Gelar Pelatihan Untuk Naikan Harga Jual Salak

Turi – Pemerintah Desa Girikerto, Rabu (29/11) bertempat di Babadan Girikerto mengadakan Pelatihan kepada Kelompok Wanita Tani Babadan. Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Desa Girikerto Sumaryanto.

Dalam pembukaannya, Sumaryanto menyampaikan kepada para peserta agar mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat menjadi pengusaha yang sukses dan dapat menaikan pendapatan keluarga. Selain itu dengan pelatihan ini, diharapkan juga dapat menaikan harga jual salak yang sudah diolah menjadi bermacam-macam produk.

Pelatihan yang dibiayai APBDes Girikerto tahun 2017 ini diikuti oleh 40 peserta yang dibagi menjadi 4 kelompok.

Dengan narasumber Kusharjanti Puri Sada, pelatihan dimulai pukul WIB sampai dengan pukul WIB. Untuk sesi pertama, pelatihan mengajarkan peserta untuk membuat bakpia salak dan sesi kedua membuat stick salak.

Pelatihan ini dihadiri juga Ketua PKK, Kamti, Sekretaris Desa Girikerto, Trisna Cahyana, Kepala Seksi Kesejahteraan, Yuliantara, Kepala Dusun Babadan, Sudiharjo, PPL, Jumadi, Kepala Urusan Keuangan, Dwi Rahmad Raharjo.

Sebelumnya pelatihan ini, telah diadakan kegiatan pelatihan lainnya, seperti Pengelolaan Sampah di Dusun Daleman, Pembinaan Kelompok Kali Bersih, dan Pelatihan Mikro Komputer.  (Suharno)




Mahasiswa Belajar Budidaya Salak di Turi

Turi – Sabtu (25/11), Mahasiswa D3 Program Studi Agrobisnis dan Perencanaan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto mengadakan kunjungan ilmiah ke Candi Bangunkerto, Turi, Sleman, tepatnya di Griya Olah Salak Puri Sada, anggota KIM UMKM Kertomandiri.          

Kunjungan mahasiswa ini didampingi oleh 4 dosen pembimbing. Menurut penjelasan Koordinator Dosen Pembimbing, Indah Widyarini, jumlah mahasiswa yang ikut ada 70.

Dijelaskan lebih lanjut, dalam kunjungan ini, mahasiswa Jurusan Agrobisnis diharapkan dapat mempelajari pengelolaan hasil salak dari hulu sampai hilir sehingga mahasiswa tidak hanya menerima teori di kampus tetapi mereka betul-betul dapat belajar budidaya serta olahannya melalui studi lapangan.

Indah menyampaikan, alasan memilih lokasi di Turi karena Turi merupakan penghasil salak pondoh. Selain itu, salak pondoh di Turi tidak hanya dijual buahnya akan tetapi warga Turi juga sudah mengolah salak menjadi macam-macam olahan. “Inilah yang menjadikan mahasiswa kami bisa mendapatkan gambaran bagaimana cara berbisnis, dapat ilmu cara budidaya tanaman salak, mengetahui jenis salak, cara perawatannya, juga tentang pengembangan salak pondoh yang sudah menjadi ikon di Kabupaten Sleman,” kata Indah.

Agar mahasiswa dapat lebih mengetahui proses budidaya salak, mahasiswa diajak terjun langsung menuju ke kebun salak di Agrowisata.

Setelah dari kebun, mahasiswa menuju ke Griya Olah Salak Puri Sada, yang menerangkan secara detail tentang olahan salak juga tentang kerajinan. (Suharno)




Olahan Salak Bisa Tingkatkan Nilai Tambah

Tarling TempelSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan  bahwa potensi yang ada di Kecamatan Tempel berupa buah salak, dan potensi tersebut jangan hanya dijual berupa salak semata, akan tetapi untuk lebih meningkatkan nilai tambah, maka salak tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam olahan.

Sedang menghadapi hari raya Idul Fitri termasuk bulan Ramadan tersebut Sri Purnomo minta agar masyarakat peka dalam berbelanja.

“Bila belanja sesuai dengan kebutuhan saja, dan yang terpenting harus lebih hati-hati dengan maraknya makanan yang menggunakan bahan pengawet maupun pewarna yang tidak semestinya,” kata Sri Purnomo ketika mengikuti tarawih keliling (tarling)  putaran kelompok 3 yang berlangsung di Masjid Baiturrahman Batang Cilik Tambakrejo Kecamatan Tempel, Kamis (25/6) malam.

Menurut Sri Purnomo, ketika dilakukan monitoring di beberapa pasar dijumpai mie basah  yang menggunakan bahan pengawet formalin, termasuk beberapa makanan yang lain.

“Kalau memilih makanan/jajanan jangan membeli yang warnanya menyolok/ngejreng, karena dikawatirkan menggunakan bahan pewarna rodhamin B maupun methanil yellow,” tutur Sri Purnomo.

Sementara  Camat Tempal Wildan Solichin menyampaikan bahwa safari tarling untuk tingkat kecamatan dilakukan delapan kali, disamping itu  di Kecamatan Tempel telah terbentuk LPTQ dengan kegiatan pembelajaran Qur’an untuk anak sekolah dan dewasa.

Sedang Ustadz Jadiya dalam tausiahnya menyampaikan bahwa orang yang beriman dan berpendidikan akan diangkat derajatnya. Disamping itu orang yang beriman tidak dapat dilihat dari luarnya, tetapi bisa diamati dari tingkat ibadah dan akhlaknya.

Pada kesempatan tersebut Bupati Sri Purnomo  juga menyerahkan bantuan total senilai Rp 12,7 juta  yang terdiri bantuan Pemda Rp 3,5 juta, BAZ Rp 3 juta, Kecamatan Tempel Rp 1,5 juta, Bank BPD DIY Cabang Sleman Rp 1,5 juta, Desa Tambakrejo Rp , dan infaq saat tarawih keliling sebesar Rp 1,99 juta, serta Mushaf Al’Quran, Iqro, Rukuh (dari Kemenag) dan diterima Ketua Takmir Masjid Baiturrahman, Sumarman BA.