Upaya Jaga Sleman Tetap Aman

Gamping – Selasa (13/2) pukul WIB berlangsung kegiatan kerja bakti di Gereja St. Lidwina Dusun Nusupan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Camat Gamping Abu Bakar dan dihadiri oleh Bupati Sleman Sri Purnomo, Dirjen Bimbingan Masyarakat Katholik Kementerian Agama RI Eusabius Binsasi, Kapolsek Gamping Kompol Herwinedi, Jajaran Koramil 17 Gamping, Babinsa, Bhabinkamtibmas, FKDM, FKUB, Banser, Kokam, TRC, KIM, Kepala Desa Trihanggo Herman Budi Pramono, Kades Banyuraden Sudarisman, perangkat desa se-Kecamatan Gamping, serta masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman memberikan semangat dan dukungan kepada masyarakat yang begitu aktif mendinginkan suasana pasca kejadian. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menjadikan Sleman tetap aman.

Suasana kerja bakti begitu rukun dan hidup, seakan-akan sudah melupakan kejadian yang menimpa jemaah gereja tersebut. Semua elemen masyarakat begitu kompak dan bersemangat, tidak terlihat ketakutan atau trauma dari orang orang yang hadir.

Abu Bakar menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa tidak ada permasalahan yang terjadi di Sleman. Pun untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama sehingga semangat nasionalisme dapat bangkit kembali. (Adnan Nurtjahjo)




Santri Diminta Perkuat Jiwa Relejius dan Nasionalisme

hari-santriSleman – Hari Santri Nasional di Kabupaten Sleman diperingati dengan upacara Bendera di Lapangan Denggung yang diikuti oleh sekitar 3000 santri, dari pesantren, anak-anak sekolah MI, MTS, MA, Sabtu (22/10). Bertindak selaku inspektur upacara Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI.

Menurut Ihsan Rofiki selaku Ketua Panitia kegiatan peringatan hari Santri Nasional di Kabupaten Sleman juga dimeriahkan dengan berbagai lomba yakni PBB, photografi santri, mewarnai bagi anak RA/TK, lomba ruus tahlil, dan lomba adzan.

Sri Purnomo menyampaikan  peran santri pada jaman dahulu tidak lepas dari perjuangan dalam memperoleh kemerdekaan  dan dalam mengusir penjajah, sehingga para santri secara historis telah dikenal dalam sejarah perjuangan bangsa.

Momen ini dapat digunakan untuk  mengenang jasa ulama dan kyai dalam sehingga dapat memotivasi para santri di masa kini untuk dapat meneladani dan melanjutkan perjuangannya.

Peringatan ini juga dapat diambil manfaat untuk menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, sebagai pemersatu langkah bagi seluruh santri mengingat tantangan kedepan semakin berat.

“Para santri diharapkan dapat selalu memperkuat jiwa religius ke Islaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan,” kata Sri Purnomo.

Pondok Pesantren sebagai lembaga dahwah dan pendidikan juga diharapkan dapat mencetak ulama yang dapat mengedepankan nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat dan dapat menjadi garda terdepan dalam perjuangan melawan amar ma’ruf nahi mungkar.

“Menghadapi tantangan global, para santri dapat menjadi pelopor dalam gerakan anti narkoba, anti kekerasan dan anti radikalisme yang marak dewasa ini,” tutur Sri Purnomo.

Pada akhir acara dilaksanakan karnaval santri, yang dilakukan peserta upacara melewati depan panggung kehormatan kemudian keluar lewat Jl KRT Pringgodiiningrat dan finish di Masjid Agung Sleman DR. Wahidin Sudiro Husodo.