Musim Kemarau, Petani Dihimbau Tak Tanam Padi

Sleman – Pada musim kemarau seperti sekarang ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tidak merekomendasikan para petani di Sleman untuk menanam padi, namun petani dihimbau untuk menanam palawija. Selain karena sulitnya air irigasi, menanam palawija juga bisa untuk mengganti tanaman agar tanahnya lebih baik dan memutuskan hama.

“Debit air saluran irigasi pada musim kemarau memang terus menurun, bahkan lima sungai besar di Sleman dalam kondisi kering di hulunya. Karena itu puluhan pompa air disediakan untuk memberikan daya dukung irigasi pertanian,” kata Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Edy Sriharmanto di Sleman, Kamis (6/8).

Karena itu lanjut Edy pihaknya menghimbau para petani di Sleman mengerti kondisi alam ini dan tidak memaksakan menanam padi dimusim kemarau saat ini. Jika lahan pertanian memungkinkan untuk ditanami padi karena ketersediaan air, hal itu harus sudah diatur oleh tiap kelompok tani untuk bergantian menggunakan air.

Sehingga lanjut Edy sudah ada persetujuan antar kelompok tani dalam penggunaan air irigasi. Misalnya tahun lalu kelompok A sudah menanam padi maka tahun ini menanam palawija, gantian kelompok lain yang menanam.

Ditambahkan Edy masih banyak wilayah di Sleman yang tetap menanam padi di musim kemarau, seperti sebagian wilayah Kecamatan Berbah, Prambanan, Gamping, Mlati, Moyudan, Minggir dan Seyegan.

Tahun 2015 ini dikatakan Edy melalui koordinasi dengan dinas terkait, telah memberikan bantuan sekitar 30 pompa air portabel melalui kelompok tani di wilayah Sleman. Pompa tersebut bisa dipinjam sewaktu-waktu oleh para petani jika membutuhkan, terutama untuk mengangkat air dari sungai menuju permukaan atau lahan pertanian.

“Peminjaman dikoordinir oleh kelompok tani, dan poma bisa dipinjam secara gratis. Tapi mungkin ada beberapa kelompok tani yang misalnya sesuai kesepakatan ada biaya operasional untuk bahan bakar pompa,” tuturnya.

Musim kemarau in juga sudah ada beberapa lahan pertanian di Sleman yang mengalami kekeringan. Dan diperkirakan jumlah lahan pertanian yang mengalami kekeringan bisa bertambah sebab musim kemarau diperkirakan hingga November 2015 mendatang.




Musim Kemarau, Waspada Diare dan ISPA

Sleman – Selama periode Januari 1 September 2014, kasus diare di Kabupaten Sleman mencapai penderita. Penderita terbanyak dari kalangan usia diatas 5 tahun dengan kasus. Sedangkan penderita balita atau dibawah 5 tahun ada orang. Dari 17 kecamatan di Kabupaten Sleman, penderita Diare tertinggi berada di Kecamatan Ngemplak dengan 693 kasus. Disusul Kecamatan Depok dengan 612 kasus dan Gamping dengan 610 kasus.

Memasuki musim kemarau, masyarakat juga dihimbau waspada terhadap penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Sebab jika tidak segera diantisipasi, ISPA bisa berujung ke Radang Paru atau pneumonia. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilinda Nuraini MKes mengatakan hal tersebut dikantornya, Selasa (16/9). Menurutnya, masyarakat dihimbau meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna mencegah terkena berbagai penyakit. Apalagi kini sudah masuk musim kemarau, dimana udara menjadi kering danbanyak debu.

“Musim kemarau itu ditandai dengan banyaknya debu. PHBS wajib dilakukan, mengingat virus dapat menular melalui banyak cara. Salah satunya kondisi tangan kita yang tidak bersih. Hal yang perlu diwaspadai, yakni “Pneumonia” karena bisa berujung kematian. Jika sudah terkena ISPA, sebaiknya segera berobat agar tidak semakin parah,” ujarnya.

Linda menambahkan, gejala ISPA biasanya dimulai dengan batuk dan sesak nafas diikuti dengan naiknya suhu badan atau panas. Gejala-gejala tersebut akan berlangsung antara 2-7 hari. Diare juga harus segera mendapat penanganan, jangan sampai dehidrasi.

“Pastikan mengkonsumsi air yang benar-benar matang. Waspadai juga jajanan pasar yang belum tentu baik kandungan gizinya. Selain itu, pastikan tangan sudah dicuci dengan bersih menggunakan sabun atau cairan disinfektan,” tambah Linda.