015 lalu metode mina padi di Cibuk Kidul telah dijadikan percontohan pengelolaan lahan pertanian di Asia Pasifik oleh FAO.

Melihat potensi ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman berupaya mengangkat mina padi di Cibuk Kidul menjadi lokasi wisata edukasi dibidang pertanian.

“Kami melihat kegiatan dan potensi mina padi di Cibuk Kidul untuk diangkat menjadi wisata pertanian. Persiapan telah kami lakukan dengan mengadakan koordinasi bersama Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman dan masyarakat setempat yang telah membentuk Pokdarwis Mina Murakabi,” kata Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM di sela-sela persiapan launching Minapadi Cibuk Kidul sebagai tempat wisata pertanian, Selasa (8/11).

Menurut Ayu direncanakan launching wisata pertanian minapadi Cibuk Kidul Seyegan akan dilakukan Bupati Sleman, Rabu (9/11). Dikatakan Ayu, persiapan sudah dilakukan baik secara tehnis maupun pengelolaannya.

Minapadi ini akan dikemas menjadi wisata pertanian yang menampilkan tanaman padi yang subur, ikan yang sehat berkeliaran didalam sawah sehingga kelompok perikanan tanbah kuat. Dan Sleman sebagai daerah penyangga pangan di DIY tetap bisa dipertahankan.

Kabid Perikanan, Supramono menambahkan bahwa secara tehnis dijadikannya minapadi Cibuk Kidul menjadi wisata pertanian tidak mengganggu ekosistem pola tanam di Cibuk Kidul. Bahkan ke depan pola tanam minapadi ini akan dibagi sehingga selama satu tahun tetap ada minapadi dan jika ada wisatawan tetap bisa melihat lahan minapadi.

Sedang Anung dari Pokdarwis Mina Murakabi, sebagai generasi muda di Cibuk Kidul sangat antusias menyambut kunjungan wisata minapadi.
Ada beberapa paket yang sudah dirancang agar wisatawan nantinya bisa menikmati wisata pertanian ini.

Paket yang disiapkan antara lain pemandangan sawah yang hijau,  kolan padi dan ikan, bisa melihat pemandangan Gunung Merapi, wisata sepeda keliling kampung, serta kuliner lokal khas Cibuk Kidul. Selain itu juga menyediakan homestay bagi wisatawan yang ingin menginap di rumah penduduk.




Sleman Targetkan Pengembangan Minapadi

Sleman – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Sleman terus mengembangkan pertanian dengan konsep minapadi. Saat ini, sudah ada sekitar 100 hektare lahan sawah yang dikelola dengan sistem minapadi. Arealnya tersebar di beberapa kecamatan antara lain Minggir, Seyegan, Godean, Mlati, Kalasan, Berbah dan Ngemplak.

“Kami targetkan luasannya terus bertambah tiap tahun. Sekarang sudah sekitar 100 hektare, harapannya tahun ini bisa meningkat,” kata Kepala DP2K Sleman, Ir Widi Sutikno MSi disela kegiatan panen raya mina padi Kelompok Tani Mina Rukun di Dusun Kuton, Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah, Selasa (2/8).

Selama ini, hasil budidaya minapadi cukup diminati konsumen. Ke depan, petani disarankan melengkapi kemasan produk dengan label supaya nilai jualnya bisa semakin terdongkrak. Widi menilai, beras hasil sistem minapadi cukup potensial dijual dengan harga tinggi. Sebab, produk itu tergolong hasil budidaya organik yang selama ini harganya di pasaran relatif tinggi.

“Kami harap petani bersedia memupuk lahan menggunakan pupuk kandang. Untuk pakan ikan pun sebaiknya dikurangi yang jenis pelet, alternatifnya diganti dengan cacing atau ganggang yang bisa tumbuh dengan penanaman pola jajar legawa,” terang Widi.

Diakui pengembangan pertanian minapadi bukan hal yang mudah. Mengingat, sistem itu hanya bisa diterapkan di lahan yang memiliki cukup ketersediaan air. Namun jika berhasil, petani bisa meraup keuntungan yang jumlahnya tidak sedikit.

Ketua kelompok Mina Rukun, Edi Sutanto mengungkapkan, keuntungan bersih yang diperoleh kelompoknya dari demplot seluas satu hektare diperkirakan sekitar Rp 50 juta. Hasil terbanyak berasal dari panenan ikan jenis nila merah yang diprediksi mencapai 3,9 ton. Sementara produksi beras jenis Inpari-30, rata-rata 6,8 ton per hektare. Angka itu lebih tinggi dari produksi beras rata-rata di Kecamatan Berbah yang hanya 6,5 ton.

“Minapadi ini peluang bisnis yang bagus. Diharapkan ke depannya bisa menarik minat anak muda untuk terjun ke bidang pertanian,” ujar Edi.

Agar petani semakin familiar dengan konsep minapadi, kelompoknya berencana mengembangkan di lahan ukuran kecil seluas kurang lebih meter persegi. Di area yang minim, petani bisa mengembangkan lahan hanya dengan menggunakan peralatan cangkul.

Berdasar pengalamannya, penerapan minapadi terkendala dengan biaya sewa ekskavator untuk mengeruk lahan sawah. Karenanya dia berharap dinas mempunyai alat berat sendiri yang bisa diakses oleh petani.

Menjawab keluhan itu, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSi menerangkan, dinas sebenarnya memiliki ekskavator sebanyak dua unit yang merupakan bantuan dari bencana erupsi Merapi. Hanya saja, alat berat itu berukuran besar sehingga sulit digunakan untuk mengeruk lahan sawah yang sempit.

“Dari informasi yang saya terima, Kodim memiliki ekskavator ukuran kecil. Peralatan itu bisa dipinjam oleh petani karena pada prinsipnya program pengembangan minapadi ini dilakukan lintas sektor termasuk dengan pihak Kodim,” paparnya.

Jika program demplot sudah selesai, Sri Purnomo meminta petani untuk melanjutkan usahanya sendiri sehingga bisa terus berkesinambungan.




Disbudpar Lirik Wisata Minapadi di Seyegan

Pengunjung Memberi MakanSleman – Meski baru saja dikembangkan di Sleman, sektor pertanian minapadi mulai dilirik oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman untuk dijadikan destinasi wisata baru di Sleman.

“Metode pertanian minapadi di wilayah Seyegan ini memiliki potensi untuk dikembangkan dalam bidang pariwisata,” kata Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Senin (4/1).

Ada unsur rekreatif dan dikembangkan potensi wisata terapi dari keberadaan pertanian mina padi itu. Namun perlu pendukung lain seperti penyediaan fasilitas gazebo dan olahan kuliner ikan yang‬ dibudidayakan.‬

Ayu juga mengatakan metode pertanian yang menggabungkan cocok tanam padi dengan budidaya ikan itu belum banyak ditemui di daerah lain. Dengan demikian, minapadi dinilai dapat menarik minat wisata di Kabupaten Sleman.

“Potensi minapadi sebagai lokasi wisata sangat besar. Sebab budidaya ikan serta padi cukup jarang ditemui, sehingga masyarakat cukup antusias melihat sistem bercocoktanam ini,” tutur Ayu.

Menurut Ayu  ketika masyarakat mengunjungi minapadi, akan mendapatkan pemandangan hamparan sawah dan gerombolan ikan yang berenang di antara tanaman padi. Dengan demikian, wisata ini dinilai ampuh untuk dijadikan rujukan untuk melepas stres setelah disibukkan dengan rutinitas kerja setiap hari.

Selain itu, minapadi juga dapat menjadi wisata edukasi bagi anak-anak sekolah  agar lebih dekat dengan profesi petani.

“Melihat sawah dan memberikan makan ikan ini bisa jadi penghilang stres. Tanpa menganggu lahan budidaya, perlu juga ada pelibatan petani yang berinteraksi dengan pengunjung untuk edukasi,” papar Ayu.

Sementara menurut Ketua Kelompok Tani Murakabi Cibuk Kidul yang menerapkan minapadi, Sigit, hasil panen meningkat dengan sistem minapadi. Pada pertanian padi biasa, ia mampu menghasilkan gabah kering sebanyak 7 kuintal/hektar. Namun dengan minapadi,  panen padi mencapai 9,3 kuintal/hektar. Untuk ikan sekali panen 5,4 kuintal nila/1000 meter persegi.‬

‪”Panen padi meningkat. Ada panen ikan juga yang bisa dijual,” kata Sigit yang telah menerapkan minapadi sejak 2011 itu.‬

‪Dia menuturkan penebaran ikan harus dilakukan pada waktu yang benar-benar ideal yakni setelah tangkai padi cukup kuat dan besar pada usia 17 sampai 20 hari. Jika lahannya diberi air dan ikan saat usia padi masih sangat muda, padi bisa terserang hama. Dicontohkan saat dikejar waktu proyek ujicoba dari FAO, penebaran ikan saat padi usia 10 hari, akibatnya ada serangan hama keong. Namun kini sudah dapat diatasi.‬




Dua Dusun Di Seyegan Ditunjuk Jadi Sentra Minapadi

Mina PadiSleman – Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman telah menunjuk dua dusun di Kecamatan Seyegan sebagai sentra pengembangan minapadi. Metode tanam tersebut diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

“Minapadi  merupakan metode menanam padi yang dipadupadankan dengan budidaya ikan dalam satu lahan. Dalam metode ini, lahan sebagai media tanam padi dijadikan sebagai kolam budidaya ikan,” kata Kepala DPPK Sleman, Ir Widi Sutikno MSi di Sleman, Senin (14/12).

Dijelaskan Widi bahwa sebagai pilot project, motede ini dikembangkan di Dusun Kandangan, Desa Margodadi, dan Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih, Seyegan. Sedikitnya telah ada 25 hektare sawah dikelola sebagai mina padi.

Melalui metode ini, petani akan mendapatkan hasil dari panen ikan dan panen padi. Dalam metode ini lanjutnya, petani diminta menggunakan padi varietas ciherang, sedangkan ikan yang dibudidayakan adalah nila. Rencananya ke depan, metode ini akan dikembangkan dengan varietas padi dan ikan lainnya seperti gurameh.

“Sebagai tahap awal, jumlah ikan yang ditebar sebanyak 7,8 ton atau 312 ribu ekor. Sementara benih padi yang disemai sebanyak 50 Kg per Ha, atau 1,25 ton. DPPK menargetkan hasil produksi pada musim panen nanti sebanyak 7,5 ton per Ha gabah kering dan dua ton per Ha ikan nila,” paparnya.

Widi menjelaskan untuk mengembangkan teknik pertanian tersebut, DPPK Sleman menggandeng Food and Agriculture Organization (FAO) dan masyarakat dalam melakukan pengembangannya. Sementara anggaran pilot project ini dibiayai oleh APBD Sleman sebesar RP 1,3 miliar dan bantuan Rp 957,12 juta melalui program FAO.

Selain itu, pilot project yang menjadi percontohan nasional ini juga didukung dana swadaya masyarakat sebesar Rp 345 juta. Harapannya bisa dipanen di minggu ketiga atau keempat bulan Desember. Nanti akan kami pasarkan di wilayah DIY dan sekitarnya.




Wantimpres Kunjungi Minapadi di Sleman

Sleman – Ketua Wantimpres Prof Sri Adiningsih dan anggota Prof Sudarta mengadakan kunjungan ke Kabupaten Sleman untuk melihat langsung berita yang mengguncangkan media sosial yakni keberadaan Minapadi (Ikan Padi) dan Ugadi (udang galah padi) di Kabupaten Sleman, Jumat (13/2). 

Menurut Adiningsih berita tersebut membuat penasaran dirinya untuk melihat langsung ke lapangan dan Presiden pun tertarik khususnya Ugadi, karena memang pemerintah saat ini baru gencar untuk meningkatkan produktivitas pertanian menuju swasembada pangan.

Wantimpres diterima Sekda Sleman, dr Sunartono MKes beserta Assekda I dan II, Staf Ahli Bupati, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman beserta jajarannya di RR Sekda B Pemkab Sleman dilanjutkan peninjauan ke lapangan di Ndero Harjobinangun dan Samberembe Desa Candibinangun Pakem serta BPP (Balai Penyuluh Pertania) Pakem tempat uji praktek minapadi dan ugadi.

Sunartono pada kesempatan tersebut menjelaskan luas lahan pertanian Sleman sekitar 22 ribu hektare ada sekitar 63 hektare untuk lahan mina padi dan ugadi karena tidak semua lahan pertanian bisa dijadikan sebagai lahan mina padi dan ugadi. Ikan yang ditabur jenis nila, tawes dan udang sementara padi yang ditanam jenis umur panjang dengan system jajar legowo (jarak tanam 25 cm x 12,5 cm).

“Saat ini juga dikembangkan minapadi model Kodal (Kolam dalam 60 sampai 80 cm). Mina padi dan Ugadi di Sleman telah dilakukan selama 2 x dengan hasil lahan seluas 1000 meter persegi dapat meningkatkan produksi padi sekitar 20 hingga 30 % dan untuk ikannya yang jenis nila dan tawes mencapai Rp 3 juta hingga Rp 4 juta dan untuk udang bisa mencapai Rp 5 juga hingga Rp 6 juta,” kata Sunartono.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kelompok Tani Mina Muda Samberembe Satrianto, yang menyatakan sebelumnya untuk 1000 meter tanaman padi hanya mampu produksi 6 kuintal setelah dilakukan pola mina padi produksi padi meningkat 7 hingga 8 kuintal ditambah dengan keuntungan yang didapat dari ikannya.

Keuntungan dari mina padi dan ugadi menurutnya mengurungi penggunaan pupuk sampai 70 % karena kotoran ikan dapat menjadi pupuk tanaman, beras mentes, tanaman kokok dan gulma tanaman dapat menjadi makanan ikan dan udang, Tikus juga tidak masuk ke tanaman padi karena terhalang kolam. Sementara kendala yang dihadapi yakni kesulitan dalam memperoleh benih udang karena harus inden selama 2 bulan di tempat pembibitan di Samas Bantul. Dan belum adanya teknologi untuk mengolah pakan ikan alternatif dengan menggunakan bahan-bahan dari lingkungan lokal.

Sementara Adiningsih dan Sudarto didampingi Assekda II dan Kepala Dinas Pertanian Sleman menebarkan benih udang galah di lahan percontohan Ugadi Pokdakan (Kelompok Muda IKan) Mina Ngelo Sembada dusun Dero Harjobinangun Pakem dibawah bimbingan PPL Frans Xeromaxin. Jenis tokolan (udang sebesar tokolan) sejumlah  ekor benih untuk luas lahan pertanian 1000 meter. Benih padi yang ditanam Ciherang dengan pola tanam jajar legowo perkiraan panen 15 Mei 2015.

Adiningsih mengakui pola mina padi dan ugadi ini bisa dijadikan model secara nasional, karena terbukti dapat meningkatkan produksi 20 hingga 30 % yang dapat mendukung upaya pemerintah untuk swasembada pangan. Model ini juga dapat menjadi potensi wisata mina tour karena banyak orang tertarik untuk mengunjunginya, selain dapat menikmati keindahan lingkungan, belajar juga dapat sekaligus menikmati ikan. Kedepan perlu dikembangkan sehingga juga mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi dan menghidupkan perekonomian.

Melihat kondisi ini didukung dengan kelompok tani muda dan bimbingan para penyuluh maka gerakan semacam ini bila dilakukan di seluruh Indonesia untuk mencapai berdikari dalam pangan, Adinginsih optimis akan dapat tercapai lebih cepat dari target pemerintah selama 3 tahun. Apabila percontohan ini berhasil Presiden RI sangat tertarikkhususnya Ugadi sehingga Adiningsih akan melaporkan dan apabila memungkinkan mengupayakan untuk memanennya.

Adiningsih juga mengapresiasi kelompok tani dalam berkreativitas untuk mengembangkan produk pangan yang terintegrasi yakni padi, udang, ikan dan tanaman  lain seperti kacang panjang di pematang sawah dalam satu lahan pertanian yang bisa menjadii upaya yang mendukung program swasembada pangan dari pemerintah.