Sleman Bekali Warga Kemampuan Mitigasi Bencana

Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk terus membekali masyarakat dengan kemampuan mitigasi bencana. Kegiatan Lapang penanganan kejadian bencana angin kencang dan pengukuhan Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB) dinilai bisa melatih peran serta masyarakat dalam menanggulangi dan mengurangi resiko bencana.

Demikian diungkap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto, di sela-sela pengukuhan PRB di Lapangan Desa Margodadi, Seyegan, Minggu (21/7/18).

“Pemkab Sleman terus mendukung pembentukan Desa Tangguh Bencana. Dari tahun 2014 sampai dengan hari ini di Sleman sudah dikukuhkan sebanyak 43 Desa Tangguh Bencana,” jelas Joko.

Menurut Joko, Kabupaten Sleman dianugerahi karakteristik wilayah yang beragam. Setiap wilayah memiliki potensi bencana yang berbeda-beda. Sleman memiliki ancaman bencana berupa erupsi Gunung Merapi, banjir, angin puting beliung, petir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran, maupun gempa bumi.

“Hingga bulan Juni 2018 ini telah terjadi 48 kejadian bencana angin kencang dengan sebanyak 9 titik terjadi di Kecamatan Seyegan, bencana tanah longsor sebanyak 29 kejadian, bencana banjir 5 kejadian, 9 kejadian bencana petir den 66 kejadian bencana kebakaran,” beber Joko.

Joko menjelaskan, dalam setiap mitigasi bencana, pemerintah tidak dapat mewujudkan upaya tersebut tanpa didukung oleh masyarakat dan tim relawan. Sementara itu, kondisi masyarakat terlatih sampai dengan tahun 2017 baru sebanyak jiwa.

“Di pertengahan tahun 2018 ini meningkat menjadi jiwa. Kesiap-siagaan seluruh unsur menjadi poin penting dalam meminimalisir dan mengelola kebencanaan di wilayah kita,” pungkasnya.

 




Tingkatkan Kapasitas Masyarakat Guna Hadapi Ancaman Bencana

Gamping – Kamis (26/4) pukul WIB, Tim Rescue Banyuraden menggelar gladi lapang penanganan bencana alam dengan ancaman bencana gempa bumi yang bertempat di Asrama Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes), Banyuraden, Gamping.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama antara Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) DIY, Pemerintah Desa Banyuraden, serta Poltekkes Kemenkes.

Dihadiri oleh Ketua BSMI DIY Bambang Edi Susianta, Pejabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Henri Darma Wijaya dan Djoko Lelana, Perangkat Desa Banyuraden, Suprihono.

Adapun peserta gladi berasal dari mahasiswa dan mahasiswi Poltekkes sebanyak 13 orang, relawan BSMI 10 orang, masyarakat, koramil gamping (Babinsa), serta 6 perwakilan dari komunitas Setupa Banyuraden.

Dalam sambutannya, Henri Darma Wijaya mengapresiasi adanya kegiatan simulasi penanganan bencana alam dengan ancaman gempa bumi. Dengan adanya gladi lapang ini, dikatakan Henri dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. “Supaya masyarakat tidak terkena dampak bencana atau bisa mengurangi risiko terhadap bencana dan mengurangi jumlah korban bencana,” urainya.

Dituturkan Henry, dengan adanya simulasi ini diharapkan masyarakat tidak panik saat terjadi bencana alam, baik saat pra bencana (mitigasi), saat bencana (kedaruratan), maupun pasca bencana (rekonstruksi dan rehabilitasi).

Dalam kesempatan ini juga dilakukan pengukuhan Tim Rescue Banyuraden oleh Pejabat BPBD Kabupaten Sleman, serta penyerahan bantuan perangkat komunikasi (HT) sebanyak 2 unit oleh Bambang Edi kepada perwakilan Tim Rescue Banyuraden.

Selain itu, Rejeki Transport memberikan bantuan helm dan pelampung untuk operasional penyelamatan kepada Tim Rescue. Sementara itu, Kampus Poltekkes Kemenkes juga mendeklarasikan sebagai “Kampus Siaga Bencana.” (Adnan Nurtjahjo)




Pemkab Gencarkan Mitigasi Bencana Dengan Sister School

IMG_0040Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus menggencarkan mitigasi bencana dengan gladi lapang paseduluran sekolah atau Sister schol. Ditunjuk sebagai lokasi gladi lapang sister school adalah SD Muhammadiyah Pakem, Selasa (8/11).

Dalam gladi lapang digambarkan empat siswa SD Pandanpura II Hargobinangun Pakem mengalami luka, ada yang patah tulang dan yang paling banyak mengalami luka ringan serta memar-memar karena berebut menyelamatkan diri saat terjadi bencana erupsi Merapi, kemarin.

Untungnya karena para guru SD tersebut menenangkan siswa untuk tidak panik dan teratur untuk menyelamatkan diri dengan dievakuasi menggunakan beberapa mobil bak terbuka. Hingga akibat yang lebih parah tidak terjadi.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang menyaksikan kegiatan gladi lapang tersebut menyampaikan bahwa gladi lapang menjadi momen strategis bagi sekolah terdampak bencana SD Pandanpuro II dan sekolah penyangga bencana SD Muhammadiyah Pakem  untuk meningkatkan  kesiapsiagaan dan kewaspadaan segenap elemen sekolah terkait bencana erupsi Gunung Merapi.

Menurut Sri Purnomo semua  elemen sekolah harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam kondisi kedaruratan.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa Kabupaten Sleman dianugerahi karakteristik wilayah yang beragam, setiap wilayah memiliki potensi bencana yang berbeda. Namun demikian hal tersebut bukan menjadi alasan  untuk tidak mensyukuri keistimewaan wilayah yang dimiliki.

“Kita semua tidak mengharapkan terjadinya bencana namun kita harus siap menghadapinya bila hal itu terjadi. Kata kuncinya adalah kita harus memiliki kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi resiko bencana yang mungkin terjadi,” kata Sri Purnomo.

Menyadari kondisi tersebut Pemkab Sleman berupaya melakukan langkah mitigasi bencana. Tidak hanya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar anak didik tidak terhambat akibat terjadinya bencana.

Berlatarbelakang hal tersebut, Pemkab Sleman melaksanakan kegiatan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dengan mengembangkan sister school atau paseduluran sekolah.

Melalui kegiatan tersebut sekolah terdampak dipersaudarakan melalui pembuatan MOU paseduluran sekolah dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah yang relatif aman.

Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat dimana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar maka untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan belajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.

Pada kesemptan gladi lapang tersebut juga dilakukan penandatangan MOU antara Kepala Sekolah  SD Pandanpuro II Sunaryo dan Kepala Sekolah SD Muhammdiyah Pakem,  Nur Hayati SAg MM terkait Sekolah yang berdampak erupsi Merapi dan SD Muhammdiyah Pakem sebagai sekolah penyangga.




Forum Desa Tangguh Bencana Diharapkan Mampu Jadi Motivator Pentingnya Mitigasi Bencana

Sleman – Keberadaan forum desa tangguh bencana diharapkan mampu mensosialisasikan dan lebih mengenalkan mengenai pentingnya mitigasi bencana kepada masyarakat, serta mampu menjadi motivator dan penggerak masyarakat Sleman dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan mengenai pengurangan resiko bencana.

Hal tersebut disampaikan Asekda Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih MPdi saat pengukuhan forum Desa Tangguh Bencana dan gladi lapang penanggulangan bencana erupsi Merapi di Balai Desa Trimulyo Sleman, Sabtu (20/8).

Disampaikan Suyamsih bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, di balik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Kabupaten Sleman menyimpan potensi bencana baik akibat faktor alam maupun non alam.

Untuk itu, formulasi yang tepat dalam menghadapi kondisi wilayah tersebut adalah dengan memastikan bahwa masyarakat memiliki kemampuan dalam mitigasi bencana baik bagi wilayah terdampak maupun bagi wilayah penyangga.

Diharapkan melalui pembentukan desa tangguh bencana di wilayah Kabupaten Sleman dapat menjadi upaya penguatan kelembagaan masyarakat yang mengantarkan seluruh masyarakat Kabupaten Sleman memiliki kemampuan mitigasi bencana. Mengingat masyarakat merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha pengurangan resiko bencana.

Upaya pemenuhan kapasitas masyarakat dalam mitigasi bencana menjadi poin penting dan tidak terpisahkan bagi keberhasilan upaya mitigasi bencana secara keseluruhan. Pemerintah tidak dapat sukses mewujudkan upaya tersebut jika tidak didukung oleh masyarakat dan tim relawan.

Agar mitigasi bencana dapat memberi manfaat secara optimal, maka mitigasi harus mengadopsi dan memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal yang terproyeksi dalam semangat gotong royong dan kebersamaan. Hal inilah yang diwujudkan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui keberadaan Desa Trimulyo, Sleman yang merupakan desa penyangga bagi Desa Girikerto, Turi.

Desa penyangga memiliki peran yang sangat penting dalam mitigasi bencana mengingat keberadaannya menjadi tempat menampung pengungsi erupsi Gunung Merapi dari desa terdampak.

“Pelaksanaan gladi lapang tersebut  merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiapsiagaan dan keterampilan warga masyarakat desa Trimulyo sebagai desa penyangga dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi yang sewaktu-waktu dapat terjadi,” tambah Suyamsih.

Diharapkan dengan adanya gladi lapang tersebut seluruh masyarakat Desa Trimulyo memiliki kemampuan dan kesiapan dalam penanganan terhadap pengungsian seperti mempersiapkan tempat, penerangan, logistik, barak dan lainnya, sehingga warga tertangani dengan baik hingga merasa aman dan nyaman.

Gladi lapang ini menjadi sarana yang efektif untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mensikapi kondisi darurat. Dengan bekal tersebut, diharapkan seluruh warga masyarakat menjadi paham langkah-langkah yang harus dilakukan ketika dihadapkan pada kondisi bencana.

Oleh karena itu, diharapkan seluruh masyarakat yang hadir dan terlibat dalam kegiatan gladi lapang tersebut dapat benar-benar mengikuti setiap rangkaian gladi lapang dengan sungguh-sungguh. Disamping itu, diharapkan pula melalui gladi lapang tersebut  pemahaman, pengetahuan dan keterampilan masyarakat akan mitigasi bencana semakin meningkat, serta semakin siap dalam menghadapi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Dalam gladi lapang tersebut digambarkan terjadi erupsi Merapi hingga masyarakat 6 dusun dari Desa Girikerto Turi harus mengungsi, dan sebagai desa penyangga adalaah Desa Trimulyo Sleman. Akibat erupsi merapi tersebut terjadi banyak korban, terutama sesak napas dan beberapa mengalami luka baik berat maupun ringan, hingga harus dirujuk ke Rumah sakit.

Sementara itu plt BPBD Sleman Ir. Kunto Riyadi menyampaikan  bahwa gladi lapang tersebut bertujuan agar masyarakat lebih siap daan paham apa yang harus dilakukan bila terjadi bencana erupsi merapi, meskipun itu tidak diharapkan. Namun demikian kalau masyarakat sudah siap dan tahu apa yang harus dilakukan, bisa miminimalisir korban.




Pemkab Terus Upayakan Mitigasi Bencana Sejak Dini

Bantuan mitigasiSleman – Sebagai daerah yang memiliki potensi bencana erupsi yang tidak dapat diprediksi kehadirannya, Pemerintah Kabupaten Sleman menyadari pentingnya upaya mitigasi bencana sejak dini.

Untuk itu upaya mitigasi bencana tidak hanya dilakukan dengan simulasi dan gladi, namun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman juga mengarahkan sekolah, desa dan kampung untuk memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana. Sehingga saat ini Pemkab Sleman telah memiliki, Desa Tangguh Bencana, Sekolah Siaga Bencana, serta Kampung Siaga Bencana, sebagai bentuk upaya seluruh pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mensiapsiagakan diri dalam menghadapi bencana.

Demikian disampaikan Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi sat membuka sarasehan peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya pengurangan resiko bencana di barak pengungsian Koripan Sindumartani Ngemplak Sleman, Selasa (20/10).

Dikatakan Gatot, Sleman  selain sebagai daerah yang memiliki potensi erupsi, pada beberapa waktu yang lalu Kabupaten Sleman juga mengalami bencana kekeringan dan pada saat ini juga tengah mengalami musim pancaroba yang memungkinkan terjadinya bencana angin kencang, petir dan hujan lebat sekaligus longsor.

Untuk itu diperlukan kesiapsiagaan dari berbagai pihak dalam mengantisipasi bencana tersebut, tidak terkecuali bagi masyarakat Sleman, karena masyarakat merupakan penerima dampak langsung dari bencana dan sekaligus sebagai pelaku pertama dan langsung yang akan merespon bencana di sekitarnya.

“Masyarakat perlu dibekali pengetahuan agar tidak hanya siap menghadapi bencana tapi juga tangguh menanggulanginya,” kata Gatot.

Menurut Gatot, masyarakat yang  tangguh bencana ialah masyarakat yang mampu mengantisipasi dan meminimalisir kekuatan yang merusak melalui proses adaptasi. Mereka juga mampu mengelola dan menjaga struktur dan fungsi dasar tertentu ketika terjadi bencana. Dan jika terkena dampak bencana, mereka dapat membangun kehidupannya menjadi normal kembali atau paling tidak dengan cepat memulihkan diri secara mandiri.

Yang jelas lanjutnya, peran masyarakat dalam mitigasi bencana men­jadi sangat penting, karena masyarakat merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha pengurang­an resiko bencana itu sendiri, karenanya partisipasi aktif masyarakat Sleman menjadi poin penting dalam upaya pengurangan resiko bencana, tidak akan didapat hasil yang maksimal jika hanya diupayakan oleh Pemerintah dan pihak swasta tanpa dibantu oleh masyarakat sendiri.

“Untuk itu saya mengharapkan peran aktif seluruh masyarakat Sleman dalam upaya kita meminimalisir resiko bencana. Kondisi daerah kita ini tidak dapat ditolak atau dihindari namun semoga apa yang kita upayakan bersama ini dapat memberikan dampak positif dan signifikan dalam meminimalisir resiko bencana di Kabupaten Sleman,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut Gatot juga menyerahkan bantuan tenda untuk desa tangguh bencana Purwobinangun, Pakembinangun Pakem dan Desa Donoharjo Ngaglik, serta bantuan sarana komunikasi  HT untuk 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Drs  Julisetiono Dwi Wasito mengatakan  maksud dan tujuan sarasehan  untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana melalui peningkatan  partisipasi  masyarakat dalam rangkaian kegiatan.