Masyarakat Perbukitan Prambanan Dibekali Mitigasi Bencana Longsor‬

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kabupaten Sleman terus membekali masyarakat di kawasan perbukitan Kecamatan Prambanan dengan kemampuan dalam mitigasi bencana tanah longsor.‬

‪”Sejumlah titik di kawasan perbukitan Prambanan berpotensi terjadi bencana longsor, terutama di Desa Madurejo, Desa Wukirharjo dan Desa Sumberharjo. Ketiga lokasi yang berbukit-bukit tersebut rawan terjadinya longsor,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman,  Ir Kunto Riyadi, kemarin.

‪Menurut Kunto, melihat besarnya dampak yang ditimbulkan dari bencana tanah longsor, masyarakat dituntut untuk memiliki pengetahuan dalam melakukan mitigasi bencana terutama bencana tanah longsor, bagi warga Desa yang rawan bencana tanah longsor.

‪”Pengenalan mitigasi bencana ini kami lakukan melalui gladi lapangan penanggulangan bencana longsor di tiga Desa di Kecamatan Prambanan tersebut.

Dalam waktu satu minggu lalu telah dilakukan gladi lapang penanggulangan bencana longsor di desa Wukirharjo, Madurejo dan Sumberharjo.

“Gladi lapang merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiapsiagaan. Dengan kegiatan ini, diharapkan jatuhnya korban jiwa dapat diantisipasi. Masyarakat telah maengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat,” kata Kunto.‬

‪Ia mengatakan, dengan bekal yang sudah dimiliki seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi bencana.‬

‪”Saat bencana terjadi, masyarakat sudah mengetahui kemana harus menyelamatkan diri. Apalagi sejumlah titik di kawasan Pramaban memang memiliki potensi longsor cukup besar,” katanya.‬

‪Kunto mengatakan, tidak hanya masyarakat dan BPBD, penanganan bencana juga melibatkan instasi seperti kepolisian. Sebab dalam situasi yang hiruk pikuk kerap kali dijadikan sasaran pencurian.‬

‪”Selain pemerintah yang bertanggung jawab dalam penanganan bencana, mesyarakat desa juga punya kapasitas dalam membantu menanggulangi bencana,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, gladi lapang menjadi momen startegis bagi masyarakat Sleman untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat, terkait bencana longsor.‬

‪”Di kawasan rawan bencana, masyarakat harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa,” tambah Kunto.

Sementara gladi lapang yang berlangsung di Desa Sumberhajo Prambanan, Jumat (5/8) lalu menggambarkan bencana tanah longsor yang terjadi di lereng bukit Desa Sumberharjo mengakibatkan beberpa orang mengalami luka berat dan ringan, bahkan satu orang yang mengalami patah tulang kaki dan harus dirujuk ke RSUD Prambanan.

Kejadian tersebut akibat hujan yang terus menerus mengguyur Desa Sumberharjo Prambanan Jumat (5/8). Atas kejadian tersebut beberapa orang terpaksa diungsikan ke Barak pengungsian desa setempat yang jaraknya memaang tidak terlalu jauh hanya disekitar Rumah Dome.

Namun demikian karena jalan menuju titik lokasi longsor   hanya jalan setapak mengakibatkan evakuasi mengalami kelambataan meskipun sudah menurunkan beberapa armada baik dari RSUD Prambanan, Puskesmas Prambanan, BPBD Sleman dan relawan.

Setelah semua berhasil dievakuasi berdasarkan data korban luka berat baik berupa patah kaki , patah tulang  sebanyak 5 orang, luka ringan 7 orang semuanya sudah mendapat penanganan oleh tim kesehatan. Para korban tersebut diakibatkan terkena tanah longsong tertimbun bebatuan dan tanah. Dan ada yang tertimpa pohon tumbang. Sementara rumah yang kena pohon tumbang sebanyak 5 rumah dengan kondisi rusak sedang dan ringan.

Disamping itu ditengah hiruk pikuknya masyarakat yang menyelamatkan diri masih saja dijumpai  penjahat yang memanfaatkan situasi untuk mencuri, namun berkat kesigapan aparat dan masyarakat pencuri tersebut berhasil ditangkap dan dibawa ke Polsek Prambanan untuk diproses lebih lanjut.

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala pelaksana BPBD DIY Drs Krido Suprayitno SE MSiMuspika kecamatan Prambanan dan masyarakat setempat.




Dikpora Sleman Siapkan Skenario Mitigasi UN SD/MI

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Sleman menyiapkan skenario mitigasi untuk penyelenggaraan ujian nasional (UN) tingkat SD/MI yang mulai digelar Senin (19/5). Hal ini dilakukan karena Gunung Merapi masih berstatus waspada. Sebanyak lima SD di lereng Gunung Merapi akan menggelar UN di sekolah lain yang lokasinya lebih rendah jika kondisi dinilai tidak aman.  “Kami sudah koordinasi dengan kepala sekolah dasar di lereng Merapi, ada lima SD yang akan bergabung dengan sekolah lain untuk antisipasi kalau dibutuhkan,” ujar Kepala Disdikpora Sleman, Arif Haryono Minggu (18/9).

Kelima SD yang berada di lereng Merapi tersebut yakni SD Glagaharjo, SD Srunen, SD Kepuharjo, SD Umbulharjo, dan SD Umbulharjo 2. Jika kondisi berbahaya, siswa di SD Glagaharjo akan bergabung dengan SD Bronggang. Siswa SD Srunen akan digabungkan dengan SD Muhammadiyah Cepit. Siswa SD Kepuharjo akan bergabung dengan SD Kiaran 1. Sementara, siswa dari SD Umbulharjo akan mengerjakan soal UN di SD Kiaran 2.

Untuk siswa SD Umbulharjo 2, tidak akan bergabung dengan SD lain. Jika kondisi tidak aman, siswa dari SD tersebut akan mengerjakan soal UN di SMKN Cangkringan.  Meski demikian, penyelenggaraan UN dalam kondisi berbahaya Merapi akan fleksibel. Siswa dapat mengikuti UN di SD terdekat dengan barak pengungsian.

Skenario tersebut akan berdampak terhadap 127 siswa yang menjadi peserta UN SD di lereng Merapi. SD Galagaharjo mencatatkan 24 peserta UN tahun ini, SD Srunen 20 siswa, SD Kepuharjo 32 siswa, SD Umbulharjo 15 siswa, dan SD Umbulharjo 2 sebanyak 36 siswa. Dari kelima SD tersebut, SD Srunen terletak paling atas.

Kabupaten Sleman mencatat sebanyak peserta ujian akhir sekolah daerah (UASDA) tahun ini. Mereka berasal dari 518 sekolah. Kabupaten Sleman menyiapkan 965 ruang dan pengawas. Untuk UN SD, penyelenggara berasal dari pemerintah provinsi masing-masing.

Dari peserta UN tersebut, sebanyak tujuh siswa dari tiga sekolah memiliki keterbatasan penglihatan (low vision). Arif mengaku pihaknya sudah meminta soal bagi mereka memiliki huruf yang diperbesar. “Kami sudah memintakan ke pemerintah provinsi yang mengadakan soal UN SD,” ujarnya.

Sementara itu, Kasi Kurikulum dan Kesiswaan TK dan SD Disdikpora Sleman, Subardi  mengatakan soal UN sudah didistribusikan pada Sabtu (17/5) ke Unit Pelaksana Teknis Pendidikan di 17 kecamatan. Dia meminta siswa percaya diri dalam mengerjakan soal UN.




Si Jawah Sabo Aplikasi Mitigasi Bencana Lahar Dingin Merapi

Sleman, – Balai Sabo Yogyakarta, bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengembangkan aplikasi mitigas bencana banjir lahar dingin, bernama Si Jawah Sabo (Sistem Informasi Hujan Yogyakarta dan Jawa Tengah).

Launcing dilakukan di Balai Sabo Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok, Kamis (17/4). Kepala Puslitbang SDA Bambang Haryono HE MEng mengungkapkan, aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi radar dan bisa menampilkan sebaran hujan secara real time.

“Masyarakat juga bisa mengaksesnya melalui internet maupun smarphone. Dengan radar cuaca, maka wilayah yang tidak terjangkau alat penakar hujan konvensional, dapat dipantau secara cepat,” katanya.

Potensi bencana di daerah Yogyakarta dan sekitarnya cukup tinggi. Contoh nyata dari erupsi Gunung Merapi 2010 lalu, dimana masih menyisakan 80 juta meter kubik material.

“Beberapa sungai yang berhulu di Gunung Merapi harus terus dipantau. Sebab banyak masyarakat yang tinggalnya di bantaran sungai,” katanya menambahkan.

Sistem informasi terpadu ini, menurut Bambang, memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya mampu memantau curah hujan terkini dalam jangkauan radar dan memantau pergerakan wilayah hujan. Data yang diperoleh lalu diolah melalui komputer dan ditampilkan melalui website.

“Data yang kami informasikan dalam sistem ini, diharapkan bisa menjadi peringatan dini lahar dingin dari Gunung Merapi. Diharapkan, baik penambang maupun warga setempat bisa lebih waspada dan mempersiapkan diri terhadap bencana,” jelasnya.

Bambang juga mengungkapkan, selain mitigasi bencana banjir lahar hujan, Si Jawah Sabo ini juga dapat dimanfaatkan untuk antisipasi tanah longsor, banjir hingga kekeringan di berbagai daerah.

Selanjutnya, aplikasi ini akan menampilkan hasil prakiraan banjir lahar yang merupakan keluaran dari sistem perkiraan banjir berbasis data radar.