Pendakian Merapi Ditutup Selama November

Sleman – Jalur pendakian Gunung Merapi ditutup selama bulan November 2015 ini. Rencananya, pendakian baru akan dibuka pada 30 November mendatang. Larangan ini berlaku untuk aktivitas menginap di dalam kawasan hutan Merapi.

Menurut Kepala Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Edy Sutiyarto, alasan penutupan ini demi keamanan pengunjung dan ekosistem hutan. Mengingat selama musim kemarau lalu, kerap terjadi kebakaran hutan.

“Pendakian ditutup sejak tanggal 2 November lalu. Ketika itu terjadi kebakaran hutan yang masuk wilayah Selo, Boyolali,” katanya, Minggu (22/11).

Upaya pemadaman waktu itu membutuhkan waktu hingga beberapa hari, bahkan meski telah diturunkan petugas gabungan TNGM, SAR, relawan, pihak kepolisian, dan TNI. Sementara Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan TNGM, Dhany Suryawan mengatakan, kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu lalu, sebagian masuk kawasan TNGM sementara sisanya merupakan lahan penduduk.

Dari hasil pantauan, luasan lahan yang terbakar mencapai lebih dari 20 hektare.

“Kebakaran beberapa waktu lalu itu, sumber apinya berasal dari lahan warga kemudian merembet ke kawasan TNGM,” katanya.

Pasca kejadian kebakaran, pihak TNGM langsung mengeluarkan larangan pendakian ke Merapi khususnya dari wilayah Selo.




Pertengahan November Diprediksi Sleman Masuk Musim Hujan

Sleman – Berdasarkan hasil monitoring Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja  beberapa wilayah di DIY mengalami kemunduran awal musim hujan. Dan wilayah Kabupaten Sleman diprediksi baru akan memasuki awal musim hujan pada pertengahan bulan November, Minggu (25/10). Terhadap prediksi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman terus melakukan droping air bersih berdasarkan permintaan masyarakat. Dari pemetaan, wilayah kecamatan yang rawan kekeringan berada di Prambanan.

Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH mengatakan droping air akan terus dilakukan diwilayah Prambanan yang mengalami kekeringan hingga musim hujan tiba. Bahkan kemungkinan droping air bersih tetap dilakukan meskin hujan sudah turun.

Hal ini dikarenakan  di Prambanan ada  yang masyarakatnya sangat tergantung pada tampungan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. “Jika tampungan dirasa belum menyukupi, maka droping masih akan dilakukan,” kata Julisetiono.

Pada musim kemarau ini, Julisetiono juga meminta masyarakat untuk waspada terjadi kebakaran lahan. Hal ini karena terjadi peningkatan kasus kebakaran hutan pada musim kemarau. Kemarau panjang yang terjadi di tahun ini lanjutnya, diikuti peningkatan suhu udara hingga 34 derajat celcius. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan potensi kebakaran.

“Terlebih banyak pohon dan tanaman yang mengering. Untuk itu kami meminta masyarakat tidak membakar sampah, terutama di lahan terbuka. Sampah sebaiknya dikubur, terutama yang organik,” kata Julisetiono.